Crime News

Sehari, 3 Motor Digasak Maling

News image

CILEGON - Kasus pencurian kendaraan bermotor atau Curanmor kembali marak ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 21 Juli 2017 | Klik: 509 | Komentar

Baca

Ayah Hamili Anak Kandung

News image

TANGSEL - Entah setan apa yang merasuki otak NS (44). ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 19 Juli 2017 | Klik: 631 | Komentar

Baca

Pulang Apel Dikeroyok, 1 Tewas

News image

SERANG – Sufroni (42), warga Kampung Kebon Kelapa, Rt.04/04, Desa ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 7 Juli 2017 | Klik: 497 | Komentar

Baca


RSUD Bantah Bedakan Pasien


LEBAK- RSUD Adjidarmo Rangkasbitung membantah telah membedakan pelayanan terhadap pasien peserta BPJS dan umum. Humas RSUD Adjidarmo Budi Ruswandi mengatakan, pelayanan yang diberikan kepada pasien BPJS maupun umum sudah mengikuti stadar operasional pelayanan (SOP) di RSUD Adjidarmo.

“Kami tidak pernah membedakan mana pasien BPJS, mana yang umum. Kita tidak pandang bulu dalam memberikan pelayanan,” kata Budi Ruswandi di ruang kerjanya, Senin (7/8).
Menurut Rudi, pelayanan rumah sakit mengikuti prosedur yang ada. Misalnya ketika pasien BPJS tiba di ruang instalasi gawat darurat (IGD), maka tidak langsung dipindah ke kamar perawatan sebelum ada hasil observasi dari tim medis.

“Minimal itu harus menunggu selama enam jam di ruang IGD. Setelah itu, tidak lantas bisa pindah jika ternyata ruangan khusus merawat pasien dengan penyakit tertentu sedang penuh, sehingga perlu waktu untuk menyiapkan kamar perawatan pasien dengan penyakit tertentu,” katanya.

Dikatakan Rudi Ruswandi, selain perlu mencari kamar khusus, pihaknya juga harus mendapatkan persetujuan dari pasien. “Kalau pasien BPJS itu kan sudah ditentukan kelas-kelasnya, jika sedang penuh tapi bersikukuh minta di kelasnya, maka itu tadi harus menunggu dulu sampai ada ruangan yang kosong.

Adapun pasien umum, setelah melewati waktu observasi selama enam jam, kemudian meminta kamar karena memang tidak dibatasi kelas, bisa kelas satu, dua, tiga dan VIP. Itu juga bisa dilakukan oleh pasien BPJS jika memang ingin segera mendapatkan kamar, tinggal dikomunikasikan saja minta pindah kelas,” katanya.

Rudi menegaskan, sebetulnya bila dilihat dari pelayanan lebih aman di ruang IGD. Di sana peralatan lengkap, kemudian dokternya juga selalu stand by (berjaga). “Jadi kita tidak bermaskud sengaja melamakan pasien di ruang IGD, tapi itu harus menunggu hasil diagnosa.

Apakah memang kondisi pasien ini sudah stabil, apakah masih gawat, apakah sudah masuk kategori aman. Jika sudah aman maka barulah dipindahkan ke ruang perawatan, tetapi jika ternyata masih gawat maka di IGD dulu. Kecuali pasien maupun keluarganya mau bertanggungjawab,” katanya.

Rudi menambahkan, penyebab lain pasien bisa lebih lama di ruang IGD dikarenakan ruang kamar perawatan jumlahnya terbatas. “Tidak seimbang antara jumlah ruang yang ada dengan jumlah pasien yang masuk ke IGD. Setiap hari membludak, jumlahnya mencapai lebih dari 50 orang, sedangkan tempat tidur yang ada di ruang IGD itu hanya 28 tempat tidur. Jadi sudah over kapasitas,” katanya.

Terkait adanya penawaran resep obat yang mesti ditebus, hal itu karena melihat hasil diagnosa dokter. "Dimana obat yang dibutuhkan untuk menyembuhkan penyakit secara kebetulan sedang tidak ada, dan lagi bukan termasuk jenis obat yang tercover dalam BPJS, maka dibuatkan resep.

Hal itu tidak dipaksa karena memang melihat kondisi penyakit pasien ada yang memang perlu obat ini, dan obat itu. Jika pasien menolak silakan enggak usah ditebus,” katanya. (purnama)