Crime News

Ayah Perkosa Anak Kandung Hingga Hamil

News image

SERANG - F (17), warga Kelurahan Karundang, Kecamatan Cipocok, Kota ...

Hukum & Kriminal | Sabtu, 17 Februari 2018 | Klik: 31 | Komentar

Baca

Pemilik Toko Alat Listrik Tewas Bersimbah Darah

News image

PANDEGLANG - Siti Aminah (30), tewas di rumahnya, di RT01/01, ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 14 Februari 2018 | Klik: 39 | Komentar

Baca

Bayi Perempuan Dibuang di Semak-Semak

News image

PANDEGLANG - Warga Kampung/Desa Sekong, Kecamatan Cimanuk digegerkan dengan penemuan ...

Hukum & Kriminal | Kamis, 8 Februari 2018 | Klik: 67 | Komentar

Baca


Petani Ngeluh Harga Karet Anjlok


LEBAK- Petani di Desa Mekarmanik, Kecamatan Bojongmanik mengeluhkan harga getah karet yang anjlok sampai 50 persen.

Semula harganya Rp 10 ribu menjadi Rp 5 ribu per kilogram (kg). Turunnya harga karet sudah terjadi sejak tahun 2015 hingga sekarang. "Kini penghasilan petani dari kebun karet merosot karena harganya anjlok. Dulu itu sekilonya Rp 10-15 ribu. Kalau sekarang cuma Rp 5 ribu," kata petani karet di Kecamatan Bojongmanik Sumarna, Rabu (13/9).

Menurunnya, harga karet menyebabkan petani banyak yang beralih profesi menjadi buruh angkut kayu. Upah per harinya Rp 50 ribu. "Meski capek, tapi karena butuh ya mau gimana lagi. Mau tidak mau capek juga dikerjain," katanya.

Sumarna mengatakan, sebagian besar petani beralih profesi karena hasil dari menjual getah karet sudah tidak bisa diandalkan lagi. Biasanya saat harga masih tinggi bisa mengantongi uang Rp 150 ribu. "Kalau sekarang paling juga Rp 50 ribu. Belum buat operasional, sehingga tidak sedikit warga akhirnya pada menebang pohon karet untuk dijual kayunya," katanya.

Sumarna menuturkan, turunnya harga jual getah karet sudah berlangsung dua tahunan. "Jika ke depan tidak ada kenaikan, maka tidak menutup kemungkinan petani akan menebang pohon karet yang ada. Lantaran dinilai sudah tidak menghasilkan," katanya.

Kepala Bidang Pengembangan dan Perkebunan pada Dinas Pertaninan dan Perkebunan Kabupaten Lebak Rully Yanrilla berharap, petani tidak menebang pohon karet karena bisa saja harganya nanti akan naik. "Kami juga sudah berupaya melaporkan keluhan petani dalam rapat dinas, tapi karena harga karet itu mengikuti harga dunia.

Jadi kalau memang harga dunia turun ya ikut turun. Kalau saya berharap bisa kembali naik, karena memang banyak petani mengeluh, dan sebagian kecilnya ada yang sudah menebang pohon," katanya. Rully menjelaskan, petani mengeluhkan harga karet karena perhitungan hasil menjual karet dengan biaya operasional, lebih besar operasional.

"Jadi tidak heran kalau banyak petani tidak lagi menyadap pohon karet karena harganya murah," katanya. (purnama)