Crime News

Ayah Perkosa Anak Kandung Hingga Hamil

News image

SERANG - F (17), warga Kelurahan Karundang, Kecamatan Cipocok, Kota ...

Hukum & Kriminal | Sabtu, 17 Februari 2018 | Klik: 83 | Komentar

Baca

Pemilik Toko Alat Listrik Tewas Bersimbah Darah

News image

PANDEGLANG - Siti Aminah (30), tewas di rumahnya, di RT01/01, ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 14 Februari 2018 | Klik: 60 | Komentar

Baca

Bayi Perempuan Dibuang di Semak-Semak

News image

PANDEGLANG - Warga Kampung/Desa Sekong, Kecamatan Cimanuk digegerkan dengan penemuan ...

Hukum & Kriminal | Kamis, 8 Februari 2018 | Klik: 86 | Komentar

Baca


PT Saedong Terancam Pidana


RANGKASBITUNG
- PT Saedong yang memproduksi sepatu di Desa Mekarsari, Kecamatan Citeras terancam sanksi pidana. Ancama itu terutama mengarah pada oknum Manajemen PT Saedong yang diduga telah melakukan penyekapan terhadap karyawan.

"Ancaman pidana mengarah kepada oknum manajemen PT Saedong. Diduga telah melakukan penyekapan, ancaman dan tindakan kekerasan secara fisik kepada karyawannya," kata Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kabupaten Lebak yang juga menjabat Wakil Ketua DPRD Lebak Yogi Rahmat usai mengunjungi kediaman mantan karyawan PT Saedong di Kampung Pasirmalang, Kecamatan Cibadak, Kamis (8/2).

Dijelaskan Yogi, oknum yang diduga telah melakukan tindakan penyekapan terhadap 14 orang ialah pengawas berinisial NI. Hal itu diungkapkan dari salah satu karyawan bernama Mala Fatmawati. "Selain disekap, Mala sempat dijambak sampai kerudungnya lepas.

Atasannya itu mengancam kalau saja tidak ada hukum mau dibunuh bahkan saat bekerja kursinya pernah di tendang. Tindakan begitu tidak boleh dilakukan oleh perusahaan manapun. Aparat harus segera menyelidiki sampai tuntas," jelasnya.

Selain mendapatkan tindakan kekerasan, tambah Yogi, proses rekrutmen karyawan juga menggunakan uang sebesar Rp 2,5 juta. "Uang diserahkan saat masuk kerja kepada supervisor atas nama FI. Bahkan para karyawan juga diwajibkan beli baju seragam seharga Rp 95 ribu, terus batik Rp 85 ribu dan kaos Rp 100 ribu dan jika tak beli diancam diberhentikan," tambahnya.

Yogi mengaku prihatin dan menyesalkan jika benar oknum manajemen karyawan melakukan tindakan sewenang-wenang. Tindakan dilakukan oleh oknum manajamen tidak diketahui oleh pimpinannya. "Setahu saya PT Saedong itu, pimpinannya orang Korea. Biasanya tertib tidak begitu. SPSI mendukung Mala melaporkan kepada pihak kepolisian dan saya akan kawal serta siapkan pengacara," akunya.

Mantan Karyawan PT Saedong, Mala Fatmawati menuturkan, aksi penyekapan dilakukan pada 17 Oktober 2017 lalu. "Waktu itu sekitar jam 08.00 WIB, kami sebanyak 14 orang digiring supaya masuk ke toilet. Di dalam toilet kami berdiri selama 3 jam," tuturnya.

Selama didalam toilet, tambah Mala, udara terasa sesak karena berdesakan. "Sebelum masuk, saya sempet dijambak sama pengawas (NI), sambil ngancem kalau tak ada hukum kamu saya matiin. Silahkan adukan ke polisi, LSM saya tidak takut," tambah Mala menirukan ucapan NI.

Mala menegaskan, perlakuan atasan membuat dirinya tidak sanggup melanjutkan pekerjaan. Apalagi setelah video penyekapan di toilet beredar dalam internet beberapa waktu lalu. "Saya memutuskan pada hari Selasa kemarin untuk berhenti bekerja, lantaran sudah tak sanggup lagi," tegasnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Lebak, Maman mengatakan, pihaknya telah melakukan pengecekan ke PT Saedong. "Menurut keterangan Manager PT Saedong (Fauzan-red) bahwa para karyawan dikunci dalam toilet karena jumlah karyawan overload. Kebetulan ada pemeriksaan dari pemesan produk, jadi dikesampingkan dulu takutnya membebani order," katanya. (purnama)