Crime News

Sehari, 3 Motor Digasak Maling

News image

CILEGON - Kasus pencurian kendaraan bermotor atau Curanmor kembali marak ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 21 Juli 2017 | Klik: 370 | Komentar

Baca

Ayah Hamili Anak Kandung

News image

TANGSEL - Entah setan apa yang merasuki otak NS (44). ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 19 Juli 2017 | Klik: 471 | Komentar

Baca

Pulang Apel Dikeroyok, 1 Tewas

News image

SERANG – Sufroni (42), warga Kampung Kebon Kelapa, Rt.04/04, Desa ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 7 Juli 2017 | Klik: 376 | Komentar

Baca


Pandeglang Dikategorikan Rawan Paham Radikal


PANDEGLANG – Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Mabes Polri) menggelar sosialisasi paham anti radikalisme di Aula Polres Pandelang, Rabu (2/8). Kegiatan ini dihadiri kapolres dan jajarannya, Ketua MU Pandeglang KH Hamdi Ma’ani, dan sejumlah tokoh lintas sektoral.

Divisi Humas Polri Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono dalam paparannya mengatakan, ada tiga provinsi yang menjadi tempat berkumpulnya kelompok kecil terorisme yakni Jawa Barat, Jawa Tengah dan Banten. “Kalau rawan (teroris-red) sekali sih tidak, karena pergerakan teroris ini berpindah-pindah dari Jawa Barat ke Jawa Tengah dan Banten,” kata Sulistyo ditemui usai sosialisasi.

Sulistyo menyatakan, fakta yang terjadi dilapangan jajarannya sering kali melakukan penangkapan terhadap terduga terorisme di Banten. Katanya, penangkapan itu menjadi perhatian serius Mabes Polri untuk melakukan pencegahan. “Memang kita beberapa kali melakukan penangkapan-penangkapan disini (Pandeglang). Jadi harus menjadi perhatian khusus. Makanya di seluruh Jawa kita lakukan upaya-upaya tentang safari kegiatan anti radikalisme,” terangnya.

Untuk menghindari gerakan radikalisme ini, Sulistyo mengharapkan masyarakat agar lebih aktif melakukan pendataan semua warga dilingkungannya masing-masing. “Basis sosial Desa, RT dan RW juga harus diperkuat untuk memahami, mengerti dan mengetahui semua keluarga yang ada dilingkungannya dengan cara mengaktifkan instrumen yang ada untuk melakukan upaya pencegahan dan deteksi dini paham radikalisme,” ujarnya.

Kapolres Pandeglang AKBP Ary Satriyan menuturkan, waktu dulu wilayah hukum Pandeglang memang pernah dijadikan tempat berkumpulnya teroris. Ia mencontohkan, pada tahun 2000 lalu di Kecamatan Cisata dan Saketi pernah dijadikan tempat pelatihan teroris dan napi-napi teroris yang ditangkap oleh Densus 88 juga ternyata warga Pandeglang. “Agar tidak terulang harus dideteksi sejak dini agar masyarakat terhindar dari paham-paham radikalisme,” tuturnya.

Kapolres juga menghimbau agar meningkatkan kewaspadaan, pengamanan, dan sosialisasi. “Sesuai arahan pimpinan, kami memfungsikan intelijen dan menggiatkan semua Bhabinkamtibmas melakukan kunjungan ke semua desa memberikan pemahaman kepada warga agar tidak terpengaruh paham radikal,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pandeglang KH Hamdi Ma'ani mengatakan, agar paham radikalisme tidak berkembang ulama mengajak masyarakat untuk mengaktifkan pengajian rutin dilingkungannya masing-masing. “Setiap bulan sekali juga kami selalu melakukan pengajian di setiap kecamatan. Intinya pemahaman agama harus ditingkatkan. Apalagi MUI mintranya pemerintah, kalau ulama dengan umaroh tidak sejalan maka umat akan rusak dan hancur,” tandasnya. (yanadi)

Suasana acara sosialisasi paham anti radikalisme di aula Mapolres Pandeglang, Rabu (2/8).