Pasien RSU Berkah Numpuk

PANDEGLANG – Pasien Rumah Sakit Umum (RSU) Berkah Pandeglang terpaksa harus antre demi menunggu giliran. Pihak rumsah sakit beralasan antrean itu terjadi lantaran jumlah tenaga dokter masih sangat minim dan jumlah pasien mengalami peningkatan.

Pantauan Banten Raya, Senin (2/10), antrean terjadi hampir di semua poli, mulai dari poli saraf, anak, bedah umum, ortopedi bedah, jantung, paru, dan syaraf. Salah seorang keluarga pasien, Juden mengeluhkan terjadinya penumpukan tersebut, sehingga membuat pelayanan rumah sakit kurang maksimal.

“Saya datang ke sini (RSU) jam 07.30 pagi, mau berobat ibu ke bagian syaraf, tapi karena antrean pasien cukup banyak, harus nunggu giliran. Saya berharap sih bisa dibenahi lagi, agar pasien lebih enak, tidak seperti sekarang ini numpuk,” kata Juden, saat ditemui tengah antre di RSU Berkah, kemarin.

Direktur RSU Berkah Pandeglang Firmansyah membenarkan, terjadinya penumpukan pasien tersebut akibat rumah sakit kekurangan dokter serta adanya peningkatan pasien. “Kami butuh dokter karena untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) baru ada 25 orang, apalagi pasien yang rawat jalan maupun inap adanya peningkatan, tetapi kami terus berupaya supaya adanya penambahan, salah satunya dokter spesialis paru, jiwa dan lainnya,” katanya.

Kurangannya tenaga dokter juga diakui menjadi kendala dalam memberikan pelayanan kesehatan yang optimal karena ada beberapa dokter harus membagi waktu memberi pelayanan di rumah sakit lain yang tidak memiliki tenaga kesehatan.

“Kita tidak bisa memaksakan kehendak, seperti dokter jantung yang dulu saja, karena adanya pemberitaan mengundurkan diri, namun kalau ada dokter yang memang ingin jadi PNS kami lakukan,” ujarnya.
Saat ditanya kenapa pasien di beberapa poliklinik sering terjadinya penumpukan, Firmansyah beralasan penumpukan tersebut akibat adanya dokter yang memiliki jadwal siang.

“Itu rata-rata dokter tamu, ada yang datang pukul 10 hingga 13.00. Kami tidak bisa menentukan jadwal, ketersedian mereka bisanya hari apa dan jam berapa, bukan kita yang menetukan harus pagi. Kita kan yang butuh, tergantung kesiapannya,” terangnya. (yanadi)