Crime News

Sehari, 3 Motor Digasak Maling

News image

CILEGON - Kasus pencurian kendaraan bermotor atau Curanmor kembali marak ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 21 Juli 2017 | Klik: 507 | Komentar

Baca

Ayah Hamili Anak Kandung

News image

TANGSEL - Entah setan apa yang merasuki otak NS (44). ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 19 Juli 2017 | Klik: 629 | Komentar

Baca

Pulang Apel Dikeroyok, 1 Tewas

News image

SERANG – Sufroni (42), warga Kampung Kebon Kelapa, Rt.04/04, Desa ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 7 Juli 2017 | Klik: 496 | Komentar

Baca


Mengenal Lebih Dekat Sarjudin, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang Tak Punya Beras, Sahur Makan Pepaya Mentah


Wajahnya cenderung dingin. Bila berkata langsung to the point ke pokok masalah. Siapa sangka, sosoknya begitu ramah dan humoris. Dialah Sarjudin, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang.

Ditemui di ruang kerjanya, pekan lalu, Sarjudin sedang sibuk mengurus sejumlah berkas. Ia juga beberapa kali harus bolak-balik ruangan untuk mempersiapkan rapat dinas. "Sori ya lama," kata Sarjudin menghampiri Banten Raya.

Sarjudin lahir 5 April tahun 1962 di Padang Guci, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Ia asli orang kampung. Rumah tempat tinggalnya diapit gunung. Sebelah kiri gunung, kanan gunung, depan gunung, belakang gunung. "Saya lahir di kebon," katanya sambil terkekeh.

Sejak kecil, Sarjudin sudah dibentuk menjadi sosok yang gigih. Selepas SD dan SMP di Bengkulu, ia merantau untuk melanjutkan pendidikan ke Tanjung Karang, Provinsi Lampung. "Dulu orang kampung mau sekolah gak punya duit. Makanya saya ikut paman saya yang tentara di Lampung," katanya.

Karena keterbatasan yang dimiliki keluarganya, Sarjudin harus menghidupi dirinya sendiri. Ia tak malu ikut menjadi kuli bangunan, atau menjadi penggali sumur, atau menjadi buruh pemetik kopi di kebun kopi di Lampung. "Apa saja saya lakukan dulu. Lampung kan dulu terkenal dengan kopi. Kalau libur sekolah saya jadi kuli kopi. Balik dapat duit buat bayar uang sekolah," tutur mantan Kabid SMP ini.

Selepas SMA, Sarjudin melanjutkan pendidikannya ke IKIP Bandung untuk program diploma Matematika. Meski kuliahnya berasal dari beasiswa yang dibiayai negara, di Bandung ia tetap harus bekerja membiayai kehidupannya sehari-hari. Berbagai pekerjaan kasar pun ia lakukan.

Sama seperti di Lampung, ia menjadi kuli bangunan, gali sumur, pasang bata rumah, dan berbagai pekerjaan kasar lainnya. "Saya kuliah sore. Jadi setengah hari kuli. Yang penting bisa makan," ujarnya.
Dengan kerasnya hidup seperti itu, Sarjudin mampu bertahan.

Ia menyelesaikan kuliahnya di tahun 1982 dalam 2,5 tahun. Di tahun 1983, karena IKIP saat itu memiliki program ikatan dinas, Sarjudin ditempatkan menjadi guru di SMP Ciruas. Di awal-awal bekerja, ia belum mendapatkan gaji. Maka ketika kembali merantau ke Ciruas, Sarjudin sebatang kara.

Tak ada uang, tak ada saudara. Ia pun tinggal di sekolah. Pernah ketika Ramadan, ia tak punya makanan sama sekali untuk sahur. Terpaksa ia mengambil buah pepaya yang masih mentah di sekitar halaman sekolah, lalu dimakannya. "Kadang dua hari saya gak makan nasi," ujarnya.

Beberapa bulan bertugas di Ciruas, ia kemudian dimutasi menjadi guru di Kecamatan Kragilan sampai tahun 91. Dari sana ia menjadi Kepala SMP 1 Binuang sampai tahun 2005. Di tahun 1997, ia merampungkan kuliah S1 nya. S2nya selesai di tahun 2005. Setelah itu, ia dipindah kembali ke SMP 5 Kota Serang sampai 2006. Lalu ke SMP 7 Kota Serang.

Di tahun 2008, ia ditarik ke struktural menjadi Kepala Seksi Kesiswaan SMP Pemkot Serang. Tahun 2009, ia ditarik oleh Pemkab Serang menjadi Kabid SMP sampai tahun 2013. Setelah itu ia menjadi Sekretaris Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga beberapa bulan.

Pindah kembali menjadi Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Dan di 2016, ia menjadi Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sampai saat ini.  Berpuluh tahun menjadi guru, Sarjudin banyak mendapatkan pengalaman berkesan. "Kalau di guru, kita berhadapan dengan makhluk hidup.

Menyenangkan buat saya. Kalau di struktural kan kita berhadapan dengan benda mati. Kalau sama murid, bisa becanda. Jadi awet muda terus," katanya.  Ia paling bahagia jika melihat murid-murid yang pernah diajarnya berhasil. "Banyak yang sudah jadi orang murid saya.

Di DPRD itu banyak yang murid saya. Ada anggota DPRD Provinsi Banten Pak Sopwan, Pak Heri Handoko. Itu jadi kebanggaan. Banyak juga yang sudah jadi pegawai negeri. Kayaknya kalau saya nyalon dewan, tinggal calling murid-murid saja," katanya terkekeh.

Sarjudin dikaruniai dua orang anak dari pernikahan dengan isteri tercintanya Hj Edah Julaedah. Pertama adalah Rinaldi Rizky Firdaus yang baru saja lulus Universitas Indonesia jurusan hukum, dan yang kedua adalah Novia Rigita Amalia, masih Semester enam Universitas Pelita Harapan.

"Saya bebaskan anak-anak maunya jadi apa. Dulu anak saya yang gede badannya tinggi mau saya arahkan ke Akademi Kepolisian gak mau. STPDN gak mau. Akhirnya dia daftar sendiri ke UI dan UGM. Keterima semua dua-duanya," katanya.(Fikri).