Pesan Kebhinekaan dari Perayaan Nyepi

nurul roudhoh   |   Hiburan  |   Senin, 19 Maret 2018 - 13:42:04 WIB   |  dibaca: 180 kali
Pesan Kebhinekaan dari Perayaan Nyepi

MENARI : Umat Hindu Banten menari dengan latar belakang Ogoh-Ogoh menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1940 yang berlangsung di Pura Eka Wira Anantha, Group 1 Kopasus, Kota Serang, Jumat (16/3).

SERANG - Umat Hindu yang berasal dari 6 banjar di Banten menggelar upacara Tawur Kesanga dan pawai ogoh-ogoh di Taman Grup 1 Kopassus, Kota Serang, Jumat (16/3). Selain menjalankan ritual keagamaan, kegiatan tersebut juga digelar sebagai bentuk kebhinekaan.


Pantauan Banten Raya, sebelum mengarak ogoh-ogoh, terlebih dahulu dilakukan upacara Tawur Kesanga jelang Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1940.Selain umat Hindu, upacara itu juga diikuti oleh umat Sunda Wiwitan sebagai salah satu aliran kepercayaan di Banten. Hal itu juga dilakukan sebagai bentuk toleransi keberagaman.


Selain Sunda Wiwitan, hadir juga dari Paguyuban Majapahit. Paguyuban ini hadir membawa gunungan hasil alam yang akan dikirab bersama ogoh-ogoh.Pawai ogoh-ogoh sendiri digelar sekitar pukul 13.00 WIB. Ogoh-ogoh yang diarak datang dari Banjar Serang, Tangerang, Ciledug, Rempoa, Tigaraksa dan Banjar BSD Tangerang Selatan.


Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Banten Ida Bagus Alit Wiratmaja mengatakan, upacara Tawur Kesanga dan pawai ogoh-ogoh adalah ritual yang selalu dilakukan umat Hindu jelang Hari Raya Nyepi. Ritual tersebut memiliki filosofi kehidupan sehingga memiliki nilai positif untuk dijalankan.


"Sedekah bumi dalam upacara Tawur Kesanga merupakan ritual untuk menggambarkan rasa syukur umat terhadap limpahan rezeki bumi. Selain itu, agar rezeki tersebut tetap ada di tahun-tahun selanjutnya," ujarnya.


Ia menuturkan, sementara untuk ogoh-ogoh merupakan simbol umat Hindu dalam bentuk pembasmian kejahatan. Ogoh-ogoh sebagai simbol buta kala atau pikiran jahat yang digambarkan sebagai boneka besar.


Seperti tahun lalu, ogoh-ogoh hanya diarak dan tidak dibakar. Diarak menandakan bahwa manusia tak senang dengan pikiran jahat dan kemudian diubah menjadi pikiran baik.
"Pawai ogoh-ogoh ini adalah salah satu kreativitas baru yang dimulai tahun 1970an. Awalnya ada ogoh-ogoh berkaitan dengan agama Hindu adalah dalam bentuk membasmi kejahatan," katanya.


Diakuinya, sejak awal sebenarnya PHDI ingin menggelar pawai ogoh-ogoh di Alun-alun Kota Serang dengan format kirab kebudayaan. Dalam kesempatan itu, pihaknya akan mengikut sertakan budaya lain dalam kegiatan pawai. Meski demikian, Ida tak menjelaskan mengapa rencana itu batal dilaksanakan.


"Kami memang mencoba untuk membicarakan dengan dinas pariwisata. Kalau tiap tahun bukan hanya ogoh-ogoh tapi pawai budaya karena ada kebhinekaan di sana," paparnya.
Ketua Panitia upacara Tawur Kesanga dan pawai ogoh-ogoh I Wayan Hadi Sutmajaya menjelaskan, kegiatan yang digelar kemarin adalah puncak acara jelang perayaan Nyepi. Sebelumnya, terdapat beberapa rangkaian acara yang digelar seperti kegiatan bakti sosial (baksos).


"Pengobatan massal dilakukan pada 25 Februari dengan jumlah peserta 300 orang. Baksos dengan berbagi sembako dilakukan di Salira (Kabupaten Serang) pada 3 Maret, 4 Maret di Tangerang dan 10 Maret di Tanjung Pasir (Kabupaten Tangerang)," ungkapnya.


Sementara itu, perwakilan umat Sunda Wiwitan Jaro Engkos Kosasih mengatakan, meskipun upacara Tawur Kesanga adalah ritual umat Hindu, namun menurutnya memiliki tujuan sama dengan yang ada di kepercayaannya. Karena ada di tanah Sunda, maka perwakilan dari Sunda Wiwitan juga datang dalam ritual.


"Ada ciri sabumi sadesa (satu bumi satu daerah) yang harus kita lakukan. Bahwa kita satu, bahwa kita ini Pancasila. jadi tidak ada perbedaan antar kami. Kita bersembahyang, tujuan kita sama," tegasnya. (dewa)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook