Satu Pelajar Tewas Ditusuk

nurul roudhoh   |   Hukum  |   Senin, 19 Maret 2018 - 13:55:40 WIB   |  dibaca: 793 kali
Satu Pelajar Tewas Ditusuk

SERANG - Riskiadi Kusuma (16), pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Yayasan Kejuruan Teknologi Baru (YKTB) 3 Bogor tewas mengenaskan usai diserang kelompok misterius di Jalan Kemang, Panancangan, Cipocokjaya, Kota Serang, Sabtu (17/3) malam.


Kapolres Serang Kota AKBP Komarudin mengatakan, puluhan pelajar SMK YKTB 3 Bogor tersebut, baru saja pulang berlibur di Pantai Anyer, Kabupaten Serang dengan berjalan kaki. Setibanya di lokasi kejadian, tiba-tiba mereka diserang sekelompok orang yang belum diketahui identitasnya.


"Mereka usai UTS (ujian tengah semester), kemudian berlibur ke Anyer dengan menggunakan kereta api. Pulangnya mereka berjalan kaki dari Cilegon ke arah Serang. Dari informasi yang kita terima mereka diserang sekelompok orang yang menggunakan motor dan bersenjata tajam," katanya kepada Banten Raya, kemarin.


Saat polisi tiba di lokasi kejadian, kelompok massa penyerang sudah membubarkan diri sehingga polisi masih belum bisa mengidentifikasi. Pihaknya menemukan Riskiadi sudah terluka parah berupa tusukan benda tajam di bagian perut dan paha. Sekitar pukul 22.55 korban dinyatakan meninggal dunia oleh petugas medis di rumah sakit Sari Asih Serang. "Kejadiannya malam hari, jadi kita belum tau pelakunya siapa, dan masih kita dalami kelompok mana yang menyerang mereka (pelajar Bogor-red). Dari Sari Asih, korban di evakuasi ke RSUD Serang," ujarnya.


Komarudin menjelaskan, pasca kejadian itu, Polres Serang Kota hingga tadi malam masih menahan 46 pelajar asal Bogor yang juga teman korban. Rencananya, puluhan pelajar itu akan dipulangkan setelah orangtua dan pihak sekolah menjemputnya. "Untuk puluhan pelajar ini masih di Polres menunggu pihak sekolah menjemputnya. Kita juga sudah mendata nama-nama mereka," jelasnya.


Adapun jenazah Riskiadi Kusuma saat ini masih berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Dradjat Prawiranegara. "Korban masih berada di RSUD, belum dijemput keluarga," ungkapnya.


Dengan adanya kejadian itu, Kapolres menghimbau kepada pihak sekolah maupun guru untuk lebih meningkatkan pengawasan terhadap pelajar terutama saat bubaran sekolah. Jangan sampai ada pelajar yang nongkrong masih menggunakan seragam sekolah. "Itu bisa memicu terjadinya tawuran," himbaunya.


AR, teman Riskiadi Kusuma menuturkan bahwa pada Jumat (16/3) lalu, dia dan teman-temannya pergi ke Pantai Anyer dengan menggunakan kereta api hingga stasiun Rangkasbitung. Dari sana, mereka menggunakan angkot ke tempat tujuan. Setelah menginap, pada Sabtu (17/3) sore, mereka pulang dengan berjalan kaki dan menumpang kendaraan. “Kita abis liburan, dan kehabisan ongkos makanya kita jalan kaki. Pas di Serang kita menunggu bus tujuan Bogor, tiba-tiba ada yang nyerang kita pakai senjata. Pelakunya adanya jalan kaki ada juga yang yang bawa motor," katanya.


Terpisah, tim alap-alap Satpol PP Kota Tangerang mengamankan enam belas pelajar asal Kabupaten Tangerang yang diduga akan melakukan tawuran, Sabtu (17/3). Dari tangan mereka, petugas menyita senjata tajam (sajam), tongkat yang dilengkapi paku, dan 4 sabuk dengan kepala dari gir motor.


Kepala Bidang Ketertiban Umum pada Satpol PP Kota Tangerang Gufron Falfeli mengungkapkan, hal tersebut bermula saat pihaknya melakukan monitoring di wilayah seputaran Taman Gajah Tunggal dan menemukan belasan pelajar yang dicurigai akan melakukan aksi tawuran. "Benar saja saat anggota kami menghampiri mereka semua kabur dan untungnya anggota kami yang sedang melakukan patroli dapat mengamankan enam belas pelajar yang keseluruhannya berasal dari Kabupaten Tangerang," terang Gufron kepada wartawan.


Dari hasil penangkapan tersebut, ia mengaku berhasil mengamankan 4 buah ikat pinggang yang kepalanya sudah diganti dengan gir motor, satu bilah senajata tajam dan tongkat pemukul yang sudah dimodifikasi dengan dipasangi paku."Dari tangan mereka ditemukan beberapa senjata yang diduga akan digunakan untuk tawuran dan senjata senjata ini cukup berbahaya," jelasnya.


Ia mengaku, pihaknya akan terus meminimalisir angka kenakalan remaja, terutama aksi tawuran di Kota Tangerang."Disamping memberikan kenyamanan kepada masyarakat Kota Tangerang, kita juga akan terus menekan angka tawuran di Kota Tangerang," ucapnya.


Ia melanjutkan, keenam belas pelajar yang berhasil diamankan tersebut sebelum dikembalikan kepada orangtuanya telah diberikan pembinaan yang melibatkan Kodim 05/06 dan Polres Metro Tangerang Kota."Kita telah panggil orangtuanya dan kita buatkan perjanjian tertulis, tapi sambil menunggu orangtuanya menjemput kita telah memberikan pembinaan kepada seluruh pelajar yang berhasil diamankan tersebut," tukasnya.


Ia berharap, dengan pembinaan tersebut para pelajar yang berhasil diamankan dapat menghindari aksi tawuran, terutama di wilayah Kota Tangerang."Kita kepingin Kota Tangerang dapat steril dari aksi tawuran, namun tentunya kita tidak bisa bekerja sendiri dibutuhkan semua pihak dalam menciptakan itu semua," pungkasnya.


Sementara itu, SBW, salah seorang orangtua GS, salah satu siswa SMPN 1 Mauk Kabupaten Tangerang tidak dapat menyembunyikan kesedihannya saat mengetahui putranya terjaring.  SBW yang kecewa atas tingkah putranya tersebut sempat meluapkan emosinya dengan sesekali mencoba menampar sang buah hatinya tersebut, namun aksinya tersebut dapat digagalkan petugas yang terus menenangkan lelaki paruh baya tersebut. "Lu mau jadi apa bebawa pedang itu, gua capek cari biaya buat lu sekolah, malah kelakuan lu kayak begini," kata SBW dengan dialek Betawi yang kental.


Ia mengaku kaget pascatertangkap anaknya itu. Pasalnya, tidak ada yang aneh dengan keseharian putranya. "Anaknya nurut sebenarnya pak, di rumah juga rajin ibadah, kenapa dia ikut-ikut tawuran kayak gini," tuturnya. (darjat/marjuki)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook