CEO Cilegon United Cabut BAP

nurul roudhoh   |   Hukum  |   Kamis, 22 Maret 2018 - 11:35:41 WIB   |  dibaca: 316 kali
CEO Cilegon United Cabut BAP

MENYIMAK : Terdakwa kasus suap proyek Transmart Walikota Cilegon Nonaktif Iman Ariyadi (tengah) saat menjalani sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi, di Pengadilan Tipikor Serang, Kota Serang, Rabu (21/3).

SERANG - Chief Executive Officer (CEO) Cilegon United Yudhi Apriyanto dan bendaharanya Wahyu Ida Utama mencabut berita acara pemeriksaan (BAP) yang berkaitan dengan penyerahan uang untuk Walikota Cilegon Tubagus Iman Ariyadi. Keduanya mencabut keterangan atas kalimat telah menyerahkan uang kepada Iman, dan menggantinya dengan kata telah melaporkan. Yudhi bahkan menyebut ia mendapatkan intimidasi dari penyidik KPK saat pemeriksaan.


Hal itu terungkap saat sidang lanjutan dugaan kasus suap izin Transmart Cilegon dengan terdakwa Walikota Cilegon nonaktif Tubagus Iman Ariyadi, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Cilegon Akhmad Dita Prawira dan Direktur PT Jayatama Primayasa Hendri, di Pengadilan Tipikor Serang, Rabu (21/3).


Majelis hakim yang dipimpin Epiyanto kemudian menghadirkan salah seorang penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RA Gusmadiningrat dalam sidang untuk mengkonfrontasi pengakuan Yudhi dan Wahyu. Selain itu, majelis hakim juga menayangkan tiga dari tujuh rekaman pemeriksaan.


RA Gusmadiningrat membantah pihaknya melakukan tekanan psikologis terhadap para saksi. Pihaknya, kata Gusmadiningrat  sudah melakukan tugas sesuai dengan prosedur. "Saya menyampaikan pasal 21 dan 22 (Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi) itu upaya kami agar saksi mengetahui dan harus memberikan keterangan yang sejujur-jujurnya (bukan intimidasi)," katanya kepada majelis hakim.


Majelis hakim kemudian memutar rekaman pemeriksaan. Dalam tayangan CCTV terlihat penyidik KPK tengah melakukan pemeriksaan terhadap Wahyu dan Yudhi secara terpisah di sebuah ruangan yang diperkirakan berukuran 3 x 3 meter. Sayang suara percakapan keduanya terdengar cukup samar oleh tamu yang hadir dalam persidangan tersebut.

 
Ketua Majelis Hakim Epiyanto berpendapat bahwa BAP di tingkat penyidikan pada hakekatnya hanya merupakan pedoman untuk memeriksa dan mengadili suatu perkara.
"Jika keberatan dan tetap menarik di persilakan. Dalam rekaman menit 28, 29 dan 30 saudara mengiyakan (menyerahkan uang ke Iman)," kata Epi kepada Wahyu.


Sementara itu, Wahyu mengaku saat memberikan keterangan kepada penyidik KPK beberapa waktu lalu, dalam kondisi tertekan. Sehingga dirinya membenarkan apa saja yang ditanyakan oleh penyidik KPK tersebut.


"Saya ngomongnya melaporkan bukan menyerahkan (uang ke walikota Cilegon). Jadi sudah sore dan saya pengen pulang jadi saya ngomong iya, iya saja. Saya sudah pusing karena ngurusin tim, saya bolak-balik dipanggil KPK, jadi psikologis saya terganggu," katanya kepada majelis hakim.


Yudhi juga mengaku merasa tertekan saat dilakukan pemeriksaan oleh penyidik KPK. Ia mengaku penyidik mendesak dirinya untuk mengakui jika uang sponsorship untuk Cilegon United diberikan kepada Walikota Cilegon. "Saya setelah OTT dan dibawa ke KPK posisi saya sangat tertekan. Saat diperiksa penyidik saya ditekan. Saat itu saya bilang silahkan saja dicatat seperti itu (uang untuk walikota, red) tapi nanti akan saya jelaskan di pengadilan, karena itu tidak sesuai dengan hati," katanya


Selain tertekan, Yudhi mengaku mendapatkan intimidasi dari penyidik KPK untuk mengakui semua tuduhan yang dilakukan oleh penyidik KPK. "Penyidik mendesak saya udah kamu ngaku saja, saya bilang ngaku bagaimana. Sudah terserah mau ditulis seperti itu nanti saya akan jelaskan di persidangan, karena itu tidak sesuai dengan hati nurani saya," katanya. (darjat)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook