Sehari Cuma Baca Buku 30-59 Menit

nurul roudhoh   |   Pendidikan  |   Selasa, 27 Maret 2018 - 11:50:28 WIB   |  dibaca: 304 kali
Sehari Cuma Baca Buku 30-59 Menit

PERPUSTAKAAN DIGITAL : Wapers RI Jusuf Kalla melihat koleksi buku Perpustakaan Nasional usai membuka Rapat Koordinasi Nasional Bidang Perpustakaan dan Peluncuran Perpustakaan Digital Wapres di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Senin (26/3).

JAKARTA – Minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Dari penelitian Perpustakaan Nasional Indonesia, dalam sehari rata-rata orang membaca buku kurang dari sejam. Dalam setahun hanya menyelesaikan lima hingga sembilan buku.


Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani menuturkan, berdasarkan penelitian Perpustakaan Nasional pada 2017 itu, frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata hanya tiga hingga empat kali per minggu. Mereka membaca buku per hari rata-rata cuma 30-59 menit.


”Data ini menunjukkan bahwa minat baca masyarakat harus ditingkatkan. Salah satunya dengan memfasilitasi kebutuhan buku masyarakat,” ujar Puan dalam pembukaan rapat koordinasi nasional bidang perpustakaan di gedung Perpustakaan Nasional kemarin (26/3) yang juga dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ketua DPD Oesman Sapta Odang.


Data yang dirilis Perpusnas menunjukkan tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia hanya 36,48 atau tergolong rendah. Sesuai dengan pemeringkatan Programme for International Student Assessment (PISA) yang dilakukan tiap tiga tahun sekali oleh OECD (Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi), Indonesia menempati peringkat 69 dari 76 negara. Penelitian itu dilakukan pada siswa usia 15 tahun pada 2015 lalu. Dari penelitian tersebut skor membaca siswa juga dibawah rata-rata.


Lebih lanjut, Puan menuturkan megahnya gedung perpustakaan nasional setinggi 24 lantai, dengan koleksi 3,6 juta buku, mestinya ramai pula oleh pengunjung yang membaca buku atau koleksi lain. Dia menyarankan perlunya dibuat program-program yang menarik untuk masyarakat.”Tak bisa hanya dipaksakan membaca, membaca, membaca, namun tanpa kita memberikan fasilitasnya untuk buku-buku tersebut,” ungkap dia.


Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menuturkan, untuk meningkatkan minat baca, bisa dengan berbagai cara. Misalnya dengan mobil perpustakaan keliling, membuat perpustakaan di tempat-tempat ramai seperti mal, dan mempermudah untuk peminjaman buku dengan bantuan jasa ojek online.”Dapat juga soal waktu, kalau hari kerja orang susah. Perpustakaan di kampus luar negeri buka sampai malam pukul 22.00,” kata JK menyarankan.


Di sela-sela pembukaan rapat koordinasi bidang perpustakaan itu turut diresmikan pula perpustakaan digital wakil presiden. Ada pemutaran video berjudul Jusuf Kalla Juru Damai yang berisi wawancara tokoh-tokoh yang terlibat dalam perundingan perdamaian di Aceh, Poso, dan Ambon. Mulai dari ketua tim perundingan Indonesia dengan GAM Hamid Awaluddin hingga Sofjan Djalil.


JK menuturkan, satu hal yang jarang diketahui banyak orang, sebelum berperan dalam perundingan perdamaian itu, dia mencari semua buku yang berkaitan dengan daerah tersebut. Dia meminjam buku ke Perpustakaan Nasional mulai dari sejarah lama hingga karya sastra.


”Saya selalu katakan, berikan saya waktu dua minggu untuk selesaikan semua. Jangan ganggu saya karena saya ingin membaca semua detail apa yang terjadi sebenarnya,” kata dia.
Dari hasil membaca buku-buku itu, dia menilai bahwa persoalan dasar konflik itu bukan agama semata. Tapi, yang lebih menjadi persoalan adalah keadilan politik dan ekonomi.
”Poso-Ambon soal keadilan politik, Aceh keadilan ekonomi,” ungkapnya. (jun/ttg)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook