Equipoise KTI Jaga Ketersediaan Air

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Rabu, 28 Maret 2018 - 12:16:50 WIB   |  dibaca: 365 kali
Equipoise KTI Jaga Ketersediaan Air

SEMINAR : Suasana diskusi panel membahas sumber daya air dalam Seminar Nasional yang digelar PT KTI, Selasa (27/3).

CILEGON - Secanggih apapun instalasi air dan investasi yang dimiliki PT Krakatau Tirta Industri (KTI) sebagai perusahaan pengelola air industri, tidak akan ada gunanya apabila sumber air baku yang dimanfaatkan sudah tidak lagi memadai. Demikian disampaikan Direktur Utama (Dirut) PT KTI, Agus Nizar Vidiansyah pada seminar nasional lingkungan hidup dan sumber daya air dalam rangka peringatan hari jadi PT KTI ke-22 dan hari air sedunia 2018 di Convention Hall Hotel The Royale Krakatau Cilegon, Selasa (27/3).


"Instalasi pengelolaan air yang dimiliki KTI secara total nantinya berkapasitas sekitar 3.200 liter perdetik yang terdiri dari 3 x 600 liter perdetik yang dimiliki saat ini, 1 x 600 liter perdetik di Cipasauran, dan 3 x 300 liter perdetik direncanakan dibangun dua tahun yang akan datang di Nadra Krenceng. Semuanya tidak akan berguna bila tidak ada sumber air baku yang cukup," kata pria yang akrab disapa Vidi ini, kemarin.


Untuk itu, lanjut Vidi, pihaknya bersama para stakeholder dan masyarakat berusaha secara konsen untuk senantiasa menjaga ketersediaan air baku dengan melakukan berbagai perawatan dan pemeliharaan kelestarian lingkungan di sekitar sumber air baku di wilayah daerah aliran sungai (DAS) Cidanau dan Cipasauran.

"Kami akan selalu meneguhkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan hidup sebagai sumber daya alam yang harus dirawat bersama-sama. Saat ini KTI menerapkan budaya equipoise yang jika disepadankan sama maknanya dengan ekuilibrium yaitu keseimbangan.

Makna itu sangat sesuai dengan filosofi KTI yang selalu menyeimbangkan kepentingan antara pemegang saham, perusahaan, karyawan dan juga lingkungan hidup sehingga keinginan untuk berkembang tidak membuat kami mengeksploitasi  alam karena kami memiliki falsafah memelihara alam untuk pertumbuhan yang harmonis dan berkelanjutan," jelasnya.


Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian (PEP) Daerah Aliran Sungai (DAS) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Yuliarto Joko P mengatakan, jumlah air di bumi secara umum tetap rapi komposisinya yang terbagi.

Dari seluruh air yang ada di bumi hanya 2,5 persen yang berupa air tawar dan sisanya yang 97,5 persen merupakan air asin yang ada di lautan. "Air tawar yang 2,5 persen ini terbagi menjadi sekitar 63,7 persen berupa salju atau es sementara sisanya adalah air yang ada di dalam tanah. Itu berarti hanya 0,3 persen air tawar yang ada di muka bumi tersedia sebagai air permukaan di danau, sungai, rawa, dan sebagainya," ujarnya.


Yuliarto mengungkapkan, mengelola air tawar sebagai sumber daya yang berkelanjutan memerlukan berbagai strategi dan kegiatan yang bersifat holistik dan berwawasan lingkungan. "Berdasarkan analisa, wilayah Jawa, Bali telah mengalami defisit air. Sementara untuk wilayah Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku diproyeksikan dalam keadaan kritis.

Berdasarkan proyeksi iklim, sebagian besar di wilayah Indonesia akan mengalami penurunan pasokan air karena kenaikan suhu dan perubahan curah hujan yang mempengaruhi neraca air. Dikombinasikan dengan peningkatan pertumbuhan penduduk tentu akan berimbas pada kebutuhan air yang semakin meningkat sehingga menyebabkan kekurangan air yang signifikan," terangnya. (danang)

 

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook