Kelangkaan Premium Picu Inflasi

nurul roudhoh   |   Ekonomi  |   Kamis, 29 Maret 2018 - 10:12:17 WIB   |  dibaca: 4741 kali
Kelangkaan Premium Picu Inflasi

DIKURANGI : Suasana SPBU di Jalan Serang-Cilegon, Kota Serang, Rabu (28/3). Pasokan premium terus dikurangi oleh pemerintah.

SERANG – Gubernur Banten Wahidin Halim (WH) menilai, kelangkaan premiun yang terjadi belakangan ini berdampak negatif pada perkembangan perekonomian. Bahkan, kondisi tersebut diyakini akan memicu inflasi daerah maupun nasional.


“Saya akan tanyakan kepada pemerintah pusat ada keluhan apa (sehingga) terjadi kelangkaan premium. Ini juga akan memengaruhi inflasi, kelangkaan yang akan menimbulkan kenaikan harga, inflasi nasional dan daerah,” ujarnya kepada awak media usai menghadiri prosesi penyerahan laporan keuangan daerah (LKPD) tahun anggaran 2017 di Kantor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Provinsi Banten, Palima, Kota Serang, Rabu (28/3).


Menurut mantan Wakil Ketua Komisi II DPR RI itu, pemerintah daerah merasa perlu mengetahui apa penyebabnya sehingga terjadi kelangkaan premium meski tak dilibatkan dalam setiap pengambilan kebijakan.“Kita juga ingin tahu kebijakan itu, walau sebenarnya kita kan daerah tidak terlibat. Tapi saya akan sampaikan ke pemerintah pusat,” katanya.  


Jika pun kelangkaan premium adalah kebijakan pemerintah, WH meyakini hal itu sudah mendapat pertimbangan matang baik dari Pertamina selaku pengelola minyak dan gas bumi, maupun menteri terkait. Selanjutnya, dia juga meyakini pemerintah pusat telah menyiapkan kebijakan menindaklanjuti kelangkaan premium.“Saya pikir dari pemerintah pusat akan mengambil kebijakan atau langkah-langkah terkait kelangkaan itu. Saya kira menjadi pertimbangan matang Pertamina atau menteri,” ungkapnya.


Selain inflasi, adapun yang menjadi perhatiannya dari dampak kelangkaan premium adalah potensi keresahan di masyarakat.  “Kita lihat juga di lapangan jangan terjadi keresahan, terkait daya beli dan sebagainya,” tutur jebolan program doktoral bidang studi ilmu pemerintahan Universitas Padjadjaran, Bandung ini.   


Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten Agoes Soebeno memaparkan, pada periode Januari dan Fabruari, Banten telah mengalami kenaikan inflasi. Untuk periode Januari, angka indeks harga konsumen mengalami (IHK) meningkat dibanding Desember 2017 dari 138,47 menjadi 138,77. Artinya, telah terjadi perubahan indeks atau inflasi sebesar 0,22 persen.


“Enam dari tujuh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks. Kelompok bahan makanan yang naik sebesar 1,26 persen, kelompok sandang naik  0,24 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga naik 0,22 persen dan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 0,16 persen.

Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik sebesar 0,11 persen serta kelompok kesehatan naik 0,10 persen. Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan turun sebesar 0,97 persen,” papar Agoes dalam keterangan tertulisnya.


Sedangkan untuk Februari, terlihat meningkatnya angka IHK dibanding bulan sebelumnya dari 138,77 menjadi 139,12 atau terjadi inflasi sebesar 0,25 persen.“Enam dari tujuh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks. Kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan naik 0,49 persen, Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik  0,33 persen dan kelompok bahan makanan yang naik 0,30 persen.

Kelompok sandang naik sebesar 0,25 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 0,11 persen serta  kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga naik 0,03 persen. Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan adalah kelompok kesehatan sebesar 0,11 persen,” tuturnya. (dewa)

 

 

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook