BPOM Serang Belum Tarik Makarel

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Senin, 02 April 2018 - 11:27:23 WIB   |  dibaca: 208 kali
BPOM Serang Belum Tarik Makarel

MASIH ADA YANG BELUM TAHU : Petugas Dinas Perdagangan Industri dan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kota Serang menginspeksi mendadak salah satu swalayan di Kota Serang guna mencari 27 merek sarden makarel yang mengandung parasit cacing, Kamis (29/3).

SERANG – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Serang belum menarik produk ikan makarel dalam kemasan kaleng yang mengandung cacing parasit di Banten. Rencananya, penarikan terhadap 27 merek itu baru akan dilakukan hari ini.  


“BPOM Serang besok (hari ini-red) bersama lintas sektor lainnya menertibkan 27 item produk ikan makarel 138 batch (nomer dan huruf penandaan) yang masih beredar,” ujar Kepala BPOM Serang Alex Sandernya melalui aplikasi whatsapp messenger, Minggu (1/4).


Alex mengimbau, kepada pelaku usaha untuk tidak lagi menjual 27 merek dengan 138 batch makarel dalam kemasan kaleng seperti yang telah dirilis BPOM RI. Mereka diharapkan tidak lagi mendisplay produk tersebut. “Kepada masyarakat supaya tidak menjual dan dikembalikan ke distributor untuk dimusnahkan,” ungkapnya.


Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten Babar Soeharso mengatakan, pihaknya juga akan turut membantu BPOM untuk menarik produk makarel dalam kemasan kaleng yang mengandung cacing parasit. Terlebih sebelumnya, Disperindag sudah terlebih dahulu melakukan sampling kesejumlah daerah di Banten.


“Kalau laporan ada, sudah kami tindaklanjuti. Di Banten ini saya kira kemungkinan sudah beredar merata, makanya kita sampling semua wilayah. Kalau memang terbukti kita perintahkan untuk ditarik peredarannya,” tuturnya.


Sementara itu, produk ikan makarel masih banyak ditemukan di ritel dan minimarket di Kota Serang. Beberapa di antaranya ditemukan di minimarket Taktakan, dan minimarket di Jalan Lingkar Selatan, Kecamatan Serang. Hampir seluruh produk yang ditarik BPOM masih terpampang. "Udah tau mas (ada cacingnya), tapi kita belum dapat perintah," kata salah satu penjaga minimarket di Jalan Lingkar Selatan Kota Serang.


Sementara itu, Mantan Kepala Balai Bimbingan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (BBPMHP) Sunarya mengatakan bahwa infeksi cacing pada mamalia laut bersifat insidentil dan tidak selamanya terjadi. Cacing anisakis ini pun hanya menghuni perairan-perairan tertentu.”Biasanya Laut Cina Selatan, makanya setiap ikan yang ditangkap dari sana, ya diolah di pabrik manapun tetap ada cacingnya,” katanya.

Karena ini merupakan parasit alami, sangat susah membersihkan ataupun menghindarinya sama sekali. Maka dari itu, Sunarya menyebut, otoritas perikanan Eropa membolehkan penemuan cacing pada ikan hasil tangkapan dengan toleransi jumlah tertentu. ”Setiap dua atau tiga cacing yang ditemukan di 3,3 kilogram, maka masih boleh dijual,” katanya.

Setiap mamalia yang membawa cacing anisakis di tubuhnya, akan mengeluarkan feses yang membawa telur dari cacing anisakis. Telur-telur tersebut berkembang menjadi larva dan berenang bebas di perairan, lantas dimakan oleh ikan-ikan kecil. Kemudian, ikan-ikan tersebut dimakan oleh ikan yang lebih besar. ”Biasanya memang dimakan oleh ikan pelagis (ikan permukaan -red)” katanya.

Saat cacing ini mati, kata Sunarya, cacing bermigrasi dari sistem pencernaan menuju daging. Sehingga, di tubuh ikan makarel banyak ditemukan cacing. ”Proses ini namanya post mortem migration,” jelasnya.

Pakar Teknologi dan Pemrosesan Makanan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Purwiyatno Hariyadi mengungkapkan bahwa lembaga otoritas pangan sering menerapkan standar agar makanan bebas parasit. ”Padahal, parasit itu ada dimana-mana,” katanya.

Cacing anisakis pada dasarnya tidak berbahaya jika sudah dipastikan mati. Ia menyebut, standar pemanasan sterilisasi komersial telah cukup menjamin matinya cacing dan mikroorganisme lain. Anisakis akan mati pada suhu pemanasan 65 derajat celcius. Atau didinginkan pada suhu minus 35 derajat celcius. ”Sementara di pabrik-pabrik itu dipanaskan sampai 121 celcius,” katanya.


Ketua Asosiasi Pengalengan Ikan Indonesia (APIKI) Ady Surya mengungkapkan para anggota tetap berkomitmen mematuhi ketentuan dari pemerintah. Semua produksi pun sudah dihentikan.

Namun, Ady menegaskan penarikan tetap butuh waktu, tidak semudah membalikkan telapak tangan.  ”Lagipula tidak kami tarik pun, di ritel-ritel (produk ikan kaleng makarel,Red) sudah diturunkan dari rak,” katanya.

 Meski patuh, Ady berharap pemerintah segera memberikan solusi terhadap bisnis yang terancam dan rugi miliaran rupiah tiap harinya. Ady menyebut, di beberapa daerah,  telah terjadi pemutusan hubungan kerjasama bisnis dari para pengusaha ritel dengan pengusaha ikan kaleng. ”Di Medan, Lotte Mart sudah putuskan kerjasama dengan pemasok ikan kaleng,” katanya.

Menurut Ady, pernyataan BPOM ini telah menyebabkan industri perikanan lesu. Disaat Presiden terus mendorong peningkatan impor, isu cacing anisakis adalah musibah dan menurunkan kemampuan para pemilik industri. ”Kerugian sampai saat ini masih kami hitung,” katanya.

Sementara Kasatgas Pangan Polri Irjen Setyo Wasisto menuturkan, proses penarikan ikan makarel kalengan bercacing ini tentunya tidak bisa dilakukan BPOM sendiri. Bila, dimintai bantuan, kepolisian siap untuk terjun membantu memastikan penarikan telah dilakukan. ”Utamanya, di daerah-daerah pelosok,” ujarnya.

Bukan hanya Satgas Pangan, namun setiap Kepala Satuan Wilayah (Kasatwil) juga akan membantu. Seperti Kapolres. Dia menuturkan, tiap Kapolres juga bisa menerjunkan semua anggota bersama BPOM untuk mendeteksi penarikan sudah 100 persen atau belum. ”Jangan sampai masih ada yang diperjualbelikan, masyarakat yang terancam,” ungkapnya.

Menurutnya, masyarakat juga bisa berperan aktif membantu BPOM dan kepolisian. Bila, menemukan adanya ikan makarel kalengan yang masuk dalam 27 merk yang bercacing itu bisa segera melapor, sehingga bisa dilakukan koordinasi agar ada segera penarikan. ”Semua peru terlibat,” ujar jenderal berbintang dua tersebut.   

Saat ini Satgas Pangan Polri juga tengah melakukan kajian terkait kejadian ikan makarel kalengan bercacing. Menurutnya, perlu kajian untuk memastikan apakah kepolisian memiliki kewenangan untuk menangani hal tersebut. Mengingat ada potensi masyarakat yang merasa dirugikan untuk melapor ke kepolisian.

Seperti diketahui, 27 merek makarel kaleng mengandung cacing parasit, terdiri dari 138 batch. Merek tersebut adalah ABC, ABT, Ayam Brand, Botan, CIP, Dongwon, Dr Fish, dan Farmer Jack. Kemudian makarel kaleng Fiesta seafood, Gaga, Hoki, Hosen, IO, Jojo, King Fisher, LSC, Maya, Nago atau Nagos, Naraya, Pesca, Poh Sung, Pronas, Ranesa, S&W, Sempio, TLC serta makarel kaleng TSC. (dewa/jpg)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook