Dimaafkan, Tapi Minta Tetap Diproses

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Sabtu, 07 April 2018 - 10:51:18 WIB   |  dibaca: 96 kali
Dimaafkan, Tapi Minta Tetap Diproses

AKSI DAMAI : Sejumlah massa dari Forum Persaudaraan Umat Islam Banten (FPUIB) berjalan sambil membawa atribut saat mengecap puisi Sukmawati di Jalan Pangeran Diponegoro, Kota Serang, untuk menuju Alun-alun Barat, Jumat (6/4).

SERANG - Ratusan warga Banten yang tergabung dalam Forum Persatuan Umat Islam Banten (FUIB) menggelar aksi mengecam puisi yang dibuat dan dibacakan oleh Sukmawati Soekarnoputri. Meski Sukmawati sudah menyatakan permohonan maaf secara terbuka, namun FUIB tetap mendesak agar Sukmawati diadili melalui jalur hukum.


Pantauan Banten Raya di lapangan aksi digelar setelah salat Jumat di Masjid Ats Tsauroh. Para pemimpin aksi berorasi secara bergantian di atas mobil pick up yang dilengkapi dengan suond system.

Orasi yang dimulai di halaman Masjid Agung Ats Tsauroh Kota Serang dan ratusan massa aksi kemudian berjalan kaki dari masjid agung menuju Royal, lalu ke Jalan Diponegoro dan berakhir di Alun-Alun Kota Serang. Sepanjang perjalanan massa aksi meneriakkan yel-yel semangat dan mengutuk Sukmawati, yang telah membuat puisi yang melukai umat Islam.


Pimpinan Pondok Pesantren Ardaniyah, Sudrajat Ardani mengatakan, puisi yang dibuat Sukmawati melukai perasaan umat Islam karena menyebut suara adzan tidak lebih merdu dari kidung. Selain itu ia juga menyebut cadar tidak lebih baik dari konde. Kata-kata dalam puisi berjudul "Ibu Indonesia" itu dinilai telah melecehkan simbol dalam agama Islam.
"Karena itu kami menuntut hukum tetap harus ditegakkan," ujar Sudrajat.


Sudrajat mengatakan bahwa sebagai muslim yang diajarkan agar memaafkan kesalahan sesama muslim—apalagi yang telah meminta maaf—umat Islam di Banten memang sudah memaafkan Sukmawati atas perbuatannya. Hal ini sesuai dengan imbauan yang disampaikan oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin.

Meski demikian proses hukum harus tetap dilakukan dan ia berharap agar hukuman yang diberikan kepada Sukmawati setimpal dengan perbuatan yang dilakukannya.“Kia memaafkan Ibu Sukmawati tetapi proses hukum harus tetap jalan. Bukan masalah individu melainkan masalah agama yang dihina,” katanya.


Sudrajat mengungkapkan bahwa masyarakat muslim merasa tersiggung dan tersudut dengan pusii yang dibuat Sukmawati. Karena itu timbul gerakan membela agama Allah dari umat Islam tidak hanya di Banten melainkan juga di seluruh Indonesia.


“Ini masalah besar dan karena itu tidak cukup hanya dengan minta maaf. Kita menuntut Bu Sukmawati diadili seadil-adilnya,” ujarnya seraya mengklaim aksi demonstrasi diikuti 180 aliansi umat Islam, ormas, ponon pesantren, dan lainnya.


Mukhtar Anam, salah satu peserta aksi, mengatakan bahwa apa yang disampaikan Sukmawati melalui puisinya sudah sangat menghina kyakinan umat Islam. Apalagi dengan membandingkan antara adzan dengan kidung. Karena bagi umat Islam suara adzan adalah suara yang menyeru untukk beribadah dan menghadap Allah SWT.

Bertemu Kapolda
Tim pengacara dan beberapa ulama yang beraksi juga melakukan pertemuan dengan Kapolda Banten Brigjen Pol Listiyo Sigit Prabowo, di Aula Mapolda Banten.Mereka diantaranya Agus Rahmat SH (praktisi hukum/pengacara muslim Banten), KH. Jawari (Ketua Ikatan Santri Salafi Kota Serang), KH. Abi Suja'i (Tokoh agama Kota Serang), KH. Idris, KH. Ali Mustofa (FSPP Banten), Ust. Wari (FUIB), Ust. Bahri Fohan, Ust. Mansyur Wahyidin (Ketua GNPF MUI Banten), Ust. Ardani (Pimp Ponpes Ardaniah Taktakan), dan KH. Dimyati (Ponpes Darul Khaerot Kec. Cikande Kab. Serang).


Sedangkan kapolda didampingi oleh wakapolda, karoops, dirlantas, dirintelkam dan kabid humas.Informasi yang diperoleh, pertemuan tertutup itu berjalan sangat baik, penuh kehangatan, keakraban dan kekeluargaan. KH Ardani dan Agus Rohmat yang mewakili masyrakat mengatakan, pelaku terhadap penodaan agama harus diproses secara hukum.


Menurut mereka, penodaan agama tidak boleh terulang lagi baik di Banten maupun di seluruh Indonesia, karena masyarakat Banten mendambakan kehidupan yang nyaman dan aman.
Sementara itu, kapolda mengucapkan terimakasih kepada para alim ulama atas kunjungannya dan dukungan serta doanya.


Terkait masalah dugaan penodaan agama, kata kapolda, jika para alim ulama menginginkan membuat laporan disilahkan. "Tetapi karena lokus delicti-nya (tempat kejadian) bukan di wilkum Polda Banten sehingga nanti laporannya kami kirimkan ke Mabes Polri,” ungkapnya.
(tohir/marjuki)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook