Calon Tunggal Lahir dari Pragmatisme Parpol

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Rabu, 11 April 2018 - 13:56:33 WIB   |  dibaca: 123 kali
Calon Tunggal Lahir dari Pragmatisme Parpol

DISKUSI : Suasana diskusi dengan tema "Mengupas Pilkada 2018 di Tanah Jawara" yang digelar Komunitas Soedirman 30, di kampus UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, di Kota Serang, Selasa (10/4).

SERANG- Lahirnya calon kepala daerah dan wakil kepala daerah tunggal di 3 kabupaten/kota di Provinsi Banten diduga disebabkan karena adanya ketokohan dan pragmatisme partai politik menjelang pileg dan pilpres 2019. Hubungan yang saling membutuhkan itu menyebabkan partai politik hanya bermain aman.

Koordinator Jaringan Rakyat untuk Demokrasi dan Pemilu (JRDP) Nana Subana mengatakan bahwa analisis JRDP terhadap fenomena adanya 3 paslon tunggal di 3 daerah di Banten, yaitu di Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang disebabkan karena adanya faktor ketokohan yang mampu mengonsolidasi pragmatisme parpol.

Dua kepentingan yang saling membutuhkan ini membuat partai politik di daerah yang menggelar pilkada itu menjadi satu suara mengusung petahana. Meski persetujuan pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah ditentukan pengurus parpol di pusat tapi bila di daerah sudah terkonsolidasi maka pengurus pusat biasanya akan menyetujui.
 
"Maka sah-sah saja kalau saya bilang parpol pragmatis menuju 2019," ujar Nana saat diskusi dengan tema "Mengupas Pilkada 2018 di Tanah Jawara" yang digelar Komunitas Soedirman 30 di kampus UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Selasa (10/4).

Nana mengatakan bahwa dengan makin dekatnya pileg dan pilpres maka partai politik enggan mengeluarkan dana dan tenaga dan lebih suka ikut mendukung calon yang memiliki dana besar. Dengan cara seperti ini maka parpol akan memiliki modal untuk pileg dan pilpres nanti. Fenomena memborong parpol yang menghasilkan calon tunggal diyakininya ada transaksi uang meski sulit membuktikannya. “Buat apa capek-capek mengeluarkan modal lebih baik konsodlidasi untuk mendapatkan modal guna Pemilu 2019,” ujarnya.

Meski demikian Nana optimistis ke depan tidak akan banyak calon tunggal bila KPU mau memperketat aturan, sehingga mempersempit kemungkinan munculnya calon tunggal. Kepada pemilih yang di daerahnya ada calon tunggal ia mengimbau agar mereka tetap menyalurkan suara mereka di bilik suara.“Bagi yang tidak puas dengan kemepimpinan kepala daerah sebelumnya mencoblos kotak kosong adalah bentuk hukuman bagi calon tersebut,” katanya.

Ketua KPU Provinsi Banten Agus Supriatna mengungkapkan bahwa adanya calon tunggal dimulai sejak tahun 2015. Banyaknya calon tunggal disebabkan karena adanya Putusan Mahkamah Konstitusi No.100/PUU-XII/2015 yang salah satu amar putusanya menetapkan bahwa calon tunggal konstitusional atau sah secara hukum.

Karena itu ada peningkatan jumlah calon tunggal di daerah yang menggelar pilkada. Pada tahun 2018 ini ada 13 calon tunggal di daerah yang menggelar pilkada. Di Banten sendiri jumlah calon tunggal paling banyak di antara daerah lain di Indonesia yang menggelar pilkada. Terdapat 3 calon tunggal di Banten, yaitu Iti Jayabaya dan Ade Sumardi di Kabupaten Lebak, Zaki Iskandar dan Mad Romli di Kabupaten Tangerang, dan Arief R Wismansyah dan Syahrudin di Kota Tangerang.


Menariknya fenomena calon tunggal tidak menyebabkan rendahnya partisipasi. Di Kalimantan Barat dan Papua Barat misalnya, partisipasi pemilih meski calonnya tunggal berada di atas 90 persen. Sementara di Pati jumlah partisipasi 65 persen. Tetapi ada juga di daerah lain yang partisipasinya rendah salah satunya di Nusa Tenggara Timur yang partisipasinya hanya 42 persen.


Agus mengatakan bahwa dalam undang-undang nomor 10 tahun 2016 tentang pemilihan gubernur, bupati, dan walikota disebutkan ada 2 cara seseorang mencalonkan diri sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah. Dua cara itu adalah dengan menggunakan jalur dukungan parpol dan dengan jalur perseorangan atau independen.

Untuk parpol harus mengantongi 20 persen dari jumlah kursi di DPRD. Di Kota Serang yang memiliki 45 kursi maka calon minimal harus memiliki 9 kursi di DPRD Kota Serang. Sementara jalur perseorangan harus mengumpulkan dukungan photo copy KTP elektronik mencapai 38.700.

Tim Asistensi Bawaslu Banten M Taufik MZ mengatakan bahwa Bawaslu akan mewawancarai seluruh piahk yang terlibat dalam adanya calon tunggal. Saat ini Bawaslu baru mewawancarai Zaki Iskandar dan selanjutnya akan mewawancarai calon lain seperti Iti dan Arief.

Selain calon, Bawaslu juga akan mewawancarai parpol pendukung, pengawas pemilu, dan pegiat pemilu. Selain menyelidiki kemungkinan adanya mahar politik pada calon tunggal hasil wawancara ini juga akan menjadi resume penyebab munculnya paslon tunggal, sehingga akan dijadikan sebagai dasar bagi perbaikan aturan pemilu ke depan.“Ini akan jadi resume untuk penyempurnaan undang-undang nomor 10 tahun 2016,” katanya. (tohir)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook