GM PT Dong Jin Ditahan Imigrasi

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Rabu, 11 April 2018 - 14:05:23 WIB   |  dibaca: 167 kali
GM PT Dong Jin Ditahan Imigrasi

MELANGGAR : Kepala kantor Imigrasi Kelas II Cilegon, Agus Winarto saat menujukkan visa milik LOK, warga negara Korea Selatan (Korsel) yang menyalahgunakan izin tinggal, Selasa (10/4). Tampak LOK membelakangi.

CILEGON - Kantor Imigrasi Kelas II Cilegon menahan General Manajer (GM) PT Dong Jin, Ciwandan berinisial LOK. Warga negara Korea Selatan (Korsel) yang ditangkap Kamis (5/4) ini ditahan lantaran bekerja menggunakan visa wisata.


Kepala Imigrasi Kelas II Cilegon, Agus Winarto mengatakan, LOK ditangkap di tempatnya bekerja saat tim dari Kantor Imigrasi Cilegon melakukan monitoring rutin pada Kamis (5/4).
Saat diperiksa, LOK tidak bisa menunjukkan visa kerja yang seharusnya dikantonginya untuk legalitas bekerja di Indonesia.

“Mr LOK pakai visa wisata, padahal dia (LOK) sedang bekerja sebagai General Manajer PT Dong Jin di Ciwandan,” kata Agus saat memberikan keterangan pers di kantornya Jalan Raya Merak, Kelurahan Rawa Arum, Kecamatan Grogol, Selasa (10/4).  

 

Dikatakannya, pria berusia 53 tahun asal negeri ginseng tersebut sebenarnya bekerja sebagai GM PT Dong Jin sejak 2013. LOK menjadi pekerja resmi dengan mengantongi Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS). Namun, masa berlakunya telah habis pada 2017 lalu dan tidak diperpanjang. Sejak KITAS-nya habis, LOK hanya menggunakan visa wisata lantaran dari PT Dong Jin sudah tidak memfasilitasi pembuatan KITAS.


“Visa wisata LOK dibuat 17 Maret 2018 dan berlaku sampai 17 April 2018. Bisa diperpanjang lagi sampai 30 hari lagi sebenarnya, tapi peruntukkannya buat wisata saja, bukan untuk bekerja,” jelas Agus.

Agus menjelaskan, LOK saat ini diamankan di Kantor Imigrasi Kelas II Cilegon. Pihaknya masih mengumpulkan data dan memeriksa saksi-saksi untuk melengkapi berkas sebagai syarat deportasi. “Ini terancam deportasi ke negara asalnya (Korsel -red),” ucapnya.


Agus menjelaskan, LOK telah melanggar Pasal 122 Undang-Undang (UU) Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, dengan ancaman hukuman deportasi. “Sampai saat ini sudah dilakukan pemeriksaan pada Vice President, dan Bagian Human Resorces Development PT Dong Jin,” tutupnya.

WNA Asal Tiongkok Juga Telah Dideportasi
Dalam kesempatan ini, Agus juga mengungkapkan, sebelumnya pihaknya juga telah menangkap WNA asal  Tiongkok, yang bekerja menggunakan visa wisata. WNA tersebut kini sudah dideportasi ke negaranya pada Februari lalu. “2018 ini (Januari hingga April) sudah ada dua WNA yang ketangkap, satu sudah dideportasi, satu lagi terancam deportasi,” jelasnya.


Kepala Seksi (Kasi) Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (Wasdakim) pada Kantor Imigrasi Kelas II Cilegon, Hendra Kurniawan menambahkan, monitoring kepada WNA yang bekerja di pabrik-pabrik yang ada di Kota Cilegon dilakukan secara rutin. Pihaknya melakukan monitoring sebagai bentuk penertiban administrasi bagi WNA yang bekerja di Indonesia. “Kita rutin, sasarannya ke industri-industri yang banyak mempekerjakan tenaga kerja asing,” jelasnya.

Selain itu, kata Hendra, pihaknya juga telah membentuk tim pengawasan orang asing di lima kelurahan yang ada di Kota Cilegon. “Kelurahan yang dekat industri dan banyak ditempati pekerja asing,” tuturnya.


Anggota Komisi II DPRD Kota Cilegon, Badar Gumelar mengatakan, pihaknya meminta kepada Imigrasi maupun Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Cilegon lebih intens melakukan pengawasan terhadap TKA. Jangan sampai, kata Badar, pengawasan tersebut berjalan sesekali saja. “Ini harus intens, dan benar-benar terjun ke lapangan untuk pengawasan TKA jangan hanya melihat dokumen yang dilaporkan oleh industri saja,” pinta anggota DPRD dari daerah pemilihan Citangkil dan Ciwandan ini.


Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini juga berharap, kepada industri untuk memerioritaskan tenaga kerja lokal, khususnya untuk tenaga kerja kasar. Kecuali, jika memang tenaga ahli atau pekerja di posisi manajer bisa dari luar negeri. “Itupun sebaiknya dari lokal saja dulu. Agar keberadaan TKA memang pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan oleh tenaga kerja lokal. Masalah ini sangat sensitif, karena di Cilegon sendiri angka pengangguran saat ini masih tinggi,” kata Badar. (gillang)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook