Dulu Pembuangan Sampah, Kini Ruang Kreasi Anak

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Kamis, 12 April 2018 - 10:59:54 WIB   |  dibaca: 69 kali
Dulu Pembuangan Sampah, Kini Ruang Kreasi Anak

RINDANG : Warga saat menikmati sejumlah fasilitas yang disediakan Taman Kreatif.

KOTA SERANG – Di mana ada niat, di situ pasti ada jalan. Istilah itu mungkin cocok untuk Akhyadi. Tanpa modal, dia nekat mengubah lokasi tempat pembuangan sampah di kampung halamannya untuk dijadikan tempat penyaluran kreasi anak yang kini dikenal sebagai Taman Kreatif.

Sejuk dan rindang. Kira-kira seperti itu suasana Taman Kreatif yang berlokasi Kelurahan Pipitan RT04/02, Kecamatan Walantaka, Kota Serang. Pepohonan dari berbagai jenis memayungi sebagian besar bagian taman.


Suasananya cukup ramai. Anak-anak usia sekolah dasar hingga menengah pun tampak lalu lalang sambil membawa sejumlah kerajinan tangan. Ada pula beberapa pria berusia dewasa di sana. Mereka terlihat seperti seorang instruktur. Secara telaten memberikan pengarahan kepada anak usia sekolah tadi.


Pemandangan tersebut kini menjadi hal yang biasa diihat di sana. Demikian dikatakan pendiri Taman Kreatif, Akhyadi. Ia mengungkapkan bahwa dulu tempat yang dikelolanya itu tidak seramai seperti sekarang.


Akhyadi yang menetap di Kelurahan Pipitan tahun 2012 itu menceritakan, perlu keringat dan perjuangan ekstra untuk membuat Taman Kreatif. Siapa pun pasti tak menyangka jika lokasi Taman Kreatif dulunya hanya dijadikan tempat pembuangan sampah oleh masyarakat sekitar.


Miris dengan kondisi tersebut pada 2013, Akhyadi pun meminta izin kepada lurah setempat untuk mengelola lahan seluas 600 meter persegi itu untuk dijadikan taman. Tanpa kendala berarti, sang lurah pun memberikan restunya agar lahan milik kelurahan itu digarap.


Setelah memeroleh izin, dia mulai menggarap lahan tersebut dengan membersihkan tumpukan sampah seorang diri. Nyatanya, upaya tersebut seolah sia-sia karena semakin hari tumpukan sampah semakin menggunung. Penyebabnya tak lain pola pikir masyarakat sekitar yang telah menjadikannya tempat pembuangan sampah massal.  


Tapi tekad Akhyadi sudah bulat. Dia tetap saja seorang diri membersihkan sampah setiap harinya. Kali ini Akhyadi mulai mengunjungi setiap warga dari pintu ke pintu, meminta agar masyarakat tak lagi membuang sampah ke lahan garapannya.


Tidak instan memang tapi sedikit demi sekidit warga mulai menaruh simpati kepada Akhyadi. Warga mulai tak lagi membuang sampah ke sana. Bahkan, yang tadinya seorang diri, perlahan istri dan warga lainnya ikut membantu Akhyadi membersihkan sampah.


“Dua tahun saya membersihkan sampah itu dibantu warga sekitar juga. Lama memang karena bukan urusan bersihkan sampah tapi juga mengubah kebiasaan. Kini warga sudah bung sampah di tempat yang disediakan pemerintah,” ujar pria kelahiran Anyer, 15 Juli 1984 ini.


Untuk menciptakan sebuah taman, Akhyadi yang bukan orang berada pun mulai mencicilnya. Setiap ada rejeki, dia selalu sempatnya membeli benih atau pohon cangkok untuk ditanam di tamannya. Awalnya juga, di sana hanya dibangun satu buah saung untuk tempat nongkrong.


Seiring berjalannya waktu, tamannya mulai diminati oleh masyarakat sekitar maupun luar. Semenjak saat itu Akhyadi makin serius menggarap tamannya dan kini sudah mendapat bantuan dari rekan-rekannya.


Dengan modal swadaya, sejumlah fasilitas pun dibangun. Hasilnya, jika berkunjung ke Taman Kreatif akan terlihat sejumlah taman. Taman bermain dengan segala fasilitas bermain anak, taman selfie yang dilengkapi pernak-pernik instagrameale, taman bacaan hingga taman sehat dengan jalur jogging dan jalur relaksasi.


Jangan mengira kalau Akhayadi dan teman-temannya berhenti ketika sejumlah fasilitas sudah memadati Taman Kreatif. Mereka tetap gatal memberikan kontribusi lainnya. Kini setiap harinya mereka aktif memberikan sebuah bimbingan mulai dari melukis, membuat kerajinan tangan, teater dan pembuatan video sinematik.


Semua pelatihan itu diberikan kepada siapa pun yang mendatangi Taman Kreatif tanpa mengenal batasan usia dan asal. Akhyadi hanya ingin memberikan wadah agar mereka bisa berkreasi kea rah yang positif.


Soal bayaran atas jasanya, Akhyadi tak sedikit pun menerima imbalan. Bagi mereka yang akan mengunjungi Taman Kreatif hanya diminta membawa sampah plastik minimal dua kresek atau sekaleng cat berbagai ukuran.  Sedangkan mereka yang membawa kendaraan bisa memberi infak seikhlasnya pada kotak yang sudah disediakan. Akhyadi tak menafikan, Taman Kreatif juga perlu perawatan yang artinya membutuhkan biaya.

Soal itu, Akhyadi menutupinya dengan membuat aneka kerajinan tangan baik oleh dirinya maupun para anggota Taman Kreatif. Sederhana memang tapi diakuinya itu sudah bisa membuat Taman Kratif bertahan hingga saat ini.


Bukannya kekurangan karena pengelolaan bersifat swadaya, Taman Kreatif kini bersiap menyambut fasilitas terbarunya. Akhyadi sekarang sedang membangun sebuah fasilits yang ia beri nama sebagai taman gembira. Fasilitas itu nantinya berfungsi sebagai sebuah panggung pertunjukan. Anak-anak yang ingin memperlihatkan kebolehannya bisa menggunakannya.
“Yang melukis dan berlatih puisi atau sebagainya di Taman Kreatif bisa menunjukan kebolehannya,” katanya.


Di tengah kemajuan zaman, orang dengan jiwa sosial tinggi memang cukup sulit ditemukan. Namun bukan berarti tak ada. Akhyadi adalah contoh yang semoga bisa menginspirasi individu lainnya. (JERMAINE A TIRTADEWA)   

 

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook