Iman Bantah Keterangan Hendri

nurul roudhoh   |   Hukum  |   Kamis, 12 April 2018 - 11:02:37 WIB   |  dibaca: 387 kali
Iman Bantah Keterangan Hendri

BERSEBERANGAN : Hendri, salah satu terdakwa kasus suap proyek pembangunan Mal Transmart memberikan kesaksian dalam sidang di Pengadilan Tipikor Serang, Kota Serang, Rabu (11/4).

SERANG - Hendri, terdakwa kasus suap ijin analisis dampak lingkungan (AMDAL) Transmart Cilegon menyatakan bahwa permintaan uang pengurusan izin amdal Rp2,5 miliar merupakan permintaan Walikota Cilegon nonaktif Tubagus Iman Ariyadi. Permintaan tersebut disampaikan melalui Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Ahmad Dita Prawira kepada PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC) dan PT Brantas Abipraya.


Pernyataan Hendri terungkap dalam sidang lanjutan kasus suap ijin amdal Transmart di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pengadilan Negeri (PN) Serang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Epiyanto, Rabu (11/4).


"Di sana (pertemuan di Hotel The Royal Krakatau Cilegon) Pak Eka ( Legal Manager PT KIEC Eka Wandoro) nanya biaya perizinan ke Pak Dita, dan (Dita) minta Rp2,5 miliar. Kata Pak Eka, nanti disampaikan ke PT Brantas. (Angka) Rp 2,5 miliar dari beliau (walikota)," kata Hendri saat ditanya Jaksa Penuntut Umun (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi Khaerudin perihal kronologis uang dugaan suap.


Hendri juga menuturkan bahwa angka Rp2,5 miliar tersebut memang untuk memperlancar proses pembuatan ijin amdal atas rekomendasi walikota Cilegon."Saya tidak tau (sponshorship atau uang perizinan) , tapi awalnya yang saya tau itu (uang) perizinan,"  ungkapnya.


Hendri menambahkan, karena Rp2,5 miliar dinilai terlalu besar dan PT Brantas dan PT KIEC keberatan, Kepala DPMPTSP merubah nominal permintaan menjadi Rp1,5 miliar. "Pak Eka bilang akan menyampaikan ke manajemen (permintaan Rp2,5 miliar). Pak Dita nelepon ke saya, minta Rp1,5 miliar untuk sponshorship. Dari Si Bos (walikota keputusan Rp1,5 miliar itu). Tapi Brantas tetap keberatan karena anggarannya hanya 800 juta. Kalau KIEC tidak tau karena itu internal mereka," tambahnya.


Menurut Hendri, dalam kasus ini dirinya hanya sekedar membantu proses perizinan pembangunan Transmart, sambil berharap mendapatkan proyek atau subkontrak. Namun ternyata ia tidak mendapatkan uang sepeserpun dalam kepengurusan ijin tersebut.


"Nanya ke Pak Eka pemenang tender. Ada hambatan perizinan. Saya minta pekerjaan sub dan menghandle LSM maupun masyarakat yang menolak. Saya diminta untuk menghadapi mereka (penolak pembangunan). Kemudian saya dikenalkan ke PT Brantas dihadiri Pak Bayu (Project Manager PT Brantas Abipraya Bayu Dwinanto Utomo) oleh Pak Eka di kantor PT KIEC,"  ujarnya.


Sementara itu, Dita membantah jika permintaan uang Rp2,5 miliar itu untuk memperlancar proses perizinan. Ia juga menegaskan bahwa permintaan itu bukan dari Iman melainkan atas inisiatif dirinya sendiri.


"Sejak munculnya permohonan Transmart, ada beberapa persyaratan yang belum dipenuhi salah satunya Amdal. Secara spontan saya (bilang) terkait sponshorship bukan perizinan. Ide sponshorship tidak dari walikita tapi secara langsung dari saya. Walikota hanya menyarankan untuk ikut berpartisipasi. Sambil canda saya tawarkan Rp2,5 miliar,"  katanya.


Selain membantah adanya perintah dari Iman soal permintaan sponshorship, Dita juga membantah soal adanya rekomendasi dari walikota Cilegon untuk mempercepat proses perizinan amdal Transmart."Proses perijinan rekomendasi dari walikota hanya sebatas wacana saya saja," tandasnya.


Ditempat yang sama, Iman menolak semua keterangan Hendri dalam persidangan itu. "Saya ingin saksi berkata jujur. Karena pengadilan akhirat juga akan mengadili keterangan saksi. Itu memang pernyataan saya (mengaku utusan walikota) atau hanya motivasi untuk mendapatkan pekerjaan. Karena saya tidak ingin ada motivasi lain dan berkembang pada hal lain," katanya.


Ketua Majelis Hakim Epiyanto menilai kesaksian Dita banyak yang ditutup-tutupi atau berbohong. Selain itu pernyataannya banyak yang tidak sesuai dengan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) penyidik KPK dan ada beberapa keterangan yang dicabut. "Saya tau dia (Dita) banyak berbohong. Ada beberapa BAP yang dicabut karena alasannya nervous (gugup)," tudingnya. (darjat)

 

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

obat herbal amandel
13 April 2018 - 08:15:29 WIB

Terimakasih atas informasinya, artikelnya sangat bermanfaat sekali :) http://obatamandel.web.id/

  • 1

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook