Azis Siap Jadi Justice Collaborator

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Jumat, 13 April 2018 - 10:48:06 WIB   |  dibaca: 178 kali
Azis Siap Jadi Justice Collaborator

DIJENGUK : Sejumlah pegawai Pemkab Pandeglang keluar dari Rutan Kelas II B Pandeglang usai menjenguk 4 pegawai Pemkab Pandeglang yang ditahan Kejaksaan Negeri Pandeglang dalam kasus dugaan korupsi tunda guru, Kamis (11/4).

PANDEGLANG – Mantan Kepala Dinas Pendidikan Pandeglang, Abdul Azis yang ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan bersama tiga PNS pemkab lainnya dalam dugaan kasus korupsi dana tunjangan daerah (tunda) guru di Pandeglang, menyatakan siap membuka semua fakta dalam persidangan.


Aziz berharap, kesaksian utuh dalam persidangan nanti dapat membuka mata masyarakat perihal dalang utama dibalik kasus korupsi tunda guru."Saya akan buktikan di pengadilan dan menjadi justice collaborator.

Saya tidak boleh menuduh, tetapi saya rasa Anda (wartawan-red) tahu juga duduk persoalannya. Kita harus terbuka dan wajib dibuka. Hanya orang tolol yang enggak membuka ini ketika dihukum," tegasnya ditemui di Rutan Kelas II B Pandeglang, Kamis (12/4).


Azis yang menjabat kepala dindikbud tahun 2011-2013 ini juga menilai Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Pandeglang tebang pilih dalam menetapkan tersangka dalam kasus ini.
Kata Azis, penyidik tidak tunas dalam mengungkap kasus yang merugikan keuangan negara hingga Rp 11,8 miliar ini. "Ini kan kasusnya terjadi sejak tahun 2010 sampai 2015. Tapi kenapa displit (dipisah_red) menjadi hanya tahun 2012-2014 saja. Lantas tahun 2010 dan 2015 kasusnya tidak disinggung-singgung. Ada apa ini," kata Azs.


Azis menyebutkan, dalam kasus ini ada dugaan keterlibatan oknum Badan Pengelolaan Keungan Daerah (BPKD) Pandeglang karena meloloskan pencairan dana tunda guru. "Yang anehnya kenapa BPKD meloloskan (pencairan-red)? Mengapa tim verifikator bisa lolos, itu kan jadi tanda tanya. Kita (Dindikbud-red) hanya mengusulkan jumlah nominatif pegawai, tetapi dinas lain memverifikasi by name by address. Ini ada apa? Itu pun saya mengetahuinya setelah jadi tersangka," ujarnya membela.


Ditambahkan Azis, pengajuan data penerima tunda guru yang dilakukan Dindikbud sudah sesuai aturan. Dia mengaku mengetahui adanya penggelembungan setelah dilakukan pemeriksaan oleh pihak Kejari. "Saya menjabat tahun 2012-2013. Kalau berdasarkan mekanisme, pengajuan dana tunda sesuai aturan. Kami tidak tahu adanya penggelembungan. Saya hanya melanjutkan (kepemimpinan sebelumnya) saja. Tidak tahu kalau ada masalah itu," katanya.


Pantauan Banten Raya kemarin, selain keluarga Azis, keluarga tersangka lainnya banyak yang datang ke Rutan untuk menjengkuk. Saat bertemu wartawan, keempatnya tampak lesu namun tetap tersenyum. "Mohon doanya. Mudah-mudahan dilancarkan," kata Nurhasan mantan sekretaris dindikbud yang saat ini menjabat sekretaris diksomsantik.


Kepala Rutan Kelas II B Pandeglang, Heri Kusrita mengatakan, sejak Selasa (10/4), keempat tersangka itu sudah banyak yang menjenguk. "Sejak mereka ditahan memang ada ASN yang datang kesini untuk menjenguk. Perhari rata-rata 3 sampai 5 orang datang untuk melihat kondisi mereka (tersangka)," jelasnya.


Heri mengaku tidak memberikan perlakuan khusus kepada empat tersangka itu. Menurutnya, sejak mereka ditahan, Rutan tidak menemukan adanya perilaku yang mengganggu. "Sama saja seperti tersangka lainnya. Kami tidak memperlakukan spesial kepada mereka. Sejauh ini perilaku mereka baik, tidak berbuat yang macam-macam," terangnya. (yanadi)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook