PAD Besar Ciptakan Kemandirian Daerah

nurul roudhoh   |   Pandeglang  |   Senin, 16 April 2018 - 11:11:56 WIB   |  dibaca: 139 kali
PAD Besar Ciptakan Kemandirian Daerah

TERTIB PAJAK : Seorang pejabat BP2D Pandeglang (kiri) melakukan monitoring dan evaluasi kepatuhan wajib pajak objek pajak restoran di Kecamatan Labuan, Sabtu (14/4).

PANDEGLANG - Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) Kabupaten Pandeglang sudah menunjukkan keberhasilannya dalam optimalisasi pendapatan terutama dari sektor pajak daerah. Setidaknya ini terlihat dari realisasi penerimaan pendapatan pajak pada tahun 2017 lalu yang terlampaui hingga 218,42 persen atau sebesar Rp 41 miliar lebih dari proyeksi target yang telah ditetapkan pada perubahan APBD TA 2017 sebesar Rp 35 miliar lebih.


Namun demikian ada dua jenis pajak daerah lainnya yang belum optimal yakni pajak sarang burung walet dan pajak air bawah tanah. Bahkan untuk dua jenis pajak ini disebut-sebut biaya operasionalnya lebih besar ketimbang pemasukan.


Kepala BP2D Pandeglang Utuy Setiadi Beby mengatakan, Kabupaten Pandeglang menuju daerah mandiri atau nantinya tidak terus tergantung dengan dana transfer dari pusat.  Salah satu cara untuk menciptakan kemandirian keuangan daerah, kata Utuy, adalah dengan mengoptimalkan pendapatan asli daerah (PAD) terutama dari sektor pajak.

“Untuk mewujudkan mandirinya keuangan daerah kami di BP2D terus berupaya melakukan berbagai pendekatan kepada para wajib pajak. Selain itu  terus lakukan optimalisasi pajak daerah dengan cara meningkatkan kinerja dan menjalin kerjasama dengan pihak ketiga,” ujar kata Utuy, akhir pekan kemarin.


Utuy juga menyatakan bahwa pihaknya terus melakukan optimalisasi pajak daerah dengan meningkatkan kinerja serta akan melakukan kerjasama dengan pihak ketiga seperti dengan PT Pos dan Badan Usaha Miliki Desa (Bumdes). “Kerjasama ini diharapkan lebih mengoptimalkan pendapatan dan mendekatkan pelayanan kepada wajib pajak,” harapnya.

Terkait dengan dua jenis pajak yang sulit tercapai, Utuy menyatakan pihaknya akan tetap berupaya melakukan penagihan kepada para wajib pajak dan terus berusaha melakukan langkah-langkah lainnya untuk agar biaya operasional yang keluar lebih efisien.


Berdasarkan data  yang didapat,  tahun 2017, realisasi penerimaan pajak sarang burung walet ditarget Rp 25.000.000 namun hasilnya nihil. Sementara pajak air bawah tanah ditarget Rp 216.778.318 terealisasi Rp 173.973.2020 atau 80,25 persen. (muhaemin)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook