Warga Baduy Khawatir Tsunami

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Senin, 23 April 2018 - 11:01:59 WIB   |  dibaca: 318 kali
Warga Baduy Khawatir Tsunami

DISAMBUT SUKA CITA : Gubernur Banten Wahidin Halim menyambut rombongan ribuan Suku Baduy sebelum melakukan prosesi Seba Baduy di Jalan Veteran, Kota Serang, Sabtu (21/4). Seba Baduy merupakan salah satu ritual budaya yang dilakukan oleh Suku Baduy. Dalam ritual tersebut Suku Baduy menyerahkan hasil bumi kepada kepala daerah yang mereka sebut Bapak Gede.

SERANG- Warga suku Baduy, Kabupaten Lebak khawatir terjadi tsunami di Banten pada tahun 2018 ini. Kekhawatiran itu disampaikan Jaro Saija, atau jaro tanggungan 12 yang merupakan jaro bagian pemerintah di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, saat ritual Seba Baduy, di Pendopo Lama Gubernur Banten (sekarang menjadi Museum Banten), Kota Serang, Sabtu malam (21/4).


"Kami itu khawatiran, soalnya ada peringatan dari leluhur dan karuhun di tahun 2018 itu ada ancaman tsunami di selatan itu satu, keduanya yang di Anyar (Anyer). Itu kami mudah-mudahan berdoa yang kuasa supaya jangan sampe terjadi," ujar Jaro Saija.


Jaro Saija menjelaskan, tanah ulayat milik Desa Kanekes yang merupakan tanah adat seluas 5.638 hektare, dan 3.000 hektare tanah pelindung harus dilestarikan dan dijaga seperti kata amanat leluhur gunung teu beunang dilebur, lebak teu beunang dirusak, sasaka teu beunang dirobah (gunung tidak boleh diurug, dataran tidak boleh dirusak, bangunan tidak boleh dirubah).


Menurutnya, sesuai dengan amanat kokolot (tokoh) bahwa harus ada upacara ritual di 7 gunung yang dilaksanakan masyarakat Baduy sebagai doa dalam mencegah bencana alam. Ketujuh gunung tersebut adalah Gunung Sanghiyang Sira di Ujung Kulon, Gunung Honje, Gunung Kembang, Gunung Madur, Gunung Bongkok, Gunung Panjang.


"Kekhawatiran-kekhawatiran orang Baduy, titipan yang seperti tadi kalau yang gunungnya kalebur, lebaknya karusak, sasakanya karobah (gunung diurug, dataran dirusak, bangunan dirubah) takut longsor bumi, gempa bumi, angin topan, resah ka negara sareng ka bangsa (meresahkan negara dan bangsa). Itu takut bencana di lain waktu," katanya.


Diketahui, ritual Seba Baduy ini dihadiri Gubernur Banten Wahidin Halim, Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy, Bupati Pandeglang Irna Narulita, Pjs Bupati Lebak Ino S Rawita, sejumlah kepala OPD dan perwakilan dari kementerian pariwisata. Seba Baduy kali ini diikuti sebanyak 1.388 orang yang terdiri dari 47 orang Baduy Dalam, dan 1.341 orang Baduy Luar.

Pada malam hati pertemuan dengan Bapak Gede (sebutuan untuk Gubernur Banten), mereka menyerahkan beragam hasil bumi seperti pisang, sayuran, dan gula merah yang dibawa langsung warga Baduy dari tanah leluhurnya di desa Kanekes, Kabupaten Lebak dengan berjalan kaki.

Hasil bumi itu diserahkan sebagai pengakuan dari masyarakat Baduy kepada Bapak Gede selaku pemimin pemerintahan di Banten. Selain itu warga Baduy juga turut menerima bingkisan dari pemprov Banten yang berisi ikan asin, nasi, gambir dan uang transportasi.


Dalam kesempatan itu, Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan bahwa Pemprov Banten menerima dengan senang hati kedatangan masyarakat Baduy dalam agenda rutin tahunan Seba Baduy. WH mengatakan bahwa pemerintah tidak akan mengganggu hak-hak adat Baduy yang sudah dijaga turun temurun. "Kami juga tidak akan mengganggu hak-hal Bapak, tidak akan merubah kawasan dimana Bapak tinggal," katanya.


Menurutnya, warga Baduy merupakan komunitas yang dihormati karena sanggup hidup berdampingan dengan alam dan menjaga dengan baik. Bahkan, menurutnya, bukan hanya Indonesia saja yang sudah mengetahui tradisi itu tetapi warga dunia pun tahu. "Makanya hari ini kami terima lengkap, polisinya ada, tentara nya ada, kepala dinasnya ada, dan bupati yang cantik (Bupati Pandeglang Irna Narulita) juga hadir di sini," ujarnya.


Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten Engkos Kosasih mengatakan bahwa upacara Seba Baduy tersebut dilakukan setelah masyarakat Baduy melakukan upacara kawalu selama 3 bulan dan diakhiri dengan upacara ngalaksa.

Mereka membawa wasiat amanat leluhur yang harus dijaga seperti lojor teu meunang dipotong, pendek teu meunang disambung, ngasuh ratu ngajayak menak, mipit kudu amit ngala kudu menta. "Amanat leluhur tersebut dikemas dalam event Seba Baduy yang diawali dengan perjalanan dari tanah wiwitan Baduy," ucapnya.


Staf ahli bidang multikultural pada Kementerian Pariwisata RI Esti Reko Astuti mengapresiasi dan mengatakan bahwa mungkin saja Seba Baduy yang selama ini hanya dilakukan di kabupaten dan provinsi dibawa ke Istana negara. Tetapi menurutnya, regulasi istana berbeda dan ketat jika dibandingkan dengan di daerah.


"Seba Baduy merupakan tradisi dari kebudayaan, daya tarik wisata dari Provinsi Banten. Ini harus dilestarikan yang merupakan kekayaan, Seba Baduy juga memungkinkan untuk dibawa ke Istana Negara jika Pemerintah Provinsi Banten menyampaikannya kepada pemerintahan pusat, karena kebijakan di pusat berbeda," katanya.


Menurutnya, tradisi Seba Baduy harus dilestarikan dan dijaga, karena Baduy menggambarkan harmonisasi dengan alam sekitar dan mampu menjaga lingkungan. "Ini kan memang tradisi yang harus dijaga, ini sebagai representasi ketulusan, harmonisasi, pesona-pesona daerah disamping tentunya menjaga tradisi pelestarian budaya. Mereka juga kan membawa hasil bumi dan itu juga menggambarkan bagaimana mereka juga menjaga ekosistem yang ada di sana," ujarnya.

WAGUB MAKAN MIE AYAM
Sementara itu ada hal menarik usai kemeriahaan puncak acara Seba Baduy 2018. Wakil Gubernur (Wagub) Banten Andika Hazrumy terlihat menikmati makan mie ayam bersama masyarakat Baduy, di pinggir jalan di depan Alun-alun Kota Serang. Andika yang turut hadir menyapa ribuan masyarakat Baduy mendengarkan keluh kesah masyarakat Kanekes yang tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak tersebut.


Dengan masih mengenakan baju putih dan ikat kepala khas suku Baduy Dalam, Andika mendatangi sekumpulan masyarakat Kanekes yang tengah menikmati mie ayam pinggir jalan. Tanpa canggung, Andika duduk dan berbincang dengan masyarakat Baduy.


Kehadiran orang nomor dua di Banten tersebut tentu saja membuat kaget masyarakat Kanekes. Namun tidak lama suasana terlihat langsung mencair. Bahkan Andika turut memakan mie ayam bakso yang ternyata juga menjadi menu favoritnya. Kurang lebih satu jam Andika berada di sana dan berbincang dengan sejumlah warga Baduy menggunakan bahasa Sunda, yang merupakan bahasa keseharian masyarakat Baduy. Salah satu yang ditanyakan Andika yakni terkait kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Kanekes yang memang mayoritas bercocok tanam. (rahmat/satibi)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook