Warga Curhat Masalah Keummatan Hingga TKA

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Selasa, 24 April 2018 - 15:05:35 WIB   |  dibaca: 406 kali
Warga Curhat Masalah Keummatan Hingga TKA

CURHAT : Mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudoyono saat berinteraksi dengan masyarakat Kota CIlegon di Hotel The Royale Krakatau, kemarin malam.

CILEGON - Mantan Presiden Republik Indonesia (RI) Susilo Bambang Yudhoyon (SBY) baru saja berkunjung ke Kota Cilegon, Minggu (22/4) malam di The Royala Krakatau Hotel. Keesokan harinya, Senin (23/4) siang, giliran putra dari SBY yakni Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengunjungi salah satu restoran di Cilegon untuk bertemu dengan para buruh outsorching di Cilegon.

Dalam lawatannya ke Kota Baja, mantan Presiden SBY yang berdialog dengan interaktif dengan para ulama mendapat curahan hati (Curhat) masyarakat, dari masalah kebangsaan sampai masalah Tenaga Kerja Asing (TKA).


Lawatan SBY dan AHY ke Banten, dalam rangka 'Tour de Banten'. Lawatan tersebut juga sudah dilakukan di ke-33 kota yang lain di Indonesia, seperti di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.


Dalam dialog interaktif, Minggu malam, beberapa warga menanyakan permasalahan bangsa kepada SBY.Salah satu warga Cilegon Fahrurozi bertanya kepada SBY terkait cara menyikapi masalah kebangsaan saat ini, khususnya terkait dengan umat, kiyai, dan pondok pesantren.

Warga yang lainnya, Thabib M Adam menanyakan terkait kenaikan tarif listrik, harga Bahan Bakar Minyak (BBM), sampai hutang luar negeri Indonesia saat ini yang membuat khawatir dirinya dan masyarakat Indonesia yang lain. "Saat ini hutang luar negeri Indonesia bertambah, bagaimana dibandingkan dengan hutang luar negeri saat Indonesia dipimpin bapak (SBY-red)? tarif listrik dan saat ini juga naik, bagaiman menyikapi masalah ini?," tanya Thabib.

Dalam diskusi malam tersebut, pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh masyarakat Cilegon dijawab oleh SBY. Menjawab pertanyaan terkait dengan masalah kebangsaan hari ini, SBY mengaku saat ini ada gangguan kerukunan persatuan negara Indonesia. Sehingga, Ia berharap pemerintah untuk bisa mendamaikan dengan cara diplomasi.


"Negara, pemerintah, dan pemipinan justru harus menyelesaikan dengan bijaksana. Tidak boleh lantas dipisah-pisahkan, dibeda-bedakan. Pemerintah dan pemimpin harus juga mengayomi ulama dan pondok pesantren. Umat Islam yang jumlahnya paling besar itu wajib mengayomi yang lain yang jumlahnya sedikit. Namun, saudara kita yang berbeda agama yang jumlahnya lebih sedikit, patut menghormati. Ini penting saling menghormati, orang bilang toleransi, dan tenggang rasa. Tidak boleh mengolok-olok agama lain," kata SBY.


SBY juga mengingatkan pemerintah tidak mencurigai pondok pesantren, ulama, dan tokoh agama. "Jangan dikotomikan, jangan dibentur-benturkan Pancasila dengan Islam. Jangan sampai kalau si A itu Pancasila, yang lain bukan. Si A itu NKRI yang lain bukan. Si A itu Bhineka Tunggal Ika yang lain bukan. Negara pemerintah menyatukan semua, tidak boleh membeda-bedakan tidak boleh memisahkan dan ada jarak. Kalau adil, semua akan tenang," ucap Ketua Umum Partai Demokrat ini.

Di sisi lain, menyikapi hutang luar negeri Indonesia saat ini, SBY tidak menyalahkan jika pemerintah berhutang pada luar negeri. Akan tetapi, Ia meminta hutang luar negeri jumlahnya tidak berlebih-lebihan. "Agar kita berdaulat dan tidak dikontrol oleh negara-negara barat, saya dulu pangkas hutang ke IMF (International Moneter Fund).

Hutang zaman saya itu dibandingkan pendapatan nasional harus makin sedikit, 2004 hutang kita dibandingkan pendapatan nasional Indonesia jumlahnya 56 persen. Artinya pendapatan Indonesia separo lebih untuk bayar hutang. Pada 2014 tinggal 24 persen dari pendapatan nasional," papar SBY.

SBY mengatakan, selama 10 tahun dari 2004 sampai 2014 berkurang terus. "Nah sekarang saya mengingatkan kepada pemerintah, tolong dikontrol hutangnya. Kalau sekarang makin besar tiap tahunnya, hati-hati. Saya dengar sekarang sudah mencapai 30 persen dari pendapatan nasional. Tolong dikontrol hutangnya," urai mantan presiden dua periode ini.

Ditambahkan SBY, hasil dialog interaktif dengan warga Cilegon, akan disampaikan ke para kader Partai Demokrat yang duduk di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), untuk bisa mengontrol jalannya pemerintahan. "Hasil serapan aspirasi masyarakat kami sampaikan ke pewakilan Partai Demokrat di DPR-RI. Kami akan kontrol pemerintahan," tambahnya.

Pada kesempatan lain, Putra Sulung SBY yang digadang-gadang menjadi Calon Presiden (Capres) 2019 juga melakukan penyerapan aspirasi maysarakat di Kota Cilegon. Namun, AHY menemui para buruh outsorching di Cilegon di salah satu restoran di Kota Cilegon. AHY juga melakukan dialog interaktif dengan perwakilan buruh outsorcing di Cilegon. Namun, ketika disinggung pencalonan dirinya sebagai Capres 2019, AHY masih enggan berkomentar.

Salah satu perwakilan buruh, Muhari meminta kepada AHY untuk mendengar aspirasi para buruh di Cilegon. Saat ini banyak Tenaga Kerja Asing (TKA) di Kota Cilegon. Padahal, jumlah pengangguran di Kota Cilegon masih cukup banyak. Ia berharap, penyampaian aspirasi kepada AHY bisa menjadi perhatian pihaknya.

Menanggapi permasalahan yang dihadapi warga Cilegon dengan banyaknya lapangan pekerjaan yang dikuasai TKA, AHY meminta kepada industri baik swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk memrioritaskan tenaga kerja lokal.

Namun, tenaga kerja lokal juga harus meningkatkan kualitas kerja. "Tidak boleh dibuka lapangan pekerjaan, yang menikmati TKA. Warga lokal bisa untuk sekelas manajer, apalagi buruh di bawah. Kecuali kalau memang skill khusus yang di Indonesia belum ada. Jangan sampai TKA dimudahkan, jangan sampai kita menjadi penonton di negeri kita sendiri. Nanti akan saya sampaikan ke Ketua Komisi IX DPR-RI yang mengurusi masalah tenaga kerja kebetulan dari Demokrat juga," jelasnya.

AHY menambahkan, terkait dengan lawatannya ke berbagai kota, problem yang dihadapi masyarakat hampir sama yaitu terkait dengan masalah ekonomi, kebangsaan, dan TKA. "Aspirasi-aspirasri ini akan jadi perhatian kami karena menyangkut masalahb warga negara," tambahnya. (AINUL GILLANG)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook