Napi Teroris Ternyata Terbelah

nurul roudhoh   |   Nasional  |   Jumat, 11 Mei 2018 - 11:54:49 WIB   |  dibaca: 719 kali
Napi Teroris Ternyata Terbelah

TAK SEMUA SETUJU : Narapidana terorisme menyerah di Mako Brimob, Kepala Dua, Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5).

JAKARTA - Drama penyanderaan dan rusuh di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, selama 40 jam, berakhir kemarin pagi. Para narapidana terorisme berjumlah 155 orang menyerah tanpa syarat setelah polisi melakukan serangkaian tindakan, termasuk salah satunya negosiasi.


Kapolri Jenderal TNI Tito Karnavian mengungkapkan alasan mengapa pihaknya tidak melakukan penyerbuan kepada para narapidana itu. Salah satunya adalah karena ternyata tidak semua narapidana teroris setuju dengan tindakan kekerasan yang dilakukan rekannya yang berujung pada meninggalnya lima orang polisi.


"Di antara mereka itu terjadi pro dan kontra. Sehingga saya sampaikan kepada Bapak Presiden (Joko Widodo) bahwa ada situasi seperti itu dan kami berikan warning. Dan kami meminta izin. Saya paham tindakan tegas sudah dilakukan, namun karena di dalam ada pro dan kontra sehingga akhirnya kami berikan warning," kata Tito.


"Sampai dengan pagi ini, Kamis pagi, satu sandera, anggota polisi, ini Brigadir Iwan Sarjana dilepas oleh mereka. Dan mereka kemudian keluar menyerahkan diri," lanjut Tito.
Polisi sampai tadi malam masih memeriksa terduga utama pelaku provokator di Mako Brimob yakni Wawan Kurniawan alias Abu Afif.

Abu Afif tiba dengan kondisi terluka di RS Polr dengan wajah ditutup masker, badannya ditutup selimut, kakinya tampak diikat dengan tali. Pria di kursi roda itu didorong oleh petugas. Di belakangnya tampak dua polisi bersenjata laras panjang mengawal.

Abu Afif memang sempat masuk ke IGD RS Polri. Hanya sekitar 30 menit dia diperiksa di IGD. Selanjutnya, Abu Afif dirawat di kamar VIP RS Polri. ”Luka di bahu kiri,” ujar Edi. Namun Edi enggan menjelaskan lebih lanjut penyebab luka yang diderita Abu Afif.

Pemicu kerusuhan di Mako Brimob diduga adalah karena makanan yang dikirim oleh keluarganya tak kunjung diberikan oleh petugas. Dia lalu memprovokasi napi lainnya untuk berontak, menjebol terali besi, dan menyerang petugas.

Wawan ditahan di Mako Brimob lantaran terlibat kasus terorisme. Dia ditangkap Densus 88 pada 24 Oktober 2017 dalam operasi serentak di empat lokasi.Pada hari itu, Densus 88 menangkap lima orang di Riau. Salah satunya Wawan yang ditangkap di Pandau Permai, Pekanbaru. Dengan nama alias Abu Afif, dia merupakan pemimpin Amir Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Pekanbaru, Riau.

Wawan ditangkap karena memimpin baiat pada i'dad atau penyiapan kekuatan di Bukit Gema, Kabupaten Kampar, Riau. Dia juga disebut mengetahui adanya pelatihan menembak dan membuat bom yang dilakukan di Jambi. Tak hanya itu, Wawan juga disebut aktif mendorong anggota JAD Pekanbaru untuk melakukan teror dengan menyasar polisi dan kantor polisi di Riau.

Salah satu rekan Wawan yang hari itu juga ditangkap Densus 88 adalah Beny Syamsu alias Abu Ibrahim. Dia merupakan salah satu peserta pelatihan menembak dan merakit bom di Jambi. Dia juga terlibat dalam perencanaan aksi teror dengan menarget tiga kantor polisi di Pekanbaru.

Beny inilah satu-satunya napi yang tewas dalam kerusuhan di rutan Mako Brimob.Koordinator Tim Pengacara Muslim (TPM) Achmad Michdan menilai kerusuhan yang terjadi di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua selasa malam (8/5) adalah akumulasi kemarahan para napi. Selama ini, menurut Michdan, banyak perlakuan petugas yang dianggap tidak manusiawi.

Terkait insiden makanan, menurut Michdan memang sudah tradisi setiap menjelang bulan Ramadhan, keluarga para napi membawakan makanan dari rumah. Makanan ini amat dinantikan oleh para napi.

Pasalnya, makanan yang diberikan oleh pihak rutan, menurut Michdan sangat kurang. Baik dari nilai nutrisi maupun porsi.“Biasanya setiap Ramadhan, mereka boleh bawa makanan, sekarang tidak boleh, harus diperiksa segala macam, mungkin sudah SOP-nya,” kata Michdan di Jakarta kemarin (10/5).

Menurut Michdan, hampir separo keluarga para napi biasanya berkunjung sebelum Ramadhan. Dia mengaku terakhir kali melakukan kontak dengan salah seorang klien-nya di dalam rutan pada selasa malam (8/5) malam sekitar pukul 20.30 WIB. Si klien yang tak disebut namanya oleh Michdan ini mengabarkan dari dalam penjara melalui telepon. “Katanya ia dengar suara tembakan, pak ada korban,” tutur Michdan.

Meski demikian, Michdan menyebut makanan bukan faktor satu-satunya. Banyak perlakukan petugas yang tidak disukai para napi. Mulai dari proses penangkapan, penahanan, sampai pengadilan. “Mestinya tangkap saja baik-baik,” kata Michdan

Belum lagi perlakuan yang diterima oleh keluarga napi. Misalnya untuk menjenguk, istri para napi tersebut harus membuka baju terlebih dahulu sebagai bagian dari proses pemeriksaan. Meskipun yang melakukan proses ini sesama wanita (polwan). Hal ini tetap saja menimbulkan kemarahan saat sang istri bercerita pada suaminya. “Secara islam, itu sangat melanggar privasi,” kata Michdan.

Selain itu, Michdan menyebut, banyak dari napi yang statusnya masih dalam proses penuntutan perkara, namun mereka tidak mendapatkan haknya untuk didampingi tim kuasa hukum secara memadai.


Sementara itu, pengamanan Lapas di Banten diperketat menyusul kerusuhan di Rutan Mako Brimob. Kepala Sub Bidang Izin Tinggal dan Status Keimigrasian Eni Marini mengatakan, pihaknya sudah menginstruksikan agar lapas yang dihuni oleh napi terorisme agar lebih diperketat, serta berkoordinasi dengan TNI dan Polri. "Di Banten itu ada 12 warga binaan kasus terorisme. Mereka dititipkan di Lapas Serang dan Tangerang. Iya tentu itu kita tingkatkan (pengamanan), kita berkoordinasi dengan Polri dan TNI," katanya kepada Banten Raya melalui sambungan telepon selulernya, Kamis (9/5).


Disinggung soal ke 12 napi terorisme, Eni mengungkapkan pihaknya tidak mengetahui secara pasti belasan teroris itu terlibat dalam teror di wilayah mana. Secara detail data para napi tersebut ada di Lapas masing-masing.


Sementara itu, Kepala Sub Seksi Tahanan Lapas Klas IIA Serang Wahyu Anggraini membenarkan jika terdapat 3 napi kasus terorisme di Lapas Serang. Namun untuk data lengkap nama-nama napi itu bukan ranahnya untuk menyampaikan kepada awak media."Kalau jumlah tahanan iya itu bagian saya. Disini ada 3 orang (napi terorisme)," katanya. (jpg/adel)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook