Gereja di Banten Langsung Disterilkan

nurul roudhoh   |   Nasional  |   Senin, 14 Mei 2018 - 11:23:29 WIB   |  dibaca: 109 kali
Gereja di Banten Langsung Disterilkan

DAHSYAT : Kondisi sepeda motor yang terdampak ledakan bom bunuh diri di Suralaya, Minggu (13/5).

SURABAYA - Pasca peristiwa bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur yang menewaskan 13 orang, Polres Serang Kota meningkatkan pengamanan di gereja-gereja Kota Serang untuk mengantisipasi peristiwa serupa.


Adapun ketiga gereja yang dilakukan pengamanan ketat yaitu, Gereja Kristus Raja di Jalan KH Abdullah, Kota Serang, Gereja Kristen Indonesia, di Jalan Veteran, Kota Serang, dan Gereja Bethel di Jalan Veteran No.5, Kota Baru, Kota Serang.


Berdasarkan pantauan Banten Raya, kemarin, pukul 12.30, tim penjinak bom (jibom) Polda Banten bersama Polres Serang Kota dan Polsek Serang melakukan sterilisasi sejumlah gereja di Kota Serang. Para anggota Jibom pun menyisir seluruh area gereja dari luar maupun dalam, salah satunya gereja Kristus Raja, di Cimuncang, Kota Serang.


Kapolsek Serang Kompol Irwanda mengatakan sterilisasi yang dilakukan di sejumlah gereja di wilayah Kota Serang yaitu untuk mengantisipasi adanya teror bom dan orang orang mencurigakan yang masuk ke area gereja. "Pengamanan anggota Polres Serang Kota polsek zona dan Brimob Polda Banten terkait pelaksanakan ibadah umat kristiani. Kegiatan ini khawatir telah dimonitor oleh orang yang tidak bertanggung jawab," katanya.


Menurut Irwanda, selain 3 gereja di Kota Serang, terdapat 4 tempat ibadah umat kristiani yang juga menjadi perhatian aparat kepolisian. Sedikitnya, 30 personel dari Brimob Polda Banten dan Polres Serang Kota berjaga di tempat ibadah umat kristiani. "Ada 7 tempat (Lokasi ibadah umat kristen), pengamanan 30 orang, 15 dari Brimob dan 15 dari Polres dan polsek zona masing-masing," tambahnya.


Kapolres Serang Kota AKBP Komarudin mengimbau warga Kota Serang tetap tenang dan tidak ikut terpancing. "Baru saja bangsa kita digegerkan dengan sebuah kejadian yang mengoyakan sendi-sendi torelansi antar umat beragama. Saat ini berbagai macam polemik simpang siur, jikatidak kita sikapi secara bijak. Hal ini tentu akan dikemas oleh kelompok-kelompok tertentu yang bisa merusak umat muslim," katanya.


Untuk itu, Komarudin menghimbau masyarakat untuk bijak menggunakan media sosial dan menyerahkan sepenuhnya kasus bom bunuh diri yang menewaskan belasan orang tersebut kepada aparat kepolisian."Kita tidak perlu ikut berpolemik di media sosial, biarkan petugas atau kepolisian yang memproses permasalahan tersebut dan kita doakan agar kepolisian diberikan kekuatan dan kemampuan untuk mengungkap peristiwa itu semua," imbaunya.


Sementara itu, aksi bom bunuh diri yang membuat kaget warga Surabaya ini juga membuat 45 warga mengalami luka-luka dan dirawat di sejumlah rumah sakit di Surabaya. Dari jumlah itu lima korban yang mengalami luka sudah dipulangkan.


Dari informasi yang dihimpun, kasus penyerangan tersebut pertama kali terjadi di Gereja Santa Maria Jalan Ngagel Madya. Dua orang terduga yang masih bersaudara Yusuf Fadil, 18, dan Firman Halim, 16, melakukan aksinya dengan mengendarai sepeda motor.


Terduga dua orang yang mula-mula naik motor itu lantas masuk ke dalam halaman tempat parkir gereja. Tak berselang lama bom yang dibawa terduga kedua pelaku lantas meledak bom di halaman parkir gereja yang saat itu sedang ada kegiatan ibadah.


Sontak beberapa jemaat gereja dan warga sekitar lantas panik dan berusaha menyelamatkan diri. Sementara beberapa warga yang terkena imbas ledakan tersebut sebagian meninggal dan mengalami luka-luka. Bom meledak kedua kemudian juga terjadi di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro, Surabaya dan tak berlangsung lama di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, Jl. Arjuno No.90, Sawahan, Sawahan.


Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, ada tiga lokasi yang menjadi lokasi sasaran bom. Diduga kuat semua pelaku masih satu keluarga."Pelaku diduga satu keluarga. Yang dilakukan di Gereja Jalan Arjuna diduga dilakukan bapaknya," ujar Tito kepada awak media di RS Bhayangkara Polda Jawa Timur, Minggu (13/5).


Tito menjelaskan, diduga sebelum melakukan aksi bom bunuh diri dengan menabrakkan mobil ke gereja di Jalan Arjuna, terduga pelaku Dita Uprianto, 48, warga Perum Wisma Indah Blok K atau Jalan Wonorejo Asri 9 , terlebih dahulu mengantarkan istrinya yang bernama Puji Kuswati, dan kedua anaknya Fadila Sari, 12, dan Pamela Riskika, 9, ke sekitar Gereja Kristen Indonesia Jalan Diponegoro, Surabaya."Dita sebelum melakukan aksinya sempat mendrop istrinya dan anaknya ke GKI Jalan Diponegoro," ucap jenderal bintang empat itu.


Selepas mengantarkan anak dan istrinya, terduga pelaku Dita lantas kembali dan meledakkan bom bunuh diri dengan cara menabrakkan mobil Avanza di depan Gereja Pantekosta.  Sementara untuk di GKI diduga terduga ketiga pelaku menaruh bom di pinggangnya, kemudian langsung meledakkan diri di depan gereja saat dihalang-halangi masuk ke halaman gereja oleh seorang security."Untuk di Diponegoro tiga-tiganya mengenakan bom yang diletakkan di pinggang. Hal itu dikuatkan dengan luka yang diderita karena rusak di bagian perutnya," jelasnya.


Beberapa jam sebelum bom meledak di tiga gereja di Surabaya pada Minggu pagi (13/5), Densus 88 Antiteror menangkap enam terduga teroris di Jawa Barat. Empat orang di antaranya tewas lantaran berusaha melawan petugas. Berdasar data intelijen aparat kepolisian, seluruh teroris itu berasal dari satu jaringan. Yakni Jamaah Anshorut Daulah (JAD). (darjat/tohir/jpg)

 

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook