Pabrik Miras Oplosan Digerebek

nurul roudhoh   |   Hukum  |   Selasa, 15 Mei 2018 - 12:36:10 WIB   |  dibaca: 199 kali
Pabrik Miras Oplosan Digerebek

MAKIN CERDIK : Kapolres Serang Kota AKBP Komarudin memeriksa bungker di salah satu rumah yang digunakan sebagai tempat untuk memproduksi miras oplosan, Senin (14/5).

SERANG - Polres Serang Kota menggerebek dua rumah yang menjadi pabrik minuman keras oplosan di Kampung Nagreg, Desa Siketug, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang, Senin (13/5). Rumah yang masing-masing memiliki luas sekitar 100 meter tersebut masuk lagi ke dalam gang sekitar 500 meter dari jalan utama Ciomas-Mandalawangi.


Rumah pertama ke rumah kedua berjarak sekitar 15 meter, atau terpaut dua rumah. Di rumah pertama, petugas menemukan bungker sebagai tempat produksi miras berukuran 3x3 meter. Bungker ditemukan di belakang rumah.

Di situ petugas menemukan alat produksi berupa mesin pres tutup botol, ember, bahan-bahan pembuat miras seperti alkohol, gula, dan bahan kimia yang masih diselidiki jenisnya. Di lokasi yang sama juga petugas menemukan puluhan dus berisi motol miras yang sudah dikemas rapi dan siap didistribusikan.


Di rumah kedua, polisi juga menemukan ribuan botol bermerek seperti miras jenis Rajawali, Kolesom, bir serta alat press tutup botol. Selanjutnya, seluruh barang bukti tersebut dibawa ke Mapolres Serang Kota. Sedangkan dua pemilik rumah produksi miras, berinisial ML dan UD sudah lebih dulu diamankan polisi.


Kapolres Serang Kota AKBP Komarudin mengatakan bahwa pabrik miras oplosan di Kampung Nagreg itu terungkap setelah adanya laporan dari masyarakat tentang adanya aktivitas yang mencurigakan.

Masyarakat sejak awal menduga bahwa rumah tersebut memproduksi miras. Warga kemudian melaporkannya ke polisi. "Setelah kita cek lokasi, tempat yang digunakan sebagai tempat produksi miras oplosan ada dua tempat. Rumah pertama milik saudara ML dan yang kedua dikediaman saudara UD, keduanya sudah kita amankan," katanya kepada Banten Raya, kemarin.


Komarudin mengatakan, bungker yang ditemukan pihaknya digunakan sebagai tempat untuk menyimpan bahan baku, memproduksi minuman oplosan dan menyimpan minuman oplosan siap distribusi."Di satu rumah di salah satu kediaman saudara ML, kita dapati dilokasi ada sebuah bunker. Disana digunakan sebagai tempat untuk produksi miras," ujarnya.


Lebih lanjut, Komarudin mengungkapkan bahan oplosan yang digunakan para pelaku terdiri dari alkohol, pemanis buatan atau gula putih dan bahan lainnya. Pengoplosan menggunakan alat manual tanpa takaran sesuai."Mereka memproduksi miras oplosan ini masih sangat tradisional. Bahan bakunya alkohol, ada campuran gula dan bahan kimia lainnya. Barang bukti ini akan kita ajukan ke lab dulu seberapa bahayanya," ungkapnya.


Dalam kasus ini, kedua pelaku dapat dijerat dengan Undang-undang RI Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan karena tidak memiliki izin edar dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. "Bisa dijerat undang-undang perdagangan dan kesehatan. Dari keterangan atau pengakuan pelaku masih baru dan itu boleh-boleh saja. Tapi menurut keterangan RT dan RW disini keduanya sudah tinggal disini sudah lebih dari 2-3 tahun. Kalau pendistribusiannya masih kita selidiki," tegasnya.


Sahroji, warga sekitar bersyukur polisi sudah membongkar tempat produksi miras oplosan tersebut. Selama ini, meski mengetahui adanya praktek produksi miras, warga tidak bisa berbuat banyak lantaran tidak pernah menemukan bukti. "Yang jelas warga senang. Sebenarnya kita sudah tahu tapi kita tidak punya bukti, apalagi warga taunya dia pengusaha jamu. Sudah lama ada sekitar 3 tahunan (produksi miras oplosan)," katanya.


Menurut Sahroji, kedua orang yang diamankan Polres Serang Kota bukanlah warga pribumi. Kedua pelaku menikahi warga desa setempat dan tinggal di situ. "Mereka pendatang (ML dan UD). Kalau bungker, kita juga baru tau sekitar 1 mingguan. Kalau ngirim barang (miras oplosan) biasanya dia menggunakan mobil APV," ujarnya. (darjat)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook