MUI Prihatin Teror Bom di Surabaya

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Selasa, 15 Mei 2018 - 15:36:42 WIB   |  dibaca: 100 kali
MUI Prihatin Teror Bom di Surabaya

PERNYATAAN SIKAP : Forum Pemimpin Majelis-majelis Agama se-Provinsi Banten bergandeng tangan sebagai simbol kebersamaan dan keberagaman beragama untuk menyikapi teror bom Surabaya, saat jumpa pers di Aula MUI BAnten, KP3B, Kecamatan Curug, Kota SErang, Senin (14/5).

SERANG- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten menyatakan prihatin atas kejadian teror bom di Surabaya, Jawa Timur, yang terjadi pada Minggu dan Senin pagi (13-14/5). Sebagai wujud perhatian, MUI Banten langsung mengumpulkan sejumlah tokoh lintas agama, untuk menyikapi dan menyatakan sikap pasca teror yang terjadi di tiga gereja dan

Polrestabes Surabaya."Disertai rasa keperihatinan yang mendalam, kami bersama-sama melakukan rapat dadakan untuk menentukan sikap bahwa kami mengecam tindakan bom bunuh diri," kata Ketua MUI Banten AM Romly saat jumpa pers di Gedung MUI Banten, Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kota Serang, Senin (14/5).


Ketua MUI Banten AM Romly mengatakan, pertemuan antara tokoh lintas agama itu dilakukan spontan atau dadakan. Hal itu dilakukan guna merumuskan sikap atas teror bom tersebut. Pertemuan itu dihadiri perwakilan MUI, Musyawarah Pimpinan Gereja-gereja (Muspija), Forum Pimpinan Gerja  Katolik (Forpijak), Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Forum Umat Budha Banten (FUB), dan Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin). Pertemuan itu melahirkan tujuh pernyataan sikap.


Pertama, pimpinan majelis-majelis mengungkapkan keprihatinan yang mendalam dan turut berbelasungkawa kepada keluarga korban yang telah kehilangan orang tercinta. Pihaknya juga mendoakan bagi mereka yang meninggal dunia semoga mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan bagi mereka yang sedang dalam perawatan segera dipulihkan kesehatannya.


Kedua, mengecam dengan keras tindakan kejahatan terorisme yang sangat keji dan biadab di luar batas kemanusiaan yang diiakukan oleh pelaku bom bunuh diri, karena tindakan tersebut bukan ajaran agama bahkan bertentangan dengan ajaran agama manapun.


"Ketiga, kami mendukung upaya aparat keamanan dan penegak hukum untuk menangkap dan menindak tegas dan tuntas kelompok teroris beserta jaringannya yang mengancam keselamatan para pemuka agama dan umat beragama serta rumah ibadahnya," ujar AM Romly yang membacakan pernyataan sikap tersebut.


Keempat, lanjut Romly, menyerukan kepada kepolisian Republik Indonesia untuk memberi perlindungan secara maksimal kepada para pemuka agama dan umat beragama serta rumah ibadahnya, khususnya di tengah tingginya aktivitas ibadah kaum muslimin di bulan suci Ramadan dan kegiatan-kegiatan hari besar keagamaan lainnya. Kelima, menyerukan kepada masyarakat Provinsi Banten agar tetap tenang namun waspada seraya terus meningkatkan silaturahmi, mempererat persaudaraan, memperteguh persatuan, menjaga kedamaian, dan memelihara kerukunan.


Keenam, menyerukan kepada masyarakat Provinsi Banten agar meningkatkan kehati-hatian serta menjauhi upaya politisasi atas kejadian tersebut karena akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi pihak korban teror. "Terakhir, menyerukan kepada masyarakat Provinsi Banten untuk tidak menyebarluaskan foto dan video korban teror melalui media sosial dan media massa demi menjaga kondusifitas dan kenyamanan kehidupan umat beragama," ujarnya.


Pada kesempatan itu, masing-masing tokoh agama juga menyampaikan pandangannya terkait teror bom di Surabaya. Perwakilan Muspija Pendetan (Pdt) Benny Halim berharap dari pertemuan ini menjadi harapan bagi seluruh umat beragama di tengah segala gejolak dan duka cita dari aksi teror, akan suasana yang aman dan damai. "Kita berharap kejadian di Surabaya tidak terjadi di Banten. Kita memiliki pengharapan, cinta kasih dan persatuan demi masa depan bangsa dan negara," kata Benny.


Menurutnya, umat beragama di Banten harus jadi umat yang cerdas. Baik umat Kristiani, Islam, Katolik, Budha, Hindu dan Konghucu di Banten harus saling menghormati dan menghargai. "Kita semua satu, membangun kemanusiaan peradaban yang lebih baik. Menurut kami, semua agama mengajarkan kebaikan, dan tindakan teror itu merupakan penghianatan terhadap agama," ujarnya.


Perwakilam Matakin Ws Rudi Gunawijaya mengaku prihatin dan belasungkawa atas teror bom di Surabaya. Ia juga menyatakan, penderitaan korban merupakan penderitaan seluruh umat beragama sebagai satu kesatuan NKRI. "Kita harus ambil hikmah, kejadian teror dapat mempererat rasa persatuan dan kesatuan di negara yang kita cintai. Jangan sampai kejadian itu buat kita pecah, tapi harus lebih pererat lagi," ujarnya.


Perwakilan dari PHDI Banten Ni Ketut Caturwati berharap teror bom tidak meluas ke daerah lain, khususnya di Banten. Ketut menilai teror tersebut merupakan usaha memecah belah keutuhan NKRI."Semua pondasi diancam. Tapi dengan adanya pernyataan sikap ini, kita berharap dapat melawan kegiatan teror yang ada," kata Catur.


Senada dikatakan perwakilan FUB PMy Yahya Santosa. Bagi umat Budha, terorisme merupkan wujud dari kebencian yang sangat bertentangan dengan ajaran agama. "Mari kita bersatu padu, terus meningkatkan toleransi dan terus memlihara kerukunan umat beragama di Banten," kata Yahya.


Perwakilan Forpijak Banten Romo Stefanus Sumardiyo Adipranoto menilai, kejadian di Surabaya menjadi lecutan untuk seluruh umat di Banten agar menjaga soliditas dan berjuang bersama-sama. Pihaknya juga mengaku prihatin atas teror bom di Surabaya. "Kita berharap di Banten selalu terjaga kerukunan dan menjadi cerminan bagi provinsi lain," ujarnya. (rahmat)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook