Kelurahan Siaga Masih Minim

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Selasa, 15 Mei 2018 - 15:41:06 WIB   |  dibaca: 83 kali
Kelurahan Siaga Masih Minim

DESA SIAGA : Suasana pertemuan lintas sektor dan lintas program kelurahan siaga aktif Kota Serang tahun 2018, Senin (14/5).

SERANG- Dinas Kesehatan Kota Serang terus mendorong agar semua kelurahan menjadi Kelurahan Siaga. Dengan menjadi Kelurahan Siaga, maka pelayanan kesehatan dapat dengan mudah diakses oleh warga.

Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan dan Promkes pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang Lenny Suryani mengatakan bahwa sampai saat ini Desa/Kelurahan Siaga di Kota Serang baru ada 42.

Sebanyak 24 di antaranya masuk kategori Kelurahan Siaga Pratama, sedangkan 18 lainnya masuk kategori Kelurahan Siaga Madya. Target Dinas Kesehatan sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2023 seluruh kelurahan yang saat ini mencapai 66 kelurahan menjadi Kelurahan Siaga.


"Adanya kelurahan siaga tergantung apakah di desa tersebut ada poskesdes (pos kesehatan desa) atau tidak," kata Lenny saat pertemuan lintas sektor dan lintas program desa/kelurahan siaga aktif Kota Serang tahun 2018 di Sambara Resto, Senin (14/5).

Lenny mengatakan bahwa salah satu syarat Kelurahan Siaga adalah harus ada poskesdes dan harus ada kader minimal 2 orang. Selain itu harus ada upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) yang meliputi adanya posyandu dan akses kesehatan, misalnya puskesmas di setiap kelurahan.

Terkait keluhan dari kelurahan mengenai anggaran untuk mewujudkan Kelurahan Siaga, Lenny mengatakan bahwa memang harus ada dana dari pemerintah. Meski demikian, peran dari masyarakat sendiri juga sangat penting. Bantuan dari ormas, perusahaan, atau badan usaha di daerah kelurahan yang bisa membantu untuk membantu berdirinya puskesmas dan berdirinya Desa Siaga juga diperlukan."Jadi enggak harus mutlak semuanya dari pemerintah," ujarnya.

Menurutnya, yang juga bisa dilakukan agar kelurahan menjadi Kelurahan Siaga adalah kelurahan mengusulkan bantuan dalam rencana pembangunan desa yang diajukan ke musrenbang. Dari musrenbang kemudian akan diajukan ke Pemerintah Kota (Pemkot) Serang sehingga menjadi RPJMD Kota Serang. Dia mengatakan harus ada inisiatif dari masyarakatnya sendiri untuk mengajukan. Kalau tidak diajukan akan susah mewujudkan Kelurahan Siaga.

Lenny menyebutkan, kendala pembentukan Kelurahan Siaga adalah belum adanya kesadaran masyarakat untuk melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), salah satunya memiliki jamban. "Kendala lain adalah, belum adanya kerjasama lintas sektoral yang baik. Padahal koordinasi lintas sektoral juga sangat penting," katanya.

Wakil Walikota Serang Sulhi meminta aparat kelurahan agar memaksimalkan peran dalam mengembangkan Kelurahan Siaga. Sebab sampai saat ini pembentukan Kelurahan Siaga aktif di Kota Serang belum optimal.


Menurutnya, kelurahan siaga aktif adalah kelurahan yang penduduknya dapat mengakses kesehatan dengan mudah melalui poskesdes, pustu atau pelayanan puskesmas. Serta penduduknya dapat mengembangkan unit kesehatan berbasis masyarakat (UKBM).


 "Jadi aparat kelurahan dapat memantau penyakit terkait kesehatan ibu, anak dan gizi, lingkungan dan perilaku masyarakat. Sehingga masyarakatnya dapat menerapkan PHBS," ujar Sulhi dalam dalam sambutan tertulisnya.

Ketua Bidang Sosial Budaya Forum Kota Serang Sehat (FKSS) mengatakan bahwa upaya menciptakan kampung sehat di Kota Serang kerap menghadapi kendala dari pemangku kepentingan seperti RW. Bahkan ketika FKSS akan memulai kampung sehat binaan ada penolakan dari beberapa RW.

Sejumlah RW yang menolak itu adalah RW di Kampung Penancangan Prisma, Kecamatan Cipocok Jaya, dan Kampung Dangdeur, Kelurahan Penancangan. Ironisnya, alasan yang disampaikan mengenai penolakan itu juga kerap tidak jelas. (tohir)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook