Jam Istirahat Rawan Kecurangan

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Selasa, 15 Mei 2018 - 15:44:03 WIB   |  dibaca: 163 kali
Jam Istirahat Rawan Kecurangan

SIMULASI TUNGSARA : Suasana warga memberikan hak suaranya pada acara perhitungan suara (Tungsura) pada Pilkada Kota Serang tahun 2018 di Alun-alun Barat, Kota Serang, Senin (14/5). Kegiatan ini lebih tahu dan paham tata cara mencoblos.

SERANG- Jam istirahat di tempat pemungutan suara (TPS) merupakan waktu rawan terjadi kecurangan. Karena itu saat jam istirahat, baik anggota KPPS, saksi pasangan calon, dan pengawas pemilu diminta tidak meninggalkan TPS.

Ketua Panwaslu Kota Serang Rudi Hartono mengatakan bahwa kerawanan kecurangan di TPS biasa terjadi saat jam makan siang sekitar pukul 12.00. Pada saat itu penyelenggaran pemilu tingkat paling bawah dan saksi dari tiga pasangan calon sudah mulai lelah dan lapar. Karena itu konsentrasi sudah mulai menurun karena pada saat yang sama juga masuk waktu salat.


"Titik-titik rawan di TPS biasanya saat jam makan (jam istirahat). Maka kami mengarahkan TPS tidak boleh kosong," ujar Rudi saat simulasi pemungutan dan penghitungan suara di Alun-alun Barat Kota Serang, Senin (14/5).

Agar TPS tidak kosong maka para anggota KPPS, pengawas, dan saksi harus makan di TPS. Sedangkan untuk salat, karena tidak mungkin dilakukan di dalam TPS, bisa dilakukan secara bergantian. Ini untuk mengantisipasi TPS kosong, karena bila kosong maka bisa terjadi kecurangan, misalkan dengan mengubah coblosan surat suara.

Rudi mengatakan bahwa pihaknya sengaja menciptakan kesalahan-kesalahan dalam simulasi ini untuk menguji kesiapsiagaan pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara pada saatnya nanti."Sengaja kita lakukan kesalahan-kesalahan yang biasa terjadi di TPS supaya saat pelaksanaan siap. Kita pun antisipasi kecurangan-kecurangan di TPS," ujarnya.

Ia mengatakan bahwa yang perlu diwaspadai juga adalah adanya satu pemilih yang masuk dua kali di TPS. Atau pemilih yang menggunakan surat undangan/pemberitahuan memilih (formulir C6) atas nama orang lain.

Ketua KPU Kota Serang Heri Wahidin mengatakan bahwa tujuan simulasi ini adalah KPU ingin melihat kesiapan dan pemahaman anggota KPPS terkait tata cara pencoblosan dan penghitungan suara.

Dengan simulasi ini bila ada kesalahan maka bisa menjadi evaluasi perbaikan ketika saat pelaksanaan 27 Juni nanti. Selain itu KPU juga ingin melihat pemahaman ketujuh anggota KPPS karena setiap anggota KPPS memiliki tugas dan fungsi berbeda."Kita juga ingin tahu berapa durasi proses pencoblosan," ujarnya.

Dalam simulasi ini KPU Kota Serang menggunakan 250 surat suara. KPU berkeinginan tidak ada surat suara yang dinyatakan tidak sah oleh KPPS. Setidaknya ada tiga penyebab mengapa surat suara dinyatakan tidak sah. Pertama, surat suara tidak ditandatangani oleh KPPS. Kedua, surat suara tercoblos di dua kolom yang berbeda.

Ketiga, ada coretan tangan di surat suara. Heri juga mengingatkan pemilih hanya boleh nyoblos bila ia membawa KTP elektronik atau surat keterangan meski namanya sudah ada dalam daftar pemilih tetap.

Sebaliknya pemilih yang meski namanya tidak ada dalam DPT namun membawa KTP elektronik atau surat keterangan tetap bisa nyoblos."Anggota KPPS yang menerima pemilih harus punya mental yang kuat ketika menemui pemilih yang tidak memenuhi syarat," ujarnya. (tohir)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook