Fisip Untirta Gelar Seminar Politik

nurul roudhoh   |   Pendidikan  |   Rabu, 16 Mei 2018 - 14:31:48 WIB   |  dibaca: 101 kali
Fisip Untirta Gelar Seminar Politik

SEMINAR : Komisioner KPU Banten Enan Nadia (tengah) menyampaikan materi dalam seminar politik, kemarin.

SERANG – Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (FISIP), Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) melaksanakan Seminar Nasional dengan tema ‘Pendidikan Politik Menjelang Pesta Demokrasi Indonesia Berbasis Literasi Informasi’, Selasa (15/5).


Kegiatan yang dilaksanakan di  Auditorium Gedung B Untirta tersebut dihadiri Komisioner KPU Banten Enan Nadia, Arif Kirdiat selaku tokoh pendidikan politik masyarakat Banten dan Leo Agustino Akademisi FISIP Untirta.


Fauzan Abdillah, Ketua Pelaksana menyampaikan kegiatan ini digelar salah satu bentuk kepedulian Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Untirta terhadap pendidikan politik masyarakat. “Kami memiliki beban moral, karena kami ingin memberikan pendidikan politik kepada orang di sekitar yang belum mengetahui apa itu esensi dari pemilu,” katanya.


Senada dengan Ketua Pelaksana, Kajur Ilmu Pemerintahan FISIP Abdul Hamid dalam sambutannya mengatakan, tingkah laku, sikap dan sifat manusia di dunia maya bisa berbeda sekali dengan keseharian.“Informasi saat ini menjadi tidak ada batas ruang dan waktu, perkembangannya begitu cepat. Diskusi ini menjadi penting untuk kita menjadi paham, dan mampu memfilter dan memverifikasi informasi khususnya yang berkaitan dengan Pemilu,” kata Abdul Hamid.


Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Kandung Sapto Nugroho S.Sos., M.Si menyampaikan, pendidikan politik sangat penting, terlebih sebagai akademisi memiliki kewajiban untuk mengkontrol pemerintah sebagai pemangku kebijakan. “Semua informasi dan komunikasi di dunia maya harus tetap dalam bingkai NKRI,” ujarnya.


Dra. Hj. Enan Nadia salah seorang pemateri mengatakan, masyarakat Banten harus mengetahui dengan jelas terkait pemilu serentak yang tahun depan akan dilaksanakan. “Pendidikan politik harus terus disosialisasikan untuk masyarakat Banten,” kata Enan.


“Berkaitan dengan tahun politik 2019, ada persoalan baru karena Pemilu 2019 akan berbeda dengan Pemilu sebelumnya. Karena dilakukan sistem paket, paket pemilihan legislatif dan Presiden,” sambung Enan Nadia.


Ia juga menjelaskan terkait budaya politik yang berkaitan dengan partisipasi pemilih. KPU dalam upaya memberikan pendidikan politik sebagai sarana meningkatkan partisipasi pemilih, secara masiv telah menyediakan rumah pintar pemilu, website dan sosial media.


Arif Kirdiat, tokoh pendidikan politik di Banten menjelaskan tentang fakta-fakta yang ditemukan di lapangan perihal pemilu. “Esensi demokrasi jangan sampai hilang dalam penyelenggaraan Pemilu. Masyarakat kampung menganggap pemilu itu salah satu wahana hiburan yang menarik, sedangkan orang kota kebanyakan bersikap acuh terhadap pemilu. Ini fakta,” tegas Arif.


“Ini yang harus kita carikan solusi bersama, agar demokrasi tetap terjaga dalam penyelenggaraan pemilu dengan memanfaatkan peran media informasi yang perkembangannya sangat cepat,” sambung Arif.


Narasumber terakhir Leo Agustino mewakili kalangan akademisi menyampaikan, didalam pendidikan politik yang penting adalah membangun persepsi. “Persepsi seseorang itu bisa mengaburkan fakta,” katanya. (satibi)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook