Anak Teroris Diasuh Negara

nurul roudhoh   |   Nasional  |   Jumat, 18 Mei 2018 - 14:15:45 WIB   |  dibaca: 134 kali
Anak Teroris Diasuh Negara

PENGGELEDAHAN : Polisi berjaga-jaga saat berlangsungnya penggeledahan rumah terduga teroris Hari Sudarwanto yang tewas dalam penggerebekan di Sidoarjo, di Perumahan Bumi Singosari Raya, Kelurahan Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (17/5).

SURABAYA – Ulah para pelaku teror bom di Surabaya dan Sidoarjo serta terduga teroris yang tewas membuat anak-anak mereka kini menjadi yatim piatu. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merekomendasikan asesmen menyeluruh terhadap anak-anak tersebut beserta kerabatnya. Tidak tertutup kemungkinan negara mengambil alih pengasuhan anak-anak tersebut.

Hal itu disampaikan Ketua KPAI Susanto setelah menemui Gubernur Jatim Soekarwo di kantor gubernur Jatim kemarin (17/5). Dia menegaskan, anak-anak yang berkaitan dengan para pelaku teror diposisikan sebagai korban. Meski, mereka dilibatkan secara langsung dalam penyerangan seperti yang terjadi di Mapolrestabes Surabaya, Senin (14/5).

Saat ini ada tujuh anak yang traumanya sedang dipulihkan psikolog Polda Jatim. Mereka adalah Ais, 8, putri pelaku teror bom Mapolrestabes Surabaya Tri Murtiono. Kemudian, AR, 15; FP, 11; dan GHA, 10, anak-anak Anton Ferdiantono, terduga teroris di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Selanjutnya, DNS, 14; AISP, 10; dan HA, 6, anak-anak Dedy Sulistianto, terduga teroris yang tewas dalam operasi di Manukan, Surabaya.

Menurut Susanto, anak-anak tersebut perlu mendapat atensi khusus. Mereka dinaungi UU Perlindungan Anak. Selain kondisi psikologis mereka, yang harus menjadi perhatian adalah orang-orang di sekitar mereka. Yakni, keluarga yang akan mengasuh anak-anak tersebut setelah orang tua mereka tewas. ’’Jangan sampai teralihkan ke orang yang terinfiltrasi radikalisme,’’ ujarnya setelah pertemuan.

Karena itu, pihaknya merekomendasikan penilaian menyeluruh terhadap anak-anak itu. Seberapa jauh pengenalan mereka terhadap ideologi orang tuanya, kondisi psikologisnya, kesehatannya, hingga kerabat orang tuanya. Sebab, infiltrasi radikalisme melalui parenting merupakan sebuah pola baru.

Bila masih ada trauma, harus ada rehabilitasi sampai tuntas meski membutuhkan waktu lama. Begitu pula dengan pengasuhan. Sangat bergantung hasil asesmen terhadap anak-anak itu dan keluarga di sekitarnya. ’’Kalau ternyata (keluarga) nggak tepat untuk melakukan pengasuhan, ya bisa saja diasuh di lembaga pengasuhan yang tepat bagi perkembangan yang bersangkutan,’’ lanjut Susanto.

Hanya, dia mengingatkan, pengasuhan oleh negara melalui lembaga yang ditunjuk merupakan pilihan terakhir. Semua dilakukan demi masa depan anak-anak tersebut. ’’Dinas sosial punya hak untuk menentukan siapa yang berhak untuk mengasuh,’’ tambahnya.

Sementara itu, mantan Kepala Tim Perakitan Bom Jamaah Islamiyah (JI) Jawa Timur Ali Fauzi Manzi mengatakan, banyak masyarakat kerap kali menganggap aksi terorisme yang terjadi merupakan rekayasa demi kepentingan kelompok tertentu. Hal ini salah satu penyebab sulitnya melakukan deradikalisasi.


"Halangan utama program deradikalisasi adalah beragamnya perpekstif masyarakat Indonesia tentang tindak pidana terorisme. Sebagaian besar masih menyakini terorisme di Indonesia rekayasa, operasi intelijen, pengalihan isu, dan lain-lain," ungkap Ali di Gedung Widya Graha LIPI Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (17/5).


Pendiri rumah deradikalisasi Lingkar Perdamaian itu menegaskan, cara pandang tersebut salah. Aksi terorisme memang ada. Tindakan kekerasan ini dilakukan oleh sekelompok orang yang ingin memecah belah masyarakat.


Lebih lanjut, adik gembong teroris Amrozi dan Ali Imron itu menjelaskan bahwa program deradikalisasi itu sangat penting. Bukan hanya untuk yang telah terpapar paham radikal itu, namun yang belum terkena ajaran sesat itu juga harus dicegah agar tidak terjerumus."Tentu deradikalisasi yang belum terpapar penting, yang sudah terpapar juga penting, apalagi yang mantan (napiter). Tentu rumusannya berbeda," jelas Ali.


Polda Jatim kemarin merilis tangkapan tersangka teroris di Jatim. Dari rilis kemarin, sebanyak 23 tersangka teroris ditangkap pasca bom bunuh diri di tiga gereja dan di Mapolrestabes Surabaya. Jumlah itu termasuk tangkapan terakhir di Probolinggo dan Sidoarjo pada Rabu (16/5) malam lalu. Dari penangkapan kemarin, satu orang ditembak mati karena melakukan perlawanan.

“Ada yang menyerahkan diri satu, ketika kami melakukan penangkapan di Sidoarjo,” ucap Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin, kemarin.    Penangkapan tersebut, terus berlangsung hingga ke Probolinggo. Mereka kembali menangkap tiga terduga teroris. Mereka kemudian diketahui bernama, Muhammad Fatwa, Irvan Suhardianto, dan Harits Arifin. Mereka ditangkap di kediamannya masing-masing. Dua diantaranya berada di Kecamatan Wonoasih, Kabupaten Probolinggo.

Yang mengejutkan adalah, salah satu terduga teroris merupakan seorang guru berstatus aparatur sipil negara (ASN). Dia adalah Harits Arifin. Sehari-hari, dia mengajar sebagai guru Bahasa Inggris di SMKN 1 Kotaanyar, Probolinggo. Statusnya di sekolah tersebut merupakan seorang wali kelas, dari XII TKR (teknik kendaraan ringan) 3.

Dikonfirmasi tentang hal tersebut, Machfud hanya membenarkan tentang adanya terduga teroris yang berstatus ASN. Dia tidak menjelaskan lebih lanjut, tentang bagaimana statusnya sebagai tersangka teroris mempengaruhi Harits. “Sepertinya, sudah menjadi logika jika dia ditetapkan sebagai tersangka secara hukum, status dia akan hilang, tapi saya tidak tahu lagi,” tegas pria asli Ketintang, Surabaya tersebut.

Di Riau, Densus 88 Antiteror terus memburu sejumlah orang untuk mengusut tuntas kasus penyerangan Mapolda Riau yang terjadi Rabu (16/5). Kemarin (17/5) mereka sudah mengamankan delapan orang. Seluruhnya masih satu keluarga dan berkerabat dengan lima terduga teroris yang beraksi dua hari lalu. Mereka diamanakan untuk dimintai keterangan oleh petugas.


Kabagpenum Divhumas Polri Kombes Syahar Diantono menyampaikan bahwa delapan orang tersebut terdiri atas HAR, NI, AS, SW, HD, YEP, DS, dan SY alias IJ. ”Polda Riau bersama Densus (88 Antiteror) telah melakukan upaya-upaya penggeledahan terhadap teman-teman tersangka yang kemarin (Rabu) sudah kami identifikasi,” terang perwira menengah Polri yang lebih akrab dipanggil Syahar itu.


Berdasar data dari Densus 88 Antiteror dan Polda Riau, petugas turut mendapati sejumlah barang bukti dari delapan orang yang sudah diamankan. Di antaranya satu pucuk senapan angin, satu kantung plastik paku, satu keping VCD berjudul Umar bin Khattab, dua buah pisau, gulungan tembaga, dan beberapa buku tentang jihad serta ISIS. Selain itu, aparat juga mengamankan dua buah kitab, satu KTP, dan satu dompet.

 
Menurut Syahar, sampai kemarin sore delapan orang tersebut masih diperiksa oleh petugas. ”Sedang dilakukan upaya-upaya pemeriksaan dan pendalaman,” imbuhnya. Dia memastikan, hasil pemeriksaan akan disampaikan kepada publik setelah prosesnya tuntas. Sesuai ketentuan, Polri punya waktu untuk menyimpulkan apakah orang-orang yang mereka amankan terlibat kasus terorisme atau tidak. (jpg)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook