Selama Ramadan, Didi Bisa 4-5 Kali Umroh

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Senin, 21 Mei 2018 - 11:14:39 WIB   |  dibaca: 294 kali
Selama Ramadan, Didi Bisa 4-5 Kali Umroh

RINDUKAN TANAH AIR : Didi Ubaedillah, salah satu warga Pandeglang yang bekerja di Jeddah, Arab Saudi.

KOTA CILEGON - Banyak warga Indonesia yang ada di luar negeri. Terutama para TKI. Arab Saudi merupakan negara tujuan TKI yang paling banyak, selain di Malaysia. Jumlahnya mencapai 10.006 orang (Data BNP2TKI, 2017).

Mereka ada yang sudah bertahun-tahun tinggal di negara tempat mereka kerja, bahkan tidak sedikit yang harus merelakan kumpul keluarga saat hari-hari spesial, seperti Ramadan dan Lebaran. Lalu, bagaimana mereka ber-Ramadan di negeri orang.

Meski memiliki agama yang sama, negara satu dengan yang lain tentu memiliki tradisi yang berbeda saat berpuasa. Begitu halnya dengan Arab Saudi, yang menjadi salah satu tujuan TKI terbanyak dari Indonesia. Para TKI asal Banten tentu tidak akan menjumpai makanan khas Ramadan, seperti Ketan Bintul.

Atau Apem Putih khas Pandeglang. "Yang membedakan dengan puasa di Indonesia  suasananya, di Indo jenis bukaan puasanya lebih variatif dan inovatif," kata Didi Ubaedillah, salah satu warga Pandeglang yang bekerja di Jeddah, Arab Suadi. Alumni STIE Al Khairiyah, Kota Cilegon ini saat ini bekerja di perusahaan kabel.


Ramadan tahun ini merupakan ramadan kesembilan Didi di luar negeri (LN). Sebelum di Jeddah, Didi bekerja di Riyadh (Arab Saudi), dan Abu Dabhi, Uni Eropa Arab. "Tahun ke 9 puasa dan hari raya di LN. Di Riyadh KSA (Kingdom of Saudi Arabia) 5 kali, tahun  2008, 2009, 2010, 2011, dan 2012. Di Abu Dhabi UAE (United Arab Emiratees/Uni Emirat Arab) 1 kali 2013, dan di Jeddah KSA 3 kali, tahun 2016, 2017 dan 2018," kata Didi.


Di Riyadh, Didi kerja di perusahaan Cabel Manufactur, sedangkan di Abu Dhabi kerja di perusahaan fish market and ice factory. Di Jeddah sekarang di perusahaan kabel juga.
"Magrib time now.... Sholat dulu bos," kata Didi saat itu jam menunjukkan sekitar pukul 23.00 WIB. Ya, di Indonesia waktunya lebih cepat dibanding di Arab Saudi. Selisihnya hingga 4 jam-an.


Menurut Didi, kehidupan di Riyadh sangat ketat, karena dekat dengan kerajaan. Terlebih lagi di bulan puasa. Masalah legalitas pekerja, yaitu card residence, kemudian jam waktu salat toko-toko harus tutup, perempuan Arab/non Arab juga harus pakai abaya. Baju hitam jubah.


Tapi, Ramadan di Riyadh asyiknya lagi banyak umroh gratis dari Jaliat /Islamic Center. "Selama Ramadan bisa 4-5 kali umroh.... walaupun perjalanan Riyadh-Makkah 13 jam. Pake mobil bus," ungkap lelaki berkaca mata ini.


Beda lagi waktu Ramadan di Abu Dhabi. Buka puasanya lebih terjamin dan banyak orang-orang kaya yang berlomba-lomba memberi makan buka puasa. "Kami hanya masak untuk sahur. Jika diperlukan," ungkapnya.


Cuma, Abu Dhabi tidak seketat di Riyadh. Waktu salat masih ada toko yang buka, pakaian perempuan bebas pakai singlet dan celana pendek di atas lutut pun banyak dilihat di mal-mal dan fish market. Bar dan biliar pun masih buka. Karena banyak turis Eropa, Amerika, Australia, dll.


"Setahu saya yang ketat itu peraturan lalu lintas....kecepatan kendaraan, gak pake sabuk pengaman, tempat parkir, tempat ngerokok dan tempat penyeberangan pejalan kaki pun ada aturannya....kalo dilanggar ada denda yang harus dibayar. Paling telat sebelum penerbangan di airport... Jika kita pernah didenda, terus belum bayar kita gak bisa pulang ke Indonesia," tutur suami dari Suhaila Umi ini.


Dan, sekarang di Jeddah, Arab Saudi. Puasa Ramadan-nya lebih panjang dibanding di Indonesia, karena waktu siang lebih lama dari pada malam hari. Puasa bisa 14-15 jam. "Kalo di sini kami sering iftor/buka bersama di masjid... Gratis. Menunya biasanya nasi daging, aqua, laban, jus, samusa, buah-buahan, bubur surbah, makaroni dan spageti," ungkap bapak dua orang anak ini.


Selain waktu puasa di Arab lebih panjang dari Indonesia, iklim atau cuaca di Arab juga lebih panas dari Indonesia. Bisa mencapai 44 derajat celsius. Dan, dinginnya tidak terlalu seperti di Riyadh. Untuk sahur, kata Didi, masak di mes jika diperlukan karena makanan melimpah, terutama kurma. Kalau bareng keluarga tinggal di Arab-nya beda lagi ceritanya, pasti semua ada yang masakin.


Meski begitu, hari kerja di Arab pada bulan Ramadan hampir sama dengan di Indonesia. Dikurangi sekitar dua jam-an. "Kalo jam kerja 8 jam jadi 6 jam, yang kerja 10 jam jadi 8 jam, dan yang kerja 12 jam jadi 10 jam," ungkapnya lagi.


Di tempat kerja saat ini di Jeddah, Didi mengaku lebih enak, karena bisa salat tarawih di Masjidil Haram. Selain itu, juga bisa umroh pada bulan penuh berkah ini saat libur kerja. "Itu menurut saya bonusnya yang kerja di Arab deket ke Makkah," ucapnya.


Begitu juga saat Lebaran. Suasananya sangat beda dengan Indonesia, yang sering ada takbir keliling dan lainnya. Di Arab Saudi, setelah salat Ied warganya hanya memperbanyak baca quran. "Di sini takbirannya habis salat doang udah, selebihnya perbanyak baca quran. Itu pun gak pake speaker kayak di kita, tadarusan. Masing-masing aja memperbanyak bacaan qurannya," imbuhnya.


Didi mengaku rindu suasana dan tradisi puasa di Indonesia, seperti buka puasa bersama atau halal bihalal usai Lebaran. Makanya, saat libur hari raya digunakan oleh WNI mengadakan acara kumpul-kumpul. "Kalau libur hari raya acara satean dan makan bersama (halal bihalal)," kata Didi yang mengaku pernah ditunjuk sebagai ketua paguyuban atau IDS (iuran dana sosial) untuk membantu orang Indonesia yang bekerja di perusahaan kabel.


Marwati, salah satu TKW di Riyadh, Arab Saudi juga menambahkan, di negara tempatnya bekerja juga harus ada makanan yang rasanya manis saat puasa. "Kalau puasa di Indo (Indoensia) mah rame banyak orang ngaji (pakai pengeras suara). Tapi, no (tidak_red) di Arab mah. Sepi puasanya," kata Marwati mengaku tahun ini tahun ketujuh kerja di luar negeri.

Sebelum di Riyadh, Marwati pernah kerja di Abu Dhabi. Wanita yang telah dikaruniai satu orang anak ini bekerja sebagai asisten rumah tangga. Seperti pepatah, hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. (MARJUKI AHMAD)

 

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook