Hasil Panen Padi Turun 70 Persen

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Rabu, 23 Mei 2018 - 13:58:43 WIB   |  dibaca: 124 kali
Hasil Panen Padi Turun 70 Persen

CUACA TAK TENTU : Seorang petani di Desa Kramatwatu, Kecamatan Kramatwatu membajak swah untuk ditanami padi, Selasa (22/5).

SERANG – Hasil panen padi pada musim panen pertama tahun 2018  mengalami penurunan yang sangat signifikan, yaitu sampai dengan 70 persen. Penurunan hasil panen terjadi, karena tanaman padi diserang hama wereng batang cokelat (WBC), yang menyebabkan padi tidak tumbuh maksimal. Selain itu, para petani enggan menggunakan benih varietas baru yang tahan dengan serangan WBC.


Kabid Tanaman Pangan Hortikultura Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Serang Zaldi Dhuhana mengatakan, hasil panen pada Januari, Februari, dan Maret tidak optimal. “Sekarang petani sudah mulai menanam lagi, tapi memang hasil panen bulan lalu mengalami penurunan. Untuk yang varietas Ciherang penurunannya sampai 70 persen, sedangkan untuk varietas lain penurunannya 20 persen,” kata Zaldi, Selasa (22/5).


Ia mengungkapkan, hasil panen pada awal 2018 hanya menghasilkan 200 ribu ton gabah kering giling, dari yang seharusnya mencapai 300 ribu ton lebih. “Kalau sampai dengan Desember, diperkirakan hasil panen kita bisa mencapai 520 ribu ton gabah kering giling. Itu target kita. Untuk musim tanam sekitar dua kali lagi. Kebetulan di awal tahun kemarin cuaca berubah-ubah dan tidak menentu. Kadang panas, kadang hujan,” ujarnya.


Adapun penyebab dari menurunnya hasil panen tersebut, lanjut Zaldi, yaitu tanaman padi diserang WBC yang membawa virus dan menyebabkan padi rusak. “Jenis virusnya itu seperti virus kerdil hampa rice ragged stunt virus (RRSV) dan virus kerdil rumput rice grassy stunt virus (RGSV). Jadi wereng itu membuat tanaman padi mati karena disedot cairannya, terus tumbuhnya enggak maksimal dan tidak berbunga,” tuturnya.


Untuk mencegah agar serangan WBC tidak terulang lagi, Zaldi mengungkapkan, pihaknya telah menyampaikan imbauan kepada pertani agar tidak memakai benih Ciherang. “Benih varietas Ciherang itu rentan terkena serangan hama wereng, makanya kita dorong petani menggunakan variasi yang baru, seperti invari 32, invari 33, invari 30, dan 42 yang relatif tahan serangan hama wereng,” paparnya.


Namun demikian, para petani masih enggan menggunakan benih varietas baru tersebut, karena dari sisi rasa kurang disukai oleh mereka. “Ini memang dilema, ada varietas baru yang tahan serangan wereng tapi dari sisi lain rasanya kurang disukai petani. Kalau invari 32 dan invari 42 rasanya mirip-mirip beras Ciherang. Kita coba terus varietasnya diperbanyak, kemudian dari segi pengamatan di lapangan harus terus ditingkatkan, agar tidak kebobolan lagi,” katanya. (tanjung)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook