Warga Jepang yang Khawatir Kesehatan Orang Islam

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Rabu, 23 Mei 2018 - 14:20:37 WIB   |  dibaca: 5258 kali
Warga Jepang yang Khawatir Kesehatan Orang Islam

PENGALAMAN PERTAMA : Yeni Januarsi, dosen akuntansi Untirta di Kota Fukuoka, Jepang.

KOTA SERANG - Banyak pengalaman menarik yang dialami warga Banten yang berpuasa di luar negeri. Salah satunya adalah Yeni Januarsi, dosen akuntansi Untirta yang sedang mengambil program doktoral di Kyushu University.

Bagi Yeni, ini adalah puasa pertamanya di Jepang. Meski demikian, Yeni berusaha beradaptasi dengan baik. Menurutnya, puasa di Jepang, tepatnya Kota Fukuoka, tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Bedanya cuma satu, di Jepang, Yeni menjadi bagian dari minoritas dan jam puasa lebih panjang jadi 16 jam.


Aura Ramadan di Jepang tak seramai seperti di Tanah Air. Tidak ada suara mengaji yang bersahutan dari satu masjid ke masjid lain. Tidak ada sahur keliling, tidak ada iklan sirop atau sarung seperti ramai ditayangkan televisi. Puasa seperti hari-hari biasa saja.


Kendati demikian, warga Jepang mayoritas sudah mengetahui jika umat Islam berpuasa dan menjalankan ritual menahan tidak makan dan minum dari subuh sampai magrib.
“Jika ingin buka puasa dengan warga Indonesia lainnya, biasanya kami berbuka puasa di satu-satunya masjid yang berada di Fukuoka City,” kata Yeni melalui telepon, Selasa (22/5).


Masjid bernama Masjid Fukuoka tersebut tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Yeni. Hanya 10 menit berjalan kaki. Setiap warga negara asing yang beragama muslim dipercaya oleh pengurus masjid, untuk menyediakan makanan berbuka puasa satu pekan sekali.

Makanan yang disediakan merupakan ciri khas dari negara asal. Dari Indonesia, ya kolak, gorengan, sambal, seperti sehari-hari di Tanah Air.“Untuk warga negara Indonesia mendapatkan kepercayaan untuk menyiapkan makanan buka puasa pada tanggal 31 Mei mendatang,” ujar Yeni.


Untuk menyiapkan buka puasa bersama itu, pihaknya harus tiba di masjid 1,5 jam sebelum buka puasa. Waktu itu dipergunakan untuk mempersiapkan tempat, makanan, dan buah-buahan untuk buka puasa.


Masjid Fukuoka terdiri dari tiga lantai. Makanan akan diangkut dari lantai 1 ke lantai 3. Sebelum Isya, semua peralatan dan perkakas bekas berbuka harus sudah dibersihkan. “Dalam menyiapkan ini, warga negara Indonesia saling bergotong royong menyiapkan makanan untuk berbuka puasa,” ungkapnya.


Kendati harus menjalankan ibadah puasa selama 16 jam, Yeni mengaku tidak masalah. Setiap hari ia disibukan dengan perkuliahan dan tugas kuliah. Jadi waktu yang dilalui pun menjadi tidak terasa.“Toleransi antar agama sangat tinggi, terlebih hubungan antar manusia sangat bagus," katanya.


Saking tolerannya, warga Jepang terkadang sangat mengkhawatirkan umat Islam yang menjalankan ibadah puasa. Mereka sering bertanya apa tidak apa-apa warga muslim tidak makan sama sekali dari pagi sampai sore. Pertanyaan itu yang sering diulang terus setiap hari. (SATIBI)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook