Kedokteran Tidak Kenal Khitan Perempuan

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Rabu, 23 Mei 2018 - 14:24:28 WIB   |  dibaca: 186 kali
Kedokteran Tidak Kenal Khitan Perempuan

MASIH PROKONTRA : Maidani Werdi Astuti, Asisten Deputi (Asdep) Partisipasi Organisasi Keagamanan dan Kemasyarakatan pada Kementerian PPA (tengah) berbincang sebelum menyampaikan materinya, Selasa (22/5).

SERANG – Khitan terhadap alat vital perempuan yang lumrah di sebagian masyarakat ternyata tidak dikenal di bidang kedokteran. dr Muhammad Fadli dari Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak mengatakan bahwa dampak khitan terhadap perempuan sangat kompleks, diantaranya bisa menimbulkan komplikasi pada organ seksual dan kesehatan reproduksi.

“Apabila tidak ada indikasi medis, maka hal tersebut dilarang untuk dilakukan. Terlebih dilakukan oleh dokter atau bidang yang tidak memiliki sertifikasi, untuk melakukan tindakan medis tersebut,” kata Fadli di sela kegiatan Kegiatan Sosialisasi Pedoman Female Genital Multilation/Cutting (FGM/C) bagi tokoh agama di Provinsi Banten, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, di Hotel Ledian, Kota Serang, Selasa  (22/5).


Ia menuturkan, pemotongan klitoris yang dikenal di khitan perempuan bisa menimbulkan sakit yang luar biasa karena klitoris memiliki pembuluh darah yang banyak dan organ yang sangat sensitif.“Jika klitoris dipotong maka bisa mengakibatkan pendarahan. Berdasarkan sumber dari WHO, jika terjadi pendarahan di klitoris bisa menyebabkan kematian, dan jika terjadi luka pada bagian klitoris bisa menyebabkan inveksi,” ungkapnya.


“Jika pemotongan dilakukan pada bagian bawah klitoris yang menjadi mura saluran air seni, maka bisa mengakibatkan infeksi. Bahkan, bisa menjadi penyempitan dan rapat pada lubang air seni,” sambung Fadli.


Jumlah peristiwa khitan perempuan di Banten, lanjut Fadli, nomor 3 terbesar se-Indonesia. Sedangkan nomor satu berasal dari Provinsi Gorontalo. Di Banten sendiri, pernah ada kasus khitan perempuan yang mengakibatkan kematian karena disebabkan pendarahan.


“Untuk angka pastinya harus minta sama rekan saya Ibu Maria, saya tidak bisa mempublish, karena angka tersebut merupakan hasil penelitian Ibu Maria. Namun yang jelas khitan laki-laki berbeda dengan perempuan. Jika laki-laki memang harus dikhitan, karena untuk membuang kotoran, dan dianjurkan dari sisi medis. Sedangkan, khitan perempuan tidak ada anjuran medisnya. Bahkan, ikatan dokter Indonesia sendiri sudah meninggalkan khitan perempuan,” ujar Fadli menjelaskan.


Berdasarkan data dari Kementerian PPA, dampak dari khitan permepuan ini bisa mengakibatkan gangguan kesehatan pada rahim, masalah pada urinary, permasalahan seksual bahkan bisa beresiko pendarahan hebat hingga kemarin.


Maidani Werdi Astuti, Asisten Deputi (Asdep) Partisipasi Organisasi Keagamaan dan Kemasyarakatan pada Kementerian PPA mengatakan, kegiatan ini merupakan program dari pemerintah pusat dan sudah menjadi isu dunia.“Khitan perempuan ini merupakan tradisi budaya dan agama, bukan berdasarkan sudut pandang medis,” katanya.


Ia mengatakan, khitan terhadap perempuan bisa sangat berbahaya bagi masa depan anak. Baik dari segi kesehatan maupun kejiwaan bagi anak. Kehadiran Kementerian PPA ini untuk memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat bahwa khitan perempuan tidak dibenarkan menurut medis.


“Khitan perempuan salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan, karena mengakibatkan anak perempuan merasa sakit dan bisa terbawa sampai dewasa. Bahkan ada testimony dari seorang perempuan yang melakukan khitan perempuan ini, bahwa dirinya merasa trauma terhadap khitan yang dijalaninya,” ujarnya.


Kegiatan ini bertujuan, lanjutnya, untuk memberikan edukasi dan upaya pencegahan khitan perempuan dengan melakukan pendekatan kepada tokoh agama. Hal tersebut agar tidak menimbulkan perdebatan ditengah masyarakat.“Kami sudah melakukan kajian dari sudut pandang agama dan kesehatan terhadap khitan perempuan ini,” imbuhnya. (satibi)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook