Hendri Menangis di Persidangan

nurul roudhoh   |   Hukum  |   Kamis, 24 Mei 2018 - 15:21:41 WIB   |  dibaca: 723 kali
Hendri Menangis di Persidangan

MENANGIS : Hendri, terdakwa kasus suap Amdal Transmart Cilegon menangis saat membacakan nota pembelaan, di ruang sidang Pengadilan Tipikor Serang, Kota Serang, Rabu (23/5).

SERANG - Terdakwa kasus suap izin analisis dampak lingkungan (Amdal) pembangunan Transmart Cilegon, Hendri menangis di persidangan tindak pidana korupsi (Tipikor) Pengadilan Negeri Serang, saat membacakan pledoi atau pembelaan di hadapan Majelis Hakim dan Jaksa Penuntut Umum, Rabu (23/5).


Sidang pembacaan pledoi Hendri, merupakan sidang lanjutan pembacaan pledoi dari dua terdakwa lainnya yaitu Walikota Cilegon nonaktif Tubagus Iman Ariyadi, dan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Cilegon Ahmad Dita Prawira yang sempat tertunda.


Hendri mengatakan, keterlibatannya dalam kasus ini hanya semata-mata agar mendapatkan pekerjaan subkontraktor dari PT Brantas Abipraya (BA) dalam proyek pembangunan Transmart Cilegon dan tidak ada niatan lain.


"Saya semata-mata hanya ingin mencari rezeki guna menafkahi istri dan anak-anak saya, karena saat itu kondisi perekonomian saya betul-betul dalam keadaan jatuh," kata Hendri seraya meneteskan air mata di hadapan Majelis Hakim dan JPU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).


Menurut Hendri, saat ini dirinya memiliki 5 orang anak dan membutuhkan banyak biaya untuk pendidikan dan biaya hidup sehari-hari. Sehingga dirinya cukup membutuhkan pekerjaan dalam proyek pembangunan Transmart tersebut.


"Anak saya yang pertama kuliah di UI baru masuk semester enam. Anak kedua sejak ada kasus ini, saya titipkan ke keluarga di Lampung karena saya dan istri tidak sanggup membiayainya. Anak ketiga baru saja lulus SD, kemudian anak keempat masih duduk dibangku SD dan anak kelima masih berumur 1,5 bulan," ujarnya.


Selain itu, Hendri juga menceritakan kondisi keluarganya, selama dirinya menjalani kasus dugaan suap Transmart Cilegon. Saat ini, istrinya hanya seorang diri mencari rezeki untuk biaya pendidikan dan anak-anaknya."Istri saya hanya seorang bidan desa yang tinggal di sebuah kontrakan kecil di Citangkil. Di situ, istri saya mencari nafkah untuk anak-anak saya siang dan malam," ungkapnya.


Selain persoalan perekonimian, Hendri mengungkapkan kasus yang menjeratnya juga telah membuat ibu kandungya terpukul dan pada 23 Mei 2018 kemarin, ibunya meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cilegon.


"Semenjak saya dipenjara orangtua saya sakit-sakitan. Saya merasa berdosa karena belum bisa membahagiakan mereka. Untuk itu saya mohon yang mulia majelis hakim dan JPU mempertimbangkan keringanan, seringan-ringannya. Karena saya merupakan tulang punggung keluarga," ungkapnya.


Ketua Majelis Hakim Epiyanto mengusulkan kepada JPU KPK agar Hendri diberikan reward sebagai Justice Collaborator (JC) dalam kasus tersebut. Untuk diketahui status JC yang diusulkan menjadi salah satu pertimbangan meringankan atas tuntutan yang dialamatkan kepadanya."Sidang akan dilanjutkan pada tanggal 6 (Juni) dengan agenda pembacaan vonis (untuk 3 terdakwa)," katanya. (darjat)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook