Untirta Tolak Paham Radikalisme

nurul roudhoh   |   Pendidikan  |   Jumat, 25 Mei 2018 - 13:12:24 WIB   |  dibaca: 440 kali
Untirta Tolak Paham Radikalisme

SEMINAR : Suasana seminar kebangsaan di Gedung B Untirta, Kamis (24/5).

SERANG – Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menolak paham radikalisme dan intoleransi untuk berkembang di kampus. Hal tersebut disampaikan Rektor Untirta Sholeh Hidayat.


Menurutnya, saat ini generasi millennia lebih percaya dan belajar dengan internet, dibandingkan membaca buku dan melakukan kegiatan belajar mengajar dengan dosen. Padahal, sumber paham radikalisme dan intoleransi lebih banyak berasal dari internet.


“Saya meminta kepada anak-anak saya yang menjalankan study di Untirta, untuk belajar dari buku dan melakukan kegiatan belajar mengajar dengan dosen yang memiliki kapasitas. Kurangi belajar dengan menggunakan internet,” kata Rektor saat membuka kegiatan Seminar Kebangsaan dengan tema Menangkal dan Mengikis Paham Radikalisme di Lingkungan Kampus Untuk Menjaga Keuntuhan Bangsa, kemarin.


Dalam kesempatan itu, Rektor Untirta juga mengajak kepada dosen agama untuk mencari referensi yang bisa dipertanggungjawabkan. Hilangkan paham radikalisme dan intoleransi dalam mengajar di kelas.


“Saya juga ingin menyampaikan amanat dari Pak Menristek Dikti, bahwa kampus harus bersih dari paham radikalisme dan intoleransi. Jangan menjadikan kampus sebagai sarana dan memiliki dosen serta mahasiswa untuk menyebarkan paham radikalisme dan intoleransi,” ungkapnya.


Jika kedapatan dosen dan mahasiswa yang memiliki paham tersebut, lanjut Sholeh, maka pihaknya akan mengambil tindakan tegas. “Jika ada silakan pilih, mau tetap menjadi dosen dan mahasiswa Untirta, atau keluar dari Untirta jika masih perpegang teguh terhadap paham tersebut,” tegasnya.


Sholeh juga mengajak kepada seluruh dosen dan mahasiswa, untuk turut melakukan pengawasan terhadap gerakan yang mengajarkan paham radikalisme dan intoleransi di lingkungan kampus Untirta. “Jika ada segera laporkan, biar Untirta bersih dari paham tersebut,” ungkapnya.


Di lokasi yang sama, salah seorang Amas Tajuddin mengatakan, paham takfiri yang mengajarkan bid’ah sedang viral saat ini. Tidak sepaham kafir, marhaban, ziarah dan tanpa jenggot bid’ah.“Agama apa yang menggunakan model tersebut,” kata Amas yang juga menjabat sebagai Sekretaris MUI Kota Serang.


Ia mengaku, orang yang memiliki paham takfiri dan yang suka membid’ah-kan orang lain di Kota Serang lumayan banyak. Oleh karena itu, dibutuhkan kehati-hatian dalam belajar agama. “Paham takfiri yang suka mengajarkan bid’ah memiliki tujuan untuk mendirikan Negara Islam, oleh karena itu harus hati-hati. Karena mereka memiliki pemahaman agama yang keliru,” imbuhnya. (satibi)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook