Perlu Perjalanan Satu Jam untuk Tarawih Berjamaah

nurul roudhoh   |   Lebak  |   Senin, 28 Mei 2018 - 12:15:28 WIB   |  dibaca: 314 kali
Perlu Perjalanan Satu Jam untuk Tarawih Berjamaah

SALAT JUMAT : Mochamad Sugri (tengah menggendong anak) berfoto bersama usai Salat Jumat di salah satu masjid di Tokushima.

KABUPATEN LEBAK – Berpuasa di negeri orang, Jepang misalnya memang memerlukan motivasi ekstra untuk menunaikannya. Menahan dahaga ekstras karena berbeda ajaran yang dianut sudah pasti. Salat tarawih berjamaah di sana pun cukup sulit ditunaikan.

Perbedaan signifikan pelaksanaan ibadah di Ramadan itu sangat jelas dirasakan Mochamad Sugri. Dia adalah warga Kompleks Pendidikan Kelurahan Muara Ciujung Timur, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak ketika memulai kehidupan barunya di Jepang pada 2011.

Kedatangannya ke Negeri Sakura terjadi melalui program economic patnership agrement (EPA) Indonesia-Jepang di BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia).

Setelah menjalani pelatihan selama enam bulan di Yokohama, Sugri pun resmi mulai bertugas sebagai perawat. Kensyokai Haiji adalah sebuah rumah sakit lansia tempatnya bekerja yang terletak di Pulau Shikoku, Tokushima.

Perbedaan budaya sempat menjadi kendala Sugri ketika beraktivitas di sana. Sebab, Islam merupakan  agama minoritas. Dari semua perbedaan yang dirasakan, beribadah di bulan Ramadan di Jepang adalah sesuatu sangat tak dia duga.

Soal durasi berpuasa di Jepang yang lebih lama dibanding di tanah kelahirannya, diakui Sugri hal itu sudah diantisipasinya. Dalam beberapa edisi Ramadan, ayah beranak satu ini harus menahan dahaga selama sekitar 16 jam. Sahur pukul 03.30 dan berbuka pukul 19.30 waktu Jepang.

Jika itu belum cukup 'menderita', suhu udara di Jepang di siang hari saat musim panas bisa mencapai 40 derajat celcius. Belum lagi godaan dari warga pribumi yang tak sungkan melahap makanan di depan Sugri. Sekali lagi, itu sudah diantisipasinya sehingga dia pun bisa menahannya meski kerap dianggap sombong karena selalu menolak ajakan makan bersama.

Yang tidak terpikirkan olehnya adalah kewajiban umat Islam lainnya, yaitu menunaikan salat. Kalau salat munfarid atau seorang diri bisa dilakukannya di mana pun. Menjadi persoalan bagi dia adalah Salat Jumat yang harus dilakukan secara berjamaah.

Untuk mencapai sebuah masjid, diakui pria jebolan Pondok Pesantren Husnul Khotimah, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat ini harus dilalui dengan penuh kesabaran. Menuju rumah Allah harus dilaluinya terlebih dahulu menggunakan bus dan disambung dengan kereta. Secara hitungan kasar, butuh waktu sekitar satu jam.

Hal yang sama berlaku bagi tarawih. Walau bisa dilakukan seorang diri namun kebiasaannya di Indonesia di mana salat sunah itu sering dilakukan berjamaah telah mendoktrin dirinya.

Jarak tak menjadi masalah. Jika sedang bebas tugas, Widi selalu menyempatkan diri untuk tarwaih berjamaah. Walau lelah di perjalanan namun pria kelahiran 1989 ini mengaku senang karena itu menjadi salah satu caranya mengobati kerinduan kepada tanah kelahirannya.

Ada pernyataan unik yang terlontar dari Sugri, untuk imsak, berbuka, hingga salat dia hanya mengandalkan aplikasi di telepon pintarnya. Mengapa demikian? Sudah barang tentu di negara dengan minoritas muslim akan sulit mendengar azan sebagai alarm waktu salat dan berbuka puasa.

Perjalan jauh tak dipungkirinya memengaruhi staminannya, terlebih siang harinya harus menjalankan ibadah puasa dengan segala godaan yang telah diungkapkannya. Kekhawatiran staminanya yang terkuras demi bisa mengamalkan seluruh rangkaian ibadah Ramadan juga terus menghantuinya. Akan tetapi dia selalu menepisnya dan terus bekerja secara profesional.

Namun pada akhirnya, akumulasi dari kegiatan itu pernah membuatnya mengalami dehidrasi berat dan harus mendapat perawatan medis. Tak ingin di cap memiliki kinerja yang buruk dia pun memberanikan diri untuk berterus terang kepada atasannya apa yang dilakukannya selama Ramadan.

Tak diduga, respon yang diberikan atasannya pun cukup positif. Sugri justru diberi tugas yang lebih ringan. Bahkan tempatnya bekerja juga memberikan cuti dua hari saat Ramadan dan bulan-bulan berikutnya. Cuti dimaksudkan agar Sugri bisa beribadah sesuai agama yang dianutnya.


“Toleransi beragama di sini (Jepang_red) sangat baik, mereka begitu memperhatikan saya yang sedang berpuasa. Bahkan rekan kerja saya yang seorang pribumi tidak berani makan minum di depan saya. Saya pun tak terlena, saya tetap berusaha kerja profesional dan memenuhi kewajiban salat lima waktu, terlebih saya diberi cuti ibadah,” ungkapnya.

Sugri mengaku, pengalaman tak terduganya itu betul-betul dijadikanya pembelajaran. Kini tahun ketujuhnya berpuasa di Jepang, dia sudah tidak lagi kewalahan. Ditambah sekarang dia sudah memiliki banyak teman sesama muslim, baik itu dari warga Jepang atau sesama TKI yang membentuk sebuah komunitas.

Apa yang diceritakan Sugri adalah bukti nyata jika sebuah kondisi lingkungan sejatinya tak akan memengaruhi tingkat kesalihan. Itu tergantung dari tekad individu masing-masing dalam menjalaninya. (JERMAINE A TIRTADEWA)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook