Kasus Anak Memprihatinkan

nurul roudhoh   |   Metro Tangerang  |   Senin, 28 Mei 2018 - 13:36:55 WIB   |  dibaca: 122 kali
Kasus Anak Memprihatinkan

C-MORE : Menteri PPPA, Yohana Susana Yambise (tengah) tangannya membentuk logo huruf C sebagai moto Tangsel Cerdas, Modern dan Religius (C-More).

TANGSEL - Berdasarkan data Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Tahun 2017 telah terjadi 167 kasus kekerasan, dimana 120 kasus menimpa pada anak dengan kasus terbanyak adalah pelecehan seksual dan persetubuhan.


Tahun 2018 ini, dari bulan Januari-Maret telah terjadi 59 kasus, dimana 42 kasus menimpa pada anak yang sebagian besar adalah kasus seksual."Kondisi yang terjadi saat ini tentunya kita sama-sama melihat dan merasa prihatin bahwa telah terjadi berbagai penyimpangan perilaku pada anak serta meningkatnya kasus kekerasan seperti tawuran, bullying, pengeroyokan dan kejahatan seksual kepada anak," ungkap Wakil Walikota Tangsel, Benyamin Davnie dalam rangka Deklarasi Komitmen Bersama Sekolah Ramah Anak (SRA) di Kota Tangsel, yang digelar di Sekolah Bethesda, Ciputat, Tangsel, kemarin (25/5).


Deklarasi tersebut dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Susana Yambise. Kota Tangsel sudah mendapatkan tiga kali penghargaan Kota Layak Anak, yaitu pada 2013, 2015 dan 2017.


Dikatakan Ben-panggilan akrab Benyamin Davnie, jumlah anak di Kota Tangerang Selatan tercatat kurang lebih 500 ribu. Mereka adalah tanggung jawab bersama untuk mendidik mereka menjadi generasi penerus bangsa yang sehat jasmani dan rohaninya serta memiliki kecerdasan dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.


"Oleh karena itu kami mengapresiasi program Sekolah Ramah Anak (SRA) yang telah digagas oleh Kementerian PPPA dan merasa betapa pentingnya program Sekolah Ramah Anak dalam mendukung terciptanya generasi bangsa yang hebat serta mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak di sekolah maupun kekerasan yang dilakukan oleh anak," jelas Ben.


Tentunya, kata Ben, pemkot sangat mendukung program ini dan telah melakukan upaya untuk mewujudkan Sekolah Ramah Anak di Kota Tangsel dengan mewajibkan seluruh sekolah di Kota Tangsel yang berjumlah 1.187 sekolah untuk melaksanakan program Sekolah Ramah Anak (SRA).


Sekolah Ramah Anak (SRA) merupakan salah satu indikator yang harus dipenuhi oleh kabupaten/kota yang berkomitmen untuk mewujudkan Kota Layak anak. Tujuan dari pembentukan Sekolah Ramah Anak adalah menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, aman, rapih, indah, sehat, asri dan nyaman.


Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPMP3AKB) Kota Tangsel, Khairati, mengatakan, untuk mewujudkan SRA diperlukan kerjasama seluruh pihak dalam pemenuhan 6 komponen.

Keenam komponen tersebut adalah kebijakan Sekolah Ramah Anak (Komitmen tertulis, SK Tim SRA dan program kegiatan yang mendukung SRA), guru dan tenaga pendidik terlatih konvensi hak anak.

Kemudian, proses belajar yang ramah anak (dengan penerapan disiplin posistif), memilki sarana dan prasarana yang ramah anak (tidak membahayakan anak, mencegah anak agar tidak celaka dan nyaman), partisipasi Anak (melibatkan anak dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program sekolah), dan partisipasi orangtua, lembaga masyarakat, dunia usaha, instansi terkait dan alumni.


"Hari ini dilaksanakan deklarasi bersama untuk mewujudkan sekolah ramah anak di Kota Tangsel yang diwakili oleh 14 sekolah. Harapannya agar setelah deklarasi ini dapat secepatnya terwujud Sekolah Ramah Anak di seluruh sekolah se- Kota Tangsel," ungkapnya.


Menteri PPPA, Yohana Yembise menilai, sekolah perlu dikedepankan kembali sebagai ruang yang ramah bagi anak. Menurutnya, sekolah ramah anak dapat menjadi jawaban atas krisis kepercayaan pada lingkungan sekolah. “Tugas kita semua untuk menjamin setiap anak tumbuh dan berkembang secara baik.

Mereka harus dilindungi dari segala bentuk kekerasan. Melalui deklarasi sekolah ramah anak, mari kedepankan kembali lingkungan sekolah yang ramah bagi anak. Ciptakan interaksi positif. Didik anak tanpa kekerasan,” ujar Menteri PPPA, Yohana Yembise.


SDS Bethesda, sebagai salah satu sekolah yang dideklarasikan menjadi sekolah ramah anak, cukup berbangga. Sebab, lingkungan sekolah yang ramah anak rupanya telah lama diterapkan. “Kami menerapkan sekolah ramah anak sejak awal sekolah ini berdiri 7 tahun lalu.

Kami telah mendorong budaya dan lingkungan positif. Seperti disiplin, cinta dan hormat pada orangtua, jujur, dan tidak ada kekerasan yang dilakukan guru maupun sesama anak. Makanya, kami sangat mendukung program dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ini, dan mendorong semakin banyak sekolah yang ramah bagi anak“ terang Kepala SDS Bethesda Indonesia, Anastasia Supriati. (*/marjuki)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook