Didatangi Arkeolog, Mitos Berkembang di Masyarakat

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Senin, 25 Juni 2018 - 14:24:54 WIB   |  dibaca: 420 kali
Didatangi Arkeolog, Mitos Berkembang di Masyarakat

UNIK : Jhoni E Wangga, warga Mancak menunjukkan batu peta atau batu keong, Minggu (24/6).

SERANG - Sebuah mitos tidak patut untuk dipercayai, namun mitos masih berkembang di masyarakat Indonesia. Salah satunya mitos batu peta.Sebuah batu dengan diameter sekitar 1 meter lebih tergeletak di sisi jalan Kampung Tampoyan, Desa Ciwarna, Kecamatan Mancak.

Di atas batu tersebut terdapat garis-garis retakan, yang jika diamati secara seksama nampak seperti peta. Oleh karena itu masyarakat setempat menyebutnya batu peta, namun masyarakat juga menyebutnya batu keong, karena bentuknya yang mirip dengan keong.


Meski demikian, sampai saat ini masyarakat belum tahu pasti batu yang bergaris-garis menyerupai peta tersebut batu apa, termasuk apakah batu tersebut peninggalan kerajaan masa lalu atau hanya batu biasa pada umumnya. Namun demikian, sebuah cerita rakyat yang diterima masyarakat, bahwa batu tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Padjajaran.


Selain itu, mitos terkait batu tersebut juga berkembang di tengan-tengah masyarakat. Mitos itu berkembang ketika masyarakat sedang gotong royong membangun jalan. Batu tidak dapat digeser meski dilakukan oleh orang banyak. “Mitos yang berkembang di masyarakat, jika ada yang mampu menggeser batu peta tersebut, maka seluruh keinginannya bisa terpenuhi,” ujar Jhoni E Wangga, warga setempat, Minggu (24/6).


Untuk memastikan apakah batu tersebut merupakan prasasti peninggalan masa kerajaan, lima tim arkeolog dari Bandung pernah meneliti batu yang tergeletak dan dikelilingi rumput tersebut. “Waktu ada seminar kebudayaan, salah satu pematerinya dari UI (Universitas Indonesia), saya sampaikan ada batu unik, tidak lama setelah itu datang arkeolog dari Bandung,” ungkapnya.


Pegawai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang itu menuturkan, hasil penelitian arkeolog menyimpulkan bahwa batu tersebut merupakan prasasti peninggalan bersejarah. “Dari arkeolog itu ada yang perempuan, dia bilang batu peta tersebut batu prasasti yang ada sejak sekitar abad ke-14," katanya.(TANJUNG)

 

 

 

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook