20 Orang Terlibat Pemalsuan Surat Tanah

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Selasa, 26 Juni 2018 - 15:07:56 WIB   |  dibaca: 742 kali
20 Orang Terlibat Pemalsuan Surat Tanah

MENDENGARKAN DAKWAAN : Sidang perdana kasus pemalsuan surat tanah seluas 2.024 meter persegi di Desa Selibu, Kecamatan Kragilan dengan terdakwa Jumroni dan Sainan, kemarin.

SERANG- Selain oknum Kepala Desa Silebu, Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang, Saepudin dan 4 tersangka lainnya, Jumroni, Sainan, Sapari, Ade Spurihatin, dan Mahdum, masih ada 20 orang lainnya yang terlibat dalam kasus pemalsuan surat tanah seluas 2.024 meter persegi di Blok 006, Desa Silebu, Kecamatan Kragilan. Hal itu terungkap dalam sidang perdana yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Serang dengan terdakwa Jumroni dan Sainan.


Dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Dasriwati, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Serang Indah Kurniati Hutasoit dalam dakwaannya mengatakan bahwa terdakwa Jumroni bersama-sama empat terdakwa lainnya (penuntutan dalam berkas perkara terpisah), serta pihak-pihak lain yang belum disebutkan identitasnyaa melakukan pemalsuan surat tanah di kampung Serdang, Desa Silebu.
 

"Pada Mei 2017 terdakwa Jumroni disuruh oleh Ade (terdakwa) selaku staf desa dan saksi Mahdum untuk mencari orang yang mau berpura-pura sebagai atas nama pemilik tanah dalam hal pembebasan tanah di Desa Silebu dengan imbalan uang sebesar Rp 2 juta. Setelah itu Ade mendatangi Sainan di rumahnya dan diminta untuk berpura-pura menjadi pemilik tanah dalam berkas pembebasan tanah di Desa Silebu," kata JPU dihadapan Majelis Hakim.


Indah melanjutkan, setelah sepakat sesuai dengan petunjuk, Sainan mengaku sebagai Lamri selaku pemilik tanah. Dua hari kemudian, terdakwa Jumroni dan Sainan diminta untuk menemui Ade yang tengah  berada di rumahnya Sapari (terdakwa) bersama orang-orang yang juga sama berpura-pura menjadi pemilik tanah.
 
"Di rumah Sapari mereka melakukan pemotretan di lokasi tanah sambil memegang papan berwarna putih yang ada tulisannya (Tanah Dijual, NO: 006-013, Nama Wahab bin Deli, Luas : 1.514 M2, Desa : Silebu. Dua hari kemudian Sainan dan Jumroni diminta datang ke ke gardu tepat belakang rumah Kepala Desa Silebu oleh Ade, untuk penerimaan uang muka sebesar Rp 5 juta disaksikan saudara Mulyana (Sekdes Silebu)," jelasnya.


Menurut Indah, penyerahan uang sebesar Rp 5 juta sebagai uang muka pembayaran hanya dilakukan sebagai bentuk formalitas karena uang tersebut dikembalikan lagi oleh terdakwa Sainan kepada saksi Mulyana. Setelah menerima uang muka, beberapa hari kemudian terdakwa Jumroni datang ke rumah Sainan dan memberikan foto copy KTP atas nama Lamri sambil mengingatkan agar Sainan mengaku sebagai Lamri saat pencairan nanti.
 
"Dua minggu kemudian Jumroni menyuruh Sainan agar berkumpul di Kampung Cipiit, Desa Sukalaksana Kecamatan Curug, Kota Serang untuk penerimaan pelunasan pembayaran tanah. Di sana Sainan tidak sendiri, melainkan ada banyak orang yang sama-sama berpura-pura sebagai atas nama pemilik tanah dengan jumlah kurang lebih sekitar 20 orang," ujarnya.


Indah menambahkan, setelah berkumpul, puluhan orang yang mengaku sebagai pemilik tanah itu diberangkatkan ke rumah Agus Irawan atau orang yang diberi mandat oleh direktur PT Sinar Dajili Makmur untuk melakukan pembebasan tanah, dimana tanah yang dibebaskan tersebut rencananya akan dibangun perumahan.
 
"Sesampainya di rumah Agus, orang yang disuruh untuk berpura-pura sebagai atas nama pemilik tanah terkait pembebasan tanah di Desa Silebu itu dipanggil satu per satu untuk dilakukan pembayaran pelunasan. Ketika dipanggil atas nama Lamri, terdakwa Sainan langsung masuk dengan didampingi Kepala Desa Silebu untuk penerimaan pelunasan sebesar Rp 45 juta.

Indah mengungkapkan, setelah selesai menerima pelunasan pembayaran, semua orang yang berpura-pura sebagai atas nama pemilik tanah kembali berkumpul di rumah Been untuk dilakukan pembagian uang. Uang yang akan dibagi oleh Jumroni sebesar Rp 17 juta didapat dari saksi Mahdum.

Selanjutnya terdakwa Jumroni langsung membaginya kepada orang-orang yang sudah berpura-pura sebagai atas nama pemilik tanah. "Mereka diberi imbalan Rp 2 juta (orang yang mengaku pemilik tanah) sebagaimana janji yang telah disampaikan sebelumnya," katanya. Dalam persidangan itu, terdakwa Jumroni dan Sainan tidak membantah apa yang didakwakan oleh JPU Kejari Serang, dan menerima semua dakwaan tersebut."Iya saya menerima," katanya. (darjat)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook