Kampus Jangan Lengah di Era Disrupsi

nurul roudhoh   |   Pendidikan  |   Selasa, 26 Juni 2018 - 15:13:44 WIB   |  dibaca: 376 kali
Kampus Jangan Lengah di Era Disrupsi

MATERI : Ichsanuddin Noorsy saat menyampaikan materi dalam kegiatan pembinaan pegawai di lingkungan Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanudin Banten, di Aula Utama Kampus, Senin (25/6).

SERANG – Era disrupsi menciptakan situasi pergerakan dunia industry, atau persaingan kerja tidak lagi linear. Perubahannya sangat cepat, fundamental dengan mengacak-acak pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru. Hal tersebut disampaikan Dr. Ichsanuddin Noorsy, Bsc, SH, M.Si, pengamat politik ekonomi Indonesia.


Menurutnya, disrupsi menginisiasi lahirnya model bisnis baru dengan strategi lebih inovatif dan disruptif. Cakupan perubahannya luas, mulai dari dunia bisnis, perbankan, transportasi, sosial masyarakat hingga pendidikan.


Kata dia, posisi pendidikan tinggi, jangan lengah dengan kondisi tersebut. Artinya, harus ada pola pembelajaran yang disesuai. Didunia, berkaitan dengan perkembangan Information and Communication Technologies (ICT), berkembang model rest cooling dan desta cooling.


“Hal yang dilakukan perusahaan besar seperti apple, microsoft dan juga berbagai perguruan tinggi dunia. Tapi, saat yang sama juga mereka sadar dan melakukan desta cooling, yaitu pembelajaran tidak dilakukan di ruang kelas, dengan cara dilepas untuk mencari ilmu di luar dan kembali dengan mengujinya,” katanya saat menjadi pembicara Pembinaan Pegawai UIN SMH Banten, Senin (25/6).


Ia menjelaskan, Jeck Ma dalam kajiannya menemukan perpaduan model rest cooling dan desta cooling. Jeck Ma mendapatkan faktor lapangan yang dikembangan lalu dipertemukan antara rest cooling dan desta cooling.


“Hal ini tidak terjadi di Indonesia. Saat ini di Indonesia model keduanya berjalan masing-masing, tidak ada yang mempertemukannya. Maka, saya mencoba menggagas hal ini di UIN Banten untuk mengambil itu. Jadi, pada kurikulum pendidikannya diterapkan dibeberapa semester dengan model rest cooling dan pada semester lainnya diterapkan model desta cooling.” katanya.


Lanjutnya, kebanyakan mahasiswa di Indonseia, pemikirannya hanya mencari ijazah, belum berpikir seutuhnya untuk mencarai ilmu. “Model rest cooling dan desta cooling saya menyebutnya dengan model hybrid dalam mencari ilmu. Di beberapa kampus di Amerika sudah menjalankan model ini, mahasiswa menghargai orang-orang yang dari berbagai latar belakang pengalaman masuk ke sekolah. 10 universitas ternama di Amerika, mengambil orang-orang berpengalaman menjadi tenang pengajar,” ujarnya.


Masih kata Ichsanuddin, di Eropa juga sudah melakuakan model tersebut. Sebetulnya gagasan desta cooling ada sekitar tahun 70 an, yang baru disadari saat ini.. “Saya berharap model ini dapat berkembang di Indonesia yang sebetulnya sudah diterapkan pada awal mula berkembangnya dunia pondok pesantren. Namun sayangnya tidak hybrid, dicampur sedemikian rupa dengan terstruktur. Mana wilayah yang bisa mengunaan model rest cooling dan desta cooling. Jika tidak, Indonesia akan ketinggalan jaman 10 hingga 15 tahun,” tuturnya. (mg-basyar)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook