Vera-Nurhasan Tak ke MK

nurul roudhoh   |   Politik  |   Jumat, 29 Juni 2018 - 15:41:50 WIB   |  dibaca: 1053 kali
Vera-Nurhasan Tak ke MK

DIJAGA KETAT : Petugas polisi dan TNI berjaga di depan pintu gudang penyimpanan logistik pemilu yang tersegel di Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Maulana Yusuf, Kecamatan Serang, Kota Serang, Kamis (28/6). Sebanyak 344 kotak suara dari 12 Kelurahan se-Kecamatan Serang berada di gudang ini untuk persiapan pleno.

SERANG – Pasangan calon nomor urut 1 Vera Nurlaela Jaman dan Nurhasan memastikan tidak akan melakukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi terkait dengan hasil Pilkada Kota Serang.

Dalam hitung cepat yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum, pasangan calon nomor urut 1 mendapatkan 32,15 persen suara, nomor urut 2 29,16 persen suara, dan pasangan calon nomor urut 3 mendapatkan 38,69 persen suara. Vera Nurlaela Jaman-Nurhasan yang diusung Golkar dan tujuh partai lainnya kalah suara sebanyak 6,54 persen.

Ratu Ria Maryana, Ketua Tim Sukses Pasangan Calon Nomor Urut 1 mengatakan, keputusan itu dilakukan mengingat selisih perolehan suara mencapai enam persen. “Untuk ke MK kita enggak akan mengajukan (gugatan-red),” ujar Ria yang juga merupakan Ketua DPD Golkar Kota Serang melalui Whatsapp.

Ditanya lebih jauh mengenai sikap tim paslon nomor 1 terhadap kekalahan ini Ratu Ria mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu hasil rekapitulasi yang dilakukan KPU Kota Serang. "Apapaun hasilnya kita menerima walaupun terindikasi ada kecurangan. Kita menerima apapun itu hasilnya," katanya.

Sekretaris DPD Golkar Provinsi Banten Bahrul Ulum mengatakan bahwa pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada pengurus Golkar Kota Serang dan partai koalisi terkait gugatan ke MK. Yang menjadi perhatian Golkar Banten adalah ada mesin yang tidak berjalan sesuai yang diharapkan dalam Pilkada Kota Serang.

Hal ini akan menjadi perhatian dan evaluasi, khususnya guna persiapan Pileg dan Pilpres 2019 mendatang. Meski tidak dapat ditampik ada kekecewaan terkait kekalahan Golkar dalam Pilkada Kota Serang 2017 ini."Kalau kecewa ada tapi tidak boleh larut karena ada hajatan lima tahunan yang lebih besar tahun depan," katanya.

Terkait perolehan suara, Golkar akan menunggu dan masih percaya pada KPU sebagai lembaga penyelenggara menetapkan perolehan suara. Meski dalam hitung cepat KPU Kota Serang berdasarkan formulir C1 di silon nomor urut 3 menang, namun pihaknya hanya akan menerima hasil rakpitulasi yang dilakukan secara berjenjang dari tingkat KPPS, PPS, PPK, sampai tingkat KPU Kota Serang.

Sementara itu, Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Banten Rt Tatu Chasanah mengaku belum mengetahui hasil real count yang dilakukan KPU Kota Serang terkait hasil pilkada Kota Serang. Namun demikian, jika sudah ada hasil real count dari KPU semua kandidat yang maju pada pilkada harus tunduk dan patuh.

“Hasil pilkada, sudah final belum real count KPUnya? kalau sudah, real count KPU kan sudah resmi. Semua yang mencalonkan harus tunduk, apapun hasil real count KPU pasti menerima. Tapi kalau misalnya ada pelanggaran ini dan itu, urusannya lain lagi,” kata Tatu, Kamis (28/6).

Ia menjelaskan, kekalahan calon walikota yang diusung oleh partainya menjadi evaluasi internal Partai Golkar, untuk mengetahui sumber kekalahan tersebut.“Kekalahan itu menjadi kajian, khususnya internal golkar, terus juga mungkin koalisi partai, karena partai koalisinya juga cukup banyak. Apa kurang efektif dalam pengelolaannya atau gimana,” ujarnya.

Ia menilai, kalah menang dalam proses demokrasi merupakan hal yang bisa terjadi dan bukan sesuatu yang harus disesali, namun harus dievaluasi. “Kalau partai pasti sedih, namanya tarung terus kalah, tapi itu demokrasi, kalau enggak kalah ya menang. Untuk gugatan belum tahu, karena saya enggak masuk ke tim pemenangan, di sana (tim) ada tim advokasi, pastinya mereka ada rapat, tapi belum ada laporan ke DPD I,” tuturnya.

Samsul Bahri, Ketua Tim Sukses Pasangan Calon Nomor Urut 2 yaitu Samsul Hidayat dan Rohman, mengatakan bahwa sampai saat ini tim masih melakukan penghitungan secara independen untuk mengetahui real count berdasarkan formulir B1 KWK, yaitu formulir penghitungan suara di masing-masing tempat pemungutan suara (TPS).  Untuk sementara ini tim dari pasangan calon jalur perseorangan atau independen ini masih sedang memeriksa ulang perolehan suara. “Tapi sampai saat ini angkanya masih sama dengan real count KPU versi situng,” katanya.

Hasil penghitungan secara independen ini menurutnya akan dibandingkan dengan hasil perolehan suara dalam rapat pleno tingkat kecamatan (PPK) yang baru akan dimulai hari ini. Pihaknya juga akan membandingkan hasil penghitungan dengan rekapitulasi di tingkat KPU Kota Serang. Selain itu pihaknya juga akan melakukan perbandingan temuan-temuan yang didapatkan di lapangan.

Mereka, misalnya, menemukan adanya dugaan surat pemberitahuan memilih model C6 KWK yang ditahan dan tidak terdistribusi kepada pemilih. Selain itu juga ada temuan politik uang (money politics), temuan-temuan lainnya.“Kita temukan C6 KWK yang tidak terdistribusi mulai dari puluhan sampai ratusan C6 KWK,” ujarnya.

Samsul mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya masih menggenapkan penghitungan real count sampai dengan 100 persen. Pasalnya masih ada sejumlah formulir C1 yang belum masuk dalam data real count yang dilakukan. Namun sejumlah catatan yang bisa disebut adalah angka partisipasi pemilih yang hanya 64 persen. Sementara yang golput mencapai 150.000-an. “Kalau melihat data itu yang masih menang justru golput karena paslon Syafrudin dan Subadri saja cuma mendapatkan 107.000-an suara,” ujarnya.

Berdasarkan sistem informasi penghitungan suara (situng) KPU Kota Serang yang dilakukan sejak Rabu pukul 17.00 sampai Kamis pukul 02.00 menempatkan pasangan calon walikota dan wakil walikota Serang nomor urut 3 Syafrudin-Subadri Usuludin sebagai pasangan yang mendapatkan suara paling tinggi, disusul pasangan calon nomor 1 Vera Nurlaela dan Nurhasan dan pasangan nomor 2 Samsul Hidayat dan Rohman.

Adapun rinciannya adalah Vera-Nurhasan mendapatkan 32,15 persen atau 90.468 suara, Samsul-Rohman 29,16 persen atau 82.030 suara, dan Syafrudin-Subadri 38,69 persen atau 108.856 suara. "Semua TPS sudah masuk 100 persen dalam penghitungan situng," kata Ketua KPU Kota Serang Heri Wahidin.

Heri mengatakan bahwa partisipasi pemilih di Kota Serang pada pilkada serentak 2017 ini mencapai 69,63 persen dari target 70 persen. Meski demikian, bila dibandingkan dengan Pilgub Banten tahun 2017, tingkat partisipasi pemilih lebih tinggi dari pilgub yang hanya 62 persen. Pemilih paling banyak perempuan mencapai 72 persen. Dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT) 422.072 orang, total suara yang hadir di TPS dan menyalurkan hak pilihnya mencapai 294.325. Dari angka itu suara sah berjumlah 280.676, dan suara tidak sah 14.006.

Setelah tahap situng selesai dilakukan agenda selanjutnya adalah rapat pleno rekapitulasi perolehan suara tingkat kecamatan (PPK) yang akan dimulai Jumat (29/6) sampai 4 Juli mendatang. Sementara rekapitulasi tingkat KPU Kota Serang akan dilakukan 5 Juli nanti.

Ditanya tentang persiapan gugatan pasangan calon ke Mahkamah Konstitusi (MK), Heri mengatakan pada dasarnya KPU Kota Serang siap menghadapi gugatan itu. Hanya saja dengan selisih perolehan suara yang mencapai 6 persen ia menyarankan agar gugatan tidak dilakukan.

"Kita siap-siap saja kalau ada yang menggugat. Tapi kalau selisihnya di atas 1 persen enggak usah digugatlah. Apalagi 6 persen itu kan tinggi banget," kata Heri juga seraya mengatakan bahwa adanya temuan dugaan money politics (politik uang) tidak dapat menggugurkan calon yang sudah unggul perolehan suaranya. (tohir/tanjung)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook