Banyak Pengemis, Terdapat 33 Kotak di Sepanjang Jalan

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Senin, 02 Juli 2018 - 13:01:10 WIB   |  dibaca: 734 kali
Banyak Pengemis, Terdapat 33 Kotak di Sepanjang Jalan

PADAT : Ratusan perziarah memebuhi makam Syekh Muhammad Sholeh di Gunung Santri, Desa Bojonegara, Kecamatan Bojonegara, Minggu (1/7).

BOJONEGARA - Wisata religi Gunung Santri, di Desa Bojonegara, Kecamatan Bojonegara tidak pernah sepi dari pengunjung, hampir setiap hari ada saja yang berziarah ke makam Syekh Muhammad Sholeh itu, baik dari daerah sekitar maupun luar daerah.

Gunung Santri yang terletak di Desa Bojonegara, Kecamatan Bojonegara merupakan salah satu bukit yang masih terbilang utuh, karena tidak dijadikan lokasi penambangan galian C. Berbeda dengan gunung dan bukit lain yang ada di wilayah Bojonegara yang sudah terlihat bongkahan batunya, Gunung Santri masih terlihat hijau.


Tidak dijadikannya Gunung Santri sebagai lokasi pertambangan oleh para pengusaha, bukan karena di dalamnya tidak ada batunya, melainkan di puncak gunung tersebut terdapat sebuah makam salah satu murid wali songo, yaitu Syekh Muhammad Sholeh. Makam Syekh Muhammad Sholeh tersebut sampai saat ramai dikunjungi para peziarah.


Untuk sampai ke puncak Gunung Santri kita harus melewati jalan berliku kurang lebih sepanjang 2 kilometer dari bawah gunung, dengan jarak tempuh sekitar 20 menit. Kondisi jalan sendiri sudah cukup bagus karena sudah disemen. Terdapat 33 kotak yang bertuliskan kotak sadaqoh yang terpasang di sepanjang jalan menuju puncak gunung.“Lumayan capek ni. Iya jalannya agak sempit, terus banyak kotak amal dan pengemis juga,” ujar Haruji, salah sorang peziarah asal Pandeglang, Minggu (1/7).


Keberadaan makam Syekh Muhammad Sholeh yang mendatangkan banyak peziarah tersebut, berdampak pada perekonomian masyarakat sekitar dan para pedagang yang datang dari luar Bojonegara. “Alhamdulillah kalau lagi libur habis lebaran kaya gini banyak peziarah yang belanja dan bisa nabung,” ujar Munawaroh, salah seorang pedagang kopi.


Ia mengungkapkan, hampir setiap tahun setelah lebaran para pengunjung membeludak, baik masyarakat sekitar sampai masyarakat luar Banten, seperti Bogor, Bekasi, Cianjur, Bandung, bahkan Indramayu, sehingga untuk berziarah harus bergantian. “Tiap hari juga ada peziarah mah, tidak pernah sepi selama 24 jam. Ada yang berziarah, ada yang cuman foto-foto doang karena pemandangan ke bawahnya bagus,” tuturnya. (TANJUNG)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook