Rian Anthony Merasa Jadi Korban

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Kamis, 05 Juli 2018 - 13:35:00 WIB   |  dibaca: 1286 kali
Rian Anthony Merasa Jadi Korban

MEMBERIKAN SAKSI : Ketua Bapelkes Krakatau Steel Budi Rahmat dan Bendahara Bapelkes Firman Isthiady memberikan kesaksian dalam kasus penyertaan modal KSO Bapelkes KS tahun 2013 senilai Rp 69 miliar dan 2014 di PN Serang, kemarin.

SERANG- Direktur PT Novagro Indonesia Ryan Antony mengklaim dirinya menjadi korban dalam kasus penyertaan modal kerja sama operasi (KSO) Badan Pengelola Kesejahteraan (Bapelkes) Krakatau Steel (KS) tahun 2013 senilai Rp 69 miliar dan 2014 senilai Rp 214 miliar yang menjerat dirinya.
 

"Saya ini korban. Kalau memang diaturannya KSO itu salah, dan ini tidak bisa terjadi. Saya hanya broker yang ambil untung Rp 200 saja," kata Rian dihadapan Ketua Majelis Hakim Emy Tjahjani Widiastoeti saat sidang Tipikor di Pengadilan Negeri Serang dengan agenda pemeriksaan saksi untuk dirinya, Rabu (4/7).
 

Menurut Ryan, dua orang saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntu Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten yaitu Ketua Bapelkes Krakatau Steel Budi Rahmat dan Bendahara Bapelkes Firman Isthiady masih menutup-nutupi pengurus Bapelkes KS tahun 2012-2014.
 
"Ini dibawah sumpah, mereka menutupi pengurus sebelumnya. Pastinya, saat pergantian pengurus ada serah terima. Saya juga memberikan cek sebagai jaminan kerjasama, tapi cek itu sampai sekarang saya tidak melihat, di kepolisian pun tidak ada," ujarnya.


Terpisah, Ketua Bapelkes Krakatau Steel Budi Rahmat mengaku tidak mengetahui Memorandum of Understanding (MoU) KSO antara pengurus Bapelkes yang dipimpin Kepala Bapelkes KS Herman Wisodo dengan PT Novagro Indonesia. "Kita tidak menerima MoU dari pengurus sebelumnya. Yang saya tau perjanjian dengan PT Novagro yaitu pengadaan kapal, batu bara," ujarnya.


Sementara itu, Serikat Karyawan Krakatau Sttel (SKKS) Abdul Ragib Rasyid mengatakan akan terus mengawal kasus tersebut hingga semua pelaku yaitu Direktur PT NI Ryan Antony, Direktur PT Berkah Manis Makmur (BMM) Andigo, mantan kepala Bapelkes KS Herman Wisodo dan mantan manajer investasi Bapelkes KS Triyono dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya.


"Kalau kita menginginkan agar ini berjalan dengan seadil-adilnya. Yang dikasih wewenang tapi menyalahgunakan wewenang harus ditindak agar memberikan efek jera kepada mereka. Seminggu atau dua minggu kita akan datang ke Polda," katanya.


Selain mendesak penetapan hukum ke 4 tersangka, Ragib juga berharap dalam proses hukum ini, akan terbongkar semua pelaku yang terlibat  dalam kasus penyertaan modal KSO Bapelkes KS tahun 2013 senilai Rp 69 miliar dan 2014 senilai Rp 214 miliar tersebut.
 
"Nanti dipengadilan akan membuktikan. Ada enggak tambahan, keterlibatan selain 2 orang KS (Herman Wisodo dan Triyono) yang terlibat. Saya belum bisa memastikan tapi mudah-mudahan ada tambahan," harapnya.


Untuk diketahui, kasus tersebut bermula dari laporan pimpinan Bapelkes KS terkait KSO dengan dua perusahaan milik Ryan Antony pada 2014. Perusahan pertama milik Ryan mendapat suntikan modal dari Bapelkes KS senilai Rp 208 miliar. Kerja sama tersebut untuk menjalankan bisnis batu bara.
 
Dana yang digunakan Bapelkes KS untuk modal kerja sama bisnis batu bara tersebut melanggar aturan. Ada larangan Bapelkes KS melakukan investasi batu bara. Namun, Herman Wisodo dan Triyono disangka menabrak larangan tersebut. Bapelkes KS bahkan kembali menyuntikkan modal kepada perusahaan milik Ryan Anthoni lainnya senilai Rp 37 miliar.
 
Modal tersebut untuk membeli sebuah kapal tongkang. Pencairan dana penyertaan modal KSO Bapelkes KS tersebut diduga kuat tanpa persetujuan Dewan Direksi Bapelkes KS. Investasi Bapelkes KS tersebut terkuak ketika bisnis batu bara yang dikelola Ryan bermasalah. Ryan menunggak pembayaran keuntungan Bapelkes KS. Pimpinan Bapelkes KS kemudian melaporkan kasus tersebut ke Polda Banten. (darjat)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook