Awalnya Saung Tani Tempat Musyawarah

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Jumat, 06 Juli 2018 - 15:26:38 WIB   |  dibaca: 485 kali
Awalnya Saung Tani Tempat Musyawarah

MENARIK : Warga Desa Sukaratu, Kecamatan Cikeusal menyulap pesawahan menjadi destinasi wisata yang menarik, Kamis (5/7).

SERANG - Sikap gotong royong yang disertai kemampuan berinovasi dalam membangun desa sangatlah diperlukan, karena hal itu menjadi nilai lebih untuk mengembangkan desa menjadi lebih maju. Seperti yang dilakukan warga Desa Sukaratu, Kecamatan Cikeusal.

Desa Sukaratu, Kecamatan Cikeusal merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Serang yang berada di bagian selatan. Kecamatan Cikeusal yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Pamarayan sebagaian besar warganya berprofesi sebagai pertani dan bekerja di pabrik. Meski Kecamatan Cikuesal dianugerahi pesawahan yang laus, namun sawah-sawah di sana pemanfaatannya belum begitu banyak, selain untuk menanam padi.


Di sawah yang ukurannya cukup luas tersebut, berdiri sebuah saung tani yang biasa digunakan warga untuk bermusyawarah. Lantaran saung tersebut dirasa nyaman untuk bermusyawarah dan berisirahat. Seiring berjalannya waktu, saung tersebut banyak dikunjungi masyarakat sekitar. Lantaran banyak yang berkunjung, warga berinisiatif menata saung tersebut secara perlahan untuk memberikan kenyamanan kepada para pengunjung.


“Tadinya saung itu tempat musyawarah warga, terus dibuat lagi menjadi multifungsi yaitu sebagai kegiatan-kegiatan resmi keluarga,” ujar Irman Supriatman, Kepala Desa (Kades) Sukaratu, Kecamatan Cikeusal, kemarin.


Untuk menarik perhatian, warga bersama kades mulai menambah fasilitas lain di lahan sekitar 4 hektar tersebut, berupa warung taman, taman baca, dan jembatan cinta. Selain itu, para pengunjung disuguhkan bunga-bunga yang indah. “Awalnya saung biasa, tapi karena banyak yang berkunjung akhirnya kita jadikan destinasi wisata. Kalau lahannya miliki warga di sini,” katanya.


Melihat potensi yang terus membaik, warga bersama pegawai desa akhirnya serius menjadikan Desa Sukaratu menjadi desa wisata. Tujuannya tidak lain, agar lebih banyak lagi masyarakat yang berkunjung dan berwisata. “Waktu itu pembangunannya setelah panen, kita targetkan sebelum puasa sudah selesai, Alhamdulillah tercapai, dan sekarang sudah diresmikan,” tuturnya.


Irman menyadari, untuk membangun desa wisata diperlukan biaya yang cukup besar, sehingga Irman terus bermusyawarah dengan warga untuk mencari solusi terkait pembiayaan tersebut. “Untuk anggarannya menghabiskan sekitar Rp50 juta, 50 persen berasal dari swadaya masyarakat dan 50 persen lagi dari dana desa (DD),” ungkapnya.


Untuk lebih memajukan wisata tersebut, pihaknya berencana ke depan pengelolaan wisata masuk ke program Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk meningkatkan pendapatan desa. “Kalau sekarang masih gratis, nanti ke depan akan dipungut biaya masuk, tapi cukup terjangkau yaitu Rp2.000 buat pemeliharaan. Nanti jembatan cinta kita tata lagi biar semakin bagus,” ujarnya. (TANJUNG)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook