Masyarakat Beralih ke Pertalite

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Selasa, 10 Juli 2018 - 15:08:45 WIB   |  dibaca: 380 kali
Masyarakat Beralih ke Pertalite

BERALIH : Sejumlah kendaraan antre mengisi bahan bakar minyak di salah satu SPBU, Jalan Ahmad Yani, Kota Serang, kemarin.

SERANG- Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi jenis pertamax sangat dirasakan masyarakat, salah satunya ojek daring (online). Akibatnya mereka terpaksa harus menggunakan bahan bakar minyak subsidi jenis premium.
 
Dendi, salah seorang pengemudi ojek daring, mengatakan bahwa kenaikan harga Pertamax membuatnya mau tidak mau beralih ke BBM subsidi jenis premium. Hanya saja saat ini sangat susah menemukan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang menjual premium.“Cuma beberapa SPBU yang masih jual premium,” kata Dendi, Senin (9/7).

Karena premium juga langka dan tidak tersedia di semua SPBU, maka Dendi mengaku terpaksa menggunakan pertalite yang lebih mahal dari premium. Saat ini pertamax dijual dengan harga Rp 9.500 rupiah per liter, pertalite dijual 7.900 per liter, sementara premium dijual Rp 6.450 per liter.“Sebenarnya pertalite lebih boros dibanding dengan pertamax. Tapi mau gimana lagi,” katanya.

Dendi mengungkapkan bahwa meski harga pertalite lebih murah dibandingkan dengan pertamax namun penggunaan pertalite, menurutnya, kurang baik bagi mesin dan lebih boros. Sementara pertamax lebih irit dibandingkan BBM jenis lain yang lebih murah.“Karena lebih boros jadi uang yang harus dikeluarkan juga jadi lebih banyak,” tuturnya.

Ketua Bidang SPBU Himpunan Pengusaha Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Provinsi Banten Muhamad Amin mengatakan bahwa meski penjualan BBM masih terbilang stabil namun pasca kenaikan harga pertamax, penjualan pertalite memang dirasakan paling mendominasi dibandingkan dengan BBM jenis lain. Ia mencatat ada peningkatan penjulan BBM pertalite dibandingkan pertamax dan premium.


Meski demikian pengelola SPBU biasanya tidak meminta penambahan pasokan pertalite dari pertamina karena peningkatan penjualan tersebut biasanya tidak akan bertahan lama. Amin mengatakan naiknya pertamax dipicu merosotnya nilai tukar rupiah dan tingginya harga minyak mentah dunia.


Terkait terbatasnya ketersediaan premium di SPBU di Banten Amin mengatakan bahwa ada 75 SPBU di Banten, minus Tangerang, yang berada di bawah naungan Hiswana Migas Provinsi Banten. Dari 75 SPBU tersebut 30 persenya tidak menjual BBM subsidi jenis premium.“Kenapa? Karena pengelola SPBU berpikir penjualan pertalite lebih menguntungkan dibanding menjual BBM subsidi premium,” ujar Amin. (tohir)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook