Pedagang Banten Lama Minta Dimanusiakan

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Rabu, 11 Juli 2018 - 13:30:50 WIB   |  dibaca: 192 kali
Pedagang Banten Lama Minta Dimanusiakan

DIKRITIK : Lokasi kios yang sedang dibangun pemerintah daerah sebagai tempat relokasi para pedagang Banten Lama, Selasa (10/7). Pembangunan 500 kios di daerah ini dikritik pedagang karena tidak sesuai dengan harapan mereka.

SERANG- Pedagang di Banten Lama yang berada di dekat Surosowan merespons rencana relokasi (pemindahan) pedagang yang akan dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten. Mereka meminta relokasi dilakukan di tempat yang bisa dilalui peziarah, sehingga mereka tetap bisa berjualan.


Muhammad Matin Mahmud Somad Roji, salah seorang pedagang mengatakan bahwa para pedagang meminta dipindahkan di tempat yang layak. Meski tempat ini bersifat sementara namun mereka meminta ada pengaturan agar peziarah atau pengunjung Banten Lama bisa melewati dagangan mereka. “Kami minta dimanusiakan,” kata Roji, Selasa (10/7).


Roji mengungkapkan bahwa para pedagang di Banten Lama mempunyai keluarga dan tanggung jawab yang harus diperhatikan setiap hari. Apalagi pekerjaan utama mereka adalah berjualan. Sehingga bila tidak berjualan, mereka tidak akan bisa menafkahi keluarga.

Karena itu mereka menolak relokasi seperti yang terjadi pada pedagang di dekat kanal yang digusur dan saat ini tidak bisa berjualan dan nganggur karena lokasi relokasi sepi pengunjung. Bahkan para pedagang mengancam akan melakukan aksi demonstrasi bila aspirasi mereka tidak dipenuhi.“Sesuai kesepakatan di kantor kecamatan beberapa waktu lalu bersama dengan stakeholder semua sepakat pedagang dipindahkan ke Surosoawan dan diatur agar dikunjungi peziarah,” katanya.


Roji mengungkapkan bahwa keputusan pemerintah daerah kerap tidak konsisten dalam merelokasi pedagang. Bila sebelumnya pada pertemuan di kantor kecamatan pedagang akan ditempatkan di Surosowan maka pada pertemuan Senin (19/7), pedagang akan ditempatkan di terminal bus. Ia sendiri ragu apakah terminal mampu menampung jumlah pedagang seluruhnya. “Apakah mampu menampung semua pedagang? Saya sendiri enggak tahu,” katanya.


Roji mengungkapkan bahwa pada dasarnya pedagang akan mengikuti apa pun keputusan pemerintah daerah. Asalkan lokasi relokasi diatur sedemikian rupa agar untuk sementara sambil menunggu pembangunan kios permanen tempat berjualan mereka dilalui pengunjung. Ia mencontohkan penempatan pedagang seperti di Candi Borobudur adalah yang terbaik yang diinginkan pedagang.“Kalau kayak Borobudur jangankan siang, malam pun kami akan suka rela pindah,” katanya.


Roji mengungkapkan bahwa pedagang bukan ingin menghambat pekerjaan pemerintah daerah. Mereka sebagai pribudmi pun ingin melihat Banten Lama ditata agar indah, rapi, dan menarik. Hanya saja aspirasi pedagang juga semestinya didengar pemerintah daerah. Sebab bila para pedagang tidak berjualan maka siapakah yang akan bertanggung jawab pada keluarga mereka. “Kami juga membantu pemerintah daerah dengan membayar retribusi, ya parkir, kebersihan, dan lainnya,” ujarnya.


Damanhuri, pedagang lain mengatakan bahwa pedagang di tempat ziarah seperti Banten Lama tidak bisa disamakan dengan pedagang di pasar. Sebab peziarah datang ke Banten Lama bukan untuk membeli oleh-oleh. Mereka umumnya ingin berziarah, sehingga tidak akan mendatangi kios-kios tertentu.

Sementara membeli oleh-oleh hanya bila mereka melihat barang yang mereka sukai. Peziarah tidak seperti orang yang ingin ke pasar dan berniat membeli sesuatu bahkan berniat membeli ke toko tertentu. Karena itu pengaturan agar peziarah melewati kios pedagang sangat penting.“Urusan mereka beli atau enggak itu mah urusan rejeki masing-masing,” katanya.


Damanhuri juga mengkritisi pembangunan 500 kios yang sudah dibangun di lokasi baru yang akan dijadikan lokasi awal bus masuk ke Banten Lama. Sebab desain kios di sana sama seperti toko di pasar yang dibuat per blok, bukan seperti desain di Borobudur.

Bila pedagang dipaksakan harus berjualan di lokasi seperti itu maka sama saja membunuh secara perlahan para pedagang. Sebab tidak ada peziarah yang mau masuk ke dalam kios-kios dan hanya akan melewati kios di bagian depan.“Dari awal pedagang enggak neko-neko. Kami minta tempat jualan dilewati peziarah. Tapi sudah lima kali ganti kenadziran nasib kami tetep seperti ini ditempatin di lokasi yang enggak sesuai dengan keinginan kami,” tuturnya. (tohir)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook