Baksos Cuci Mukena dari Musala ke Musala

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Rabu, 11 Juli 2018 - 13:55:11 WIB   |  dibaca: 119 kali
Baksos Cuci Mukena dari Musala ke Musala

BERBAGI : Anggota Komunitas The Young membagikan nasi bungkus kepada anak-anak pemulung di kawasan CIceri, Kota Serang, beberpa waktu lalu.

KOTA SERANG - Anak muda selalu punya cara untuk berekspresi. Kumpulan anak muda yang tergabung dalam komunitas The Young pun demikian. Mereka berekspresi dengan menggelar bakti sosial (baksos) cuci mukena dan sarung dari musala ke musala.

Secara tampilan mereka nampak seperti pada anak muda lainnya. Selayaknya, anak usia 20 hingga 25 tahun. Yang laki-laki berpenampilan kasual, kemeja tangan panjang dipadupadan dengan celana jins. Tapi ada juga yang gemar menggunakan baju koko.


Untuk perempuannya, mereka tampak anggun dengan hijab yang membalut kepalanya hingga ke bawah menutupi bagian dada. Perkataan mereka pun anggun khas kaum hawa. Perkataannya selalu sopan, kerap melontarkan kata maaf jika mereka menyinggung masalah pribadi lawan bicara.


Di balik penampilan biasanya, mereka justru memiliki kegiatan yang tak biasa. Mereka selalu bergerak satu komando dengan panji The Young, komunitas yang baru berdiri pada awal 2018 ini. Salah seorang anggota The Young, Zaky Farida menceritakan, The Young terbentuk tanpa direncanakan. Awal pertemuan ke-16 anggota komunitas itu terjadi dalam sebuah grup diskusi. Dari situ, salah satu anggota bercerita tentang tempat tinggal anak-anak pengamen di Kawasan Ciceri, Kota Serang.


Kondisi rumah anak pengamen yang kumuh tanpa jendela dan penuh dengan atap yang bocor mengunggah hati mereka. Anak-anak muda itu pun akhirnya sepakat untuk menggalang bantuan dengan mengumpulkan pakaian masih layak pakai dan perlengkapan tidur lainnya.

Baksos itu rupanya memberikan kepuasan bagi mereka yang lantas sepakat untuk terus melakukannya. Karena semakin kompak, mereka pun membentuk sebuah komunitas dengan nama The Young.Nama komunitas itu terbesit begitu saja. Namun, nama itu muncul hanya berdasarkan rentang usia para anggotanya di kisaran 20 hingga 25 tahun.

Diungkapkan wanita kelahiran 1993 ini, setelah The Young terbentuk kegiatan baksos semakin rutin digelar. Bentuknya pun beragam, tidak hanya mengumpulkan pakaian bekas layak pakai tapi juga turun ke jalan membagikan nasi bungkus kepada fakir miskin dan jompo.


Penggalangan dana pun pernah dilakukan untuk membantu dua bocah di Kabupaten Pandeglang bernama Yogi dan Tomi. Keduanya terkena musibah yang berbeda, Yogi tersengat arus listrik tegangan tinggi yang mengakibatkan satu tangannya diamputasi. Sedangkan Tomi yang menjadi ledakan tabung gas dengan luka bakar di sekujur tubuhnya.


Meski mereka memiliki kesibukan masing-masing, dari mahasiswa, karyawan hingga wiraswasta, kegiatan The Young tetap berjalan. Jiwa sosial mereka memang sudah lekat. Suatu ketika, anggota The Young perempuan sedang menghadiri pengajian di Masjid Al Istiqomah, tepat di belakang Hotel Le Dian, Kota Serang. Mereka merasa miris dengan fasilitas mukena dan sarung di sana yang terlihat kurang terawat.


Tanpa di komando mereka langsung berinisiatif mengambil semua mukena dan sarung di sana ke toilet masjid untuk dicuci. “Kami juga merasa kurang nyaman kalau mukena seperti itu. Makannya kami bersihkan. Enggak mikir apa-apa sih, kami spontan saja seperti itu,” ujar wanita penjual seblak ini.


Banyak cerita menarik saat mereka mencuci mukena dan sarung. Sudah bisa dibayangkan, seperti apa kondisi mukena dan sarungnya bukan? Fasilitas umum tentunya dipakai siapapun dengan perlakuakn yang berbeda. Karena dipakai bergiliran tentu kotoran sudah terakumulasi yang tentunya selain noda, juga akan mengeluarkan bau tak sedap.

Namanya manusia, awalnya mereka cukup terganggu dengan itu. Kedua lubang hidung sempat ditutup rapat sebelum mukena dan sarung dibilas dengan air. Sekali lagi, karena tekad mereka sudah bulat akhirnya bau tersebut tak dihiraukannya.

Tangan lembut mereka tanpa ampun membersihkan tiap noda mukena dan sarung. Otot mereka dengan kuat memeras mukena dan sarung sebelum dijemur. Sinar matahari pun tak mampu mengalahkan mereka saat merapikan setelah kering dan selanjutnya dilipat serta disusun ke lemari musala.  

Mereka tak mengharap imbalan. Yang mereka inginkan hanya mukena dan sarung itu bisa memberikan rasa nyaman bagi siapapun yang memakainya. Kepuasan batin kembali dirasakan mereka. Lagi-lagi mereka melakukan hal serupa saat menghadiri pengajian di Musala Alqaromah di kawasan Royal, Kota Serang. Bagi mereka, bakti sosial tak melulu soal barang bernilai. Baksos bisa juga diberikan dengan sumbangan tenaga yang hasilnya bisa dirasakan manfaatnya bagi orang lain.

Berdasarkan hal itu, mereka berencana untuk mencuci semua mukena dan sarung di masjid atau musala yang menjadi tempat pengajian mereka ke depannya. Selain masjid dan musala lokasi pengajian, mereka juga sudah menginventarisasi tempat ibadah yang sering disinggahi musafir.


Pertimbangan lainnya, masjid atau musala yang menjadi sasaran kegiatan cuci mukena dan sarung adalah masjid di pinggir jalan. Tempat ibadah itu rentan terdapat mukena dan sarung yang kotor karena intensitas lalu lintas kendaraan yang padat.

Karena sekarang kegiatan terencana, ke depan aksi mereka tidak lagi mengandalkan alat secukupnya. Untuk kali ini, mereka sudah bersiap. The Young sudah berbagi tugas untuk siapa yang membawa deterjen, pewangi hingga sikat pakaian.

Pepatah mengatakan, sifat dan kelakuan dipengaruhi oleh lingkungan. The Young adalah contoh lingkungan yang baik sehingga setiap individunya bisa konsisten menjaga jiwa sosialnya. (JERMAINE A TIRTADEWA)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook