PLTGU Rugi Rp 7 Miliar per Hari

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Rabu, 11 Juli 2018 - 14:00:00 WIB   |  dibaca: 61 kali
PLTGU Rugi Rp 7 Miliar per Hari

PATROLI : Petugas melakukan patroli di sekitar lokasi bocornya pipa gas di sekitar Perairan Pulau Panjang, kemarin.

CILEGON - Penyebab dan dampak kerusakan lingkungan akibat bocornya pipa gas di bawah laut Perairan Bojonegara, Kabupaten Serang milik PT China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) masih dalam penyelidikan. Akibat kebocoran itu, Pembangkit Listrik Tenaga Geotermal dan Uap (PLTGU) yang menggunakan gas untuk menggerakkan turbin II pembangkit listriknya mengalami kerugian Rp 7 miliar per hari.


General Manajer (GM) Unit Jasa Pembangkit (UJP) PLTGU Cilegon, Irwan Edi Syahputra, mengatakan, akibat bocornya pipa gas di bawah laut itu, suplai gas dari CNOOC ke PLTGU Suralaya berhenti.


Pihaknya mengaku kehilangan pasokan 350 megawatt per hari akibat tidak beroperaisnya turbin yang digerakkan menggunakan gas dari CNOOC tersebut.“Tapi, kita juga di-back up sama PLTU Labuan sama Interbus Transformator atau jalur Jawa-Bali,” jelas Irwan kepada wartawan dalam konfrensi pers di kantornya, UJP PLTGU Cilegon, Salira, Kecamatan Puloampel, Kabupaten Serang, Selasa (10/7) kemarin.

Diketahui, 1 megawatt setara dengan 1.000.000 watt atau 1.000 kilowatt.Menurut Irwan, PLTGU mengalami kerugian sekitar Rp 7 miliar setiap hari akibat tidak bisa memasok listrik ke PLN secara maksimal. “Diperkirakan perbaikan tujuh hari, jadi Rp 7 miliar itu dikali saja tujuh hari, itu kerugian PLTGU,” ucap Irwan.


Meski demikian, Irwan mengakui, tidak berfungsinya Turbin II akibat kebocoran pipa gas itu tidak akan mengganggu listrik rumah tangga. Karena, produksi listrik dari Turbin II itu disalurkan ke PLN mayoritas untuk industri di Banten Bagian Barat.

“Turbin satunya di kita juga masih jalan dan bisa memasok listrik, jikapun masih kurang, kita akan meminta bantuan ke PLTU Suralaya yang menyuplai Jawa-Bali. Kita sudah terkoneksi dengan saluran Jawa-Bali juga, tinggal diatur dengan travo,” ungkapnya.

Irwan menjelaskan, pipa bawah laut yang bocor merupakan penyuplai gas bumi ke PLTGU Cilegon. “Gas dari CNOOC untuk menggerakkan turbin di PLTGU sebagai proses produksi listrik untuk pasokan Banten bagian barat mulai dari Serang Barat sampai Labuhan, Tanjung Lesung,” ungkapnya.

Terpisah, Operator PT CNOOC, Joko Agussema, mengatakan, perbaikan akan segera dimulai setelah adanya penyelaman. Saat ini, pihaknya masih mengurus perizinan untuk penyelaman. “Kalau pemeriksaan kerusakaan yang seharusnya berwenang menjelaskan itu dari SKK Migas, kita hanya di lapangan saja,” tuturnya.

Joko memastikan, tumpahan gas dari pipa yang bocor itu tidak akan berpengaruh terhadap biota laut.Diketahui, kebocoran pipa gas di sekitar Perairan Bojonegara dan Pulau Panjang berada pada kedalaman sekitar 20 meter. Pipa tersebut sepanjang 62 kilometer dari perairan Kepulauan Seribu sampai ke Salira, Kabupaten Serang. Pipa tersebut memunyai ketebalan 13,4 mili meter. Suplai gas yang dialirkan melalui pipa tersebut 50 MMSCFD dengan tekanan 770 psi.

Dalam perkembangan yang sama, Direktur Kepolisian Perairtan (Dipolair) Polda Banten, Kombes Pol Nunung Syaifudin mengaku, masih mendalami terkait penyebab kebocoroan pipa gas tersebut. Pihaknya sudah menerjunkan tim penyelaman. “Tim yang turun dari kita dan dari CNOOC,” jelasnya.


Pipa gas yang bocor tersebut diduga akibat jangkar milik kapal VM Lumosa Raya (bukan berbendera Jepang seperti sebelumnya ditulis).Terkait hasil pemeriksaan terhadap awak kapal tersebut, Nunung mengaku, belum bisa memublikasi hasil pemeriksaan tersebut. “Kami masih mengumpulkan data, masih terus investigasi,” tuturnya.


Wakapolda Banten, Kombes Pol Tomex Kurniawan, juga mengatakan, pihaknya tidak akan terburu-buru menetapkan tersangka dalam kasus kebocoran gas itu. Saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap kru kapal yang diduga menjadi penyebab kebocoran tersebut."Kita sedang melakukan pemeriksaan dulu ya. Seperti apa tingkat vitalitas akibat kebocoran pipa itu," ungkapnya.

Menurut Tomex, dalam melakukan investigasi kebocoran gas tersebut, Polda Banten sudah berkoordinasi dengan Kementerian ESDM maupun PT CNOOC International."Kita koordinasi dengan kementerian ESDM dan pada saat itu juga perusahaan menghentikan alirannya gasnya. Teknisi dari ESDM maupun perusahaan sudah melakukan penangan kerusakan tersebut," ujarnya.

Selain itu, Tomex menambahkan, pihaknya juga bekerjasama dengan Kantor Syahbandar Otoritas Pelabuhan (KSOP) terkait proses buang jangkar KM MV Lumosos Raya di lokasi kejadian."Nanti kita lihat (kesalahan prosedur). Karena jangkar, berlabuh kan sudah ada yang mengatur, dalam hal ini KSOP," tambahnya.


Disinggung soal dampak kebocoran gas terhadap ekosistem di laut, Tomex menegaskan tim dari Polda, perusahaan maupun Kementerian ESDM akan melakukan penelitian. "Berkaitan dengan gas itu kan air, kecuali itu memang berdampak kepada ikan.

Sementara tim dengan Kementerian ESDM akan melakukan uji sebagaimana dampaknya itu terhadap laut maupun masyarakat. Parimeter juga masih kita pasang, kita antisipasi, dan masyarakat tidak boleh mendekat sampai detail dampak ke masyarakat kita ketahui," tegasnya.(gillang/ darjat)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook