DPK Sosialisasikan Literasi Pembaca Alquran

nurul roudhoh   |   Pendidikan  |   Jumat, 13 Juli 2018 - 13:15:33 WIB   |  dibaca: 4578 kali
DPK Sosialisasikan Literasi Pembaca Alquran

LITERASI : syibil Syarjaya, Guru Besar Hukum Islam UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten sedang memberikan kajian tentang literasi Alquran, yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten di Kabupaten Serang, kemarin.

SERANG – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Banten menggelar sosialisasi literasi pembaca Alquran. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat, mengenai pentingnya membaca dan memahami serta mengamalkan Alquran sebagai sumber pelajaran dalam kehidupan.


Syibli Syarjaya, Guru Besar Hukum Islam UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten mengatakan, melihat hasil penelitian Puslitbang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama Republik Indonesia, tentang indek literasi Alquran siswa pada Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 2016, ditemukan bahwa Indek Literasi siswa/i SMA di tingkat Nasional berada dalam katagori sedang (2,44 dari skala 5).


“Aspek membaca berada pada skala dan katagori sedang yaitu  2,59. Aspek menulis berada pada skala dan katagori sedang yaitu 2,22. Aspek mengartikan berada pada skala dan katagori rendah yaitu 1,87. Aspek menghafal juz ke 30, berada pada skala dan katagori tinggi yaitu 3,-3. Penelitian dilakukan dengan mengambil sample sebanyak 3.710,069 siswa SMA negeri/swasta, dari populasi sekitar 7 juta siswa SMA negeri/swasta,” katanya, kemarin.


Menurut Syibli, faktor yang melatarbelakangi lemahnya literasi Alquran adalah kehidupan siswa sebelum memasuki jenjang pendidikan, kondisi dan kehidupan keluarga serta lingkungannya, ketersediaan tenaga guru yang berkualitas yang menguasai metodologi serta sarana dan prasarana yang masih kurang memadai.


“Sementara, indeks melek huruf Alquran di Provinsi Banten, menurut Martin Van Brainessen, masyarakat Banten terkenal sangat agamis dan relijius, dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. Hal ini ditandai dengan kentalnya pengaruh Islam pada masyarakat Banten. Pada abad ke 16, Banten berada dalam wilayah kerajaan Hindu Pajajaran, kemudian memisahkan diri menjadi kerajaan tersendiri menjadi kesultanan Islam," katanya.


Lanjutnya, Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Provinsi Banten telah melakukan survey melek huruf Alquran di Provinsi Banten, yang diselenggarakan pada Bulan Juni 2017, dengan mengambil sampel sebanyak 1.505 responden dari total penduduk muslim Banten 10.891.952 jiwa, yang tersebar di 155 Desa/Kelurahan, 50 Kecamatan dan, 4 Kabupaten 4 Kota.


“Tujuan survey untuk mengetahui seberapa jauh masyarakat Banten dalam mengenali huruf Alquran, dan kemampuannya dalam membaca Alquran. Hasilnya, masih ada 12,40 persen yang tidak bisa membaca Alquran dan 87,60 persen bisa atau mampu,” ungkapnya.


Ditempat yang sama, Bambang Q Anees, Akademisi UIN Bandung memaparkan, Banten pada masa lalu adalah bentangan daerah dengan peradaban Alquran, peradaban santri. Ini juga dipaparkan oleh Achmad Djajadiningrat, kakak Hoesein Djajadiningrat, tentang kaum santri di Banten abad 19.


“Semua santri yang telah pandai membaca dan mengartikan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab, akan tidak puas dengan kitab-kitab itu saja. Melainkan pengetahuan itu digunakan untuk mencari ilmu sedalam-dalamnya dari kitab-kitab lain. Umumnya karena ia bercita-cita menjadi guru di kemudian hari,” tuturnya.


Sementara, kata Helmi Faizi Bahrul Ulumi, Peneliti Bantenologi mengatakan, cukup sulit memisahkan Islam dengan kehidupan orang-orang Banten. "Dapat dikatakan bahwa Islam mewarnai berbagai aspek kehidupannya, tidak saja dari aspek keyakinan dan pengamalan ritual saja, tetapi meresap kedalam tradisi," katanya. (mg-basyar)

 

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook